Khudori
Pengamat Ekonomi Pertanian
PERTANYAAN datang bertubi-tubi. Dari sejumlah wartawan. Isinya hampir seragam: kenapa harga beras terus naik? Mereka menyodorkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Pada pekan pertama Agustus 2026, harga rerata nasional berbagai jenis beras di tingkat konsumen sebesar Rp 15.545 per kg, naik 0,16% dibandingkan dengan Juli 2026. Harga ini di atas rerata harga eceran tertinggi (HET) beras medium dan premium di zona I yang masing-masing Rp 13.500 per kg dan Rp 14.900 per kg.
Pada saat merilis data besaran inflasi bulanan, 3 Agustus 2026, BPS mencatat dari Juni ke Juli 2026 harga beras di penggilingan (produsen), grosir (pasar), dan eceran (konsumen) berturut-turut naik 0,94%, 0,41%, dan 0,49%. Ini menandakan dari Januari hingga Juli 2026 harga beras di pengilingan, grosir, dan eceran terus naik. Tujuh bulan berturut-turut. Tidak ada jeda. Persentase kenaikan tiap bulan tidak besar. Kenapa? Karena harga beras sudah berada pada tingkat tinggi.
Secara tahunan, harga beras di penggilingan naik 5,11%, di grosir 4,11%, dan di eceran 3,10%. Catatannya bukan di persentase kenaikan yang kecil. Tapi kenaikan tujuh bulan berturut-turut, termasuk pada saat panen raya Februari-Mei 2026, tentu ada “sesuatu”. Pada saat panen raya, produksi beras melimpah. Ketika permintaan tetap, harga terdorong turun dan inflasi jinak atau malah menjadi penyebab deflasi. Kali ini tidak terjadi. Bahkan, tujuh bulan beruntun beras jadi penyumbang inflasi.
Memang tidak selalu menjadi penyumbang inflasi utama, tapi senantiasa menyumbang inflasi bulanan tujuh bulan berturut-turut. Tingkat inflasi tahunan beras pada Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, dan Juli 2026 masing-masing 3,44%, 3,61%, 3,71%, 4,36%, 4,55%, 3,98%, dan 3,1%.
Pertanyaannya kemudian, mengapa ini terjadi? Apa penyebabnya? Bukankah stok beras di gudang Bulog per 9 Agustus 2026 telah mencapai 5,25 juta ton? Bukankah sejak 2025 Indonesia kembali swasembada?
Pertama, harga gabah terus naik. Amat sulit mendapatkan gabah kering panen (GKP) di petani sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500 per kg untuk semua kualitas. Sejak kebijakan pembelian gabah sembarang kualitas ini diberlakukan, Februari 2025, harga gabah tidak pernah jatuh di bawah HPP. Saat ini di sejumlah daerah harga di petani bahkan melampaui Rp8.000 per kg. Gabah adalah bahan baku beras. Ketika harga bahan baku naik, harga beras juga akan ikut naik.
Kedua, produksi mulai melandai sejak Juni 2026. Produksi yang menurun adalah siklus tahunan. Karena memasuki musim gadu, yakni Juni-September. Merujuk data BPS, produksi gabah kering giling (GKG) pada Juni, Juli, Agustus, dan September 2026 berturut-turut 4,29 juta ton, 4,79 juta ton, 5,63 juta ton, dan 5,83 juta ton. Ada kecenderungan naik, tapi produksi ini lebih rendah dari puncak panen raya di Maret dan April 2026 yang masing-masing mencapai 8,71 juta ton dan 7,63 juta ton GKG.
Ketiga, kompetisi memperebutkan gabah di pasar semakin sengit. Ini terjadi, seperti diulas pada tulisan “Kenapa Bulog Harus Menghentikan Penyerapan Gabah/Beras Segera?”, 12 Agustus 2026, karena Bulog masih terus mengejar pencapaian target pengadaan setara 4 juta ton beras. Per 9 Agustus 2026, baru tercapai 3,621 juta ton beras. Tanpa Bulog masuk ke pasar, kompetisi memperebutkan gabah sudah sengit.
Kenapa? Karena kemampuan produksi gabah saat ini hanya seperempat kapasitas produksi penggilingan padi. Ketika Bulog masuk ke pasar, menjadi pembeli awal dalam jumlah besar kompetisi semakin tidak keruan. Sejumlah penggilingan dan produsen beras mengurangi produksi atau berhenti berproduksi. Karena mereka tidak bisa berjualan lagi. Kalau menjual di atas harga eceran tertinggi (HET), akan berurusan dengan Satgas Pangan Polri. Jika menjual sesuai HET akan merugi. Untuk menyiasati impitan HET, sebagian produsen memproduksi beras khusus, yakni beras fortifikasi.
Beras fortifikasi adalah beras yang diperkaya vitamin dan mineral tertentu. Karena nilai tambah ini harganya lebih mahal dari beras medium dan premium. Akan tetapi, tidak banyak penggilingan dan produsen beras yang memiliki kemewahan bisa menyiasati pasar dengan memproduksi beras fortifikasi. Oleh karena itu, hemat saya, jumlah beras fortifikasi tidak signifikan dan tidak tepat dijadikan kambing hitam kenaikan harga beras saat ini. Hari-hari ini di retail modern memang beras fortifikasi yang dijual, sementara beras premium sulit didapatkan. Tapi itu tidak identik semua penggilingan dan produsen beras premium beralih ke beras fortifikasi.
Keempat, penetrasi operasi pasar beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) kurang nendang. Dari Januari hingga Juli 2026, merujuk data Badan Pangan Nasional (Bapanas), setidaknya 1,4 juta ton beras telah dialirkan ke pasar. Baik melalui operasi pasar SPHP maupun bantuan pangan beras. Secara khusus, merujuk data Bulog, dari Maret hingga 9 Agustus 2026 telah dialirkan 610.932 ton beras SPHP atau 3.794 ton per hari. Kalau harga beras di pasar tetap naik, kemungkinannya ada tiga: jumlah aliran kurang besar, Bulog “salah obat”, dan ada isu kualitas.
Harga beras yang terus naik menandakan pasar “lapar beras”. Wilayah-wilayah dengan harga beras tinggi, seperti mayoritas daerah zona II dan III di timur Indonesia, bisa menjadi sasaran. Wilayah tersebut bisa di-“bom” beras SPHP. Berapa pun kebutuhan, beras dipenuhi. Intinya, pasar harus dijenuhi. Jika itu dilakukan, harga akan turun, setidaknya tertahan tidak naik. Akan tetapi, dengan mekanisme operasi pasar yang ketat dan menyasar konsumen akhir, hemat saya, sulit menjenuhi pasar. Apalagi, ada kesan, beras sengaja ditumpuk di gudang guna mempertahankan stok.
Beras SPHP adalah beras medium. Di pasar ada aneka macam beras. Kalau Anda membeli beras di warung kelontong sebelah rumah, ada 3-4 jenis beras. Implikasinya, operasi pasar menggunakan satu jenis beras, beras medium, akan sulit memengaruhi semua jenis beras. “Salah obat” ini bukan salah Bulog. Desain kebijakan sejak tahun 1970-an hingga saat ini mengisi cadangan beras pemerintah (CBP) dengan beras bermutu rendah: beras medium. Jika ada isu kualitas CBP, efektivitas operasi pasar kian kecil.
Di luar itu, kenaikan harga beras juga didorong oleh kenaikan harga kemasan plastik dan harga bahan bakar minyak. Sejak perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, 28 Februari 2026, harga kemasan plastik naik hampir dua kali lipat. Kenaikan harga BBM juga memengaruhi aktivitas ekonomi, termasuk usahatani padi dan turunannya. Berbagai faktor ini secara bersamaan berkontribusi kepada kenaikan harga beras.
Ke depan, kenaikan harga beras dan beras menyumbang inflasi masih berpeluang terjadi. Pada Agustus ini, merujuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), adalah puncak kemarau. Ditambah El Nino intensitas kuat yang diperkirakan berlangsung hingga April 2027, kemarau akan semakin kering. Sentra-sentra produksi padi yang tidak dijamin air irigasi ada potensi terganggu dalam produksi. Ini mesti dipetakan dan disiapkan mitigasinya. Agar petani tidak mengalami gagal panen.
Untuk menurunkan harga beras dan menjinakkan inflasi beras, operasi pasar beras SPHP harus semakin intensif dilakukan. Kalau keukeuh mempertahankan mekanisme seperti saat ini, tantangannya adalah memperluas saluran. Pilihan lain adalah mengubah mekanisme operasi pasar dengan menggunakan kekuatan integrasi pasar. Bantuan pangan beras tiga bulan, Juli hingga September 2026, harus dieksekusi cepat. Sembari berjalan, apa yang terjadi bisa dijadikan bahan evaluasi. Semoga saja harga beras bisa jinak.