160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html

Mematangkan Peraturan PLTN untuk Mendukung Penyediaan Listrik Nasional

Reaktor nuklir untuk menghasilkan energi listrik. Ilustrasi: corebusiness.co.id
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Indonesia tengah berupaya mengembangkan transisi energi dari energi baru terbarukan (EBT) untuk mendukung ketersediaan listrik. Porsi energi sudah dituangkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, termasuk jatah penyediaan energi listrik berbasis nuklir.

Ekspresi bicara Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, terlihat serius saat menyampaikan sambutan dan arahan dalam pembukaan Electricity Connect 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (22/9/2026).

Bahlil mengatakan bahwa kondisi geopolitik saat ini masih dalam kondisi tidak menentu. Hampir semua negara, dengan melihat perkembangan seperti sekarang ini, mempunyai rencana untuk memproteksi negara mereka, khususnya dari sektor energi.

“Ini kita enggak bisa meramalkan, dan sebagai negara yang berdaulat, maka pasti tidak ingin menggantungkan masa depan energinya kepada negara yang lain,” kata Bahlil.

Bahlil menyebut populasi masyarakat Indonesia hampir 300 juta jiwa, negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China, India, Amerika Serikat (AS). Kondisi ini memberikan gambaran bahwa kebutuhan akan energi selalu tumbuh bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi dan permintaan pasar luar negeri.

Indonesia, kata Bahlil, mempunyai wilayah yang sangat luas, di antaranya terdiri dari 17 ribu lebih pulau. Dari 17 ribu lebih pulau tersebut, sekitar 10 ribu desa belum dijangkau listrik.

“Sekalipun rasio elektrifikasi kita sudah 99 persen, tapi karena jumlah desa di Indonesia hampir 80 ribuan, jadi memang masih banyak sekali yang belum dijangkau listrik,” ungkapnya.

Di aspek lain, Presiden Prabowo memerintahkan kepada Kementerian ESDM untuk mewujudkan swasembada energi. Salah satu motor daripada sasembada energi adalah listrik.

Bahlil menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia sudah melakukan konsensus Paris Agreement untuk melakukan Net Zero Emission (NZE), yang ditargetkan pada rentang 2050 hingga 2060. Namun, untuk melakukan transisi energi dengan EBT membutuhkan biaya cukup besar.

“Di dalam RUPTL 2025-2034, pemerintah telah memprogramkan pengadaan listrik sebanyak 69,5 gigawatt (GW) yang harus kita bangun untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik. Dari 69,5 GW itu, sebanyak 70 persen harus memakai bauran EBT. Dan untuk jaringannya kurang lebih sekitar 48 ribu kilometer sirkuit. Itu cukup besar investasinya, antara 2,6 hingga 2,7 triliun rupiah,” tuturnya.

Angka investasi tersebut, belum termasuk untuk program penambahan pembangkit listrik dari tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas mencapai 100 GW dalam RUPTL.

Terpisah, Ketua Badan Keahlian Teknik Nuklir, Persatuan Insinyur Indonesia (BKTN-PII), Khoirul Huda, menyampaikan pandangan, untuk mendukung NZE, Indonesia memerlukan sumber energi yang bersih, andal, dan berkelanjutan. Di tengah berbagai pilihan energi, PLTN menjadi salah satu opsi strategis yang layak untuk dikaji secara terbuka.

Seperti diketahui, pemerintah menargetkan PLTN pertama beroperasi pada periode 2032–2034. Rencananya, target awal dalam RUPTL 2025–2034 adalah 500 megawatt (MW) kapasitas PLTN, yang akan mulai dikembangkan pada 2032 di sistem kelistrikan Sumatera dan Kalimantan.

Khoirul mengungkapkan beberapa fakta terkait dengan nuklir. Nuklir, ungkapnya, sudah digunakan di dunia ini lebih dari 70 tahun. Energi nuklir tidak hanya digunakan untuk pembangkit listrik saja, tetapi sudah digunakan di bidang kesehatan, industri, pertanian, pangan, penelitian, hingga untuk aktivitas eksplorasi tambang.

Menurutnya, pengambilan keputusan tentang penggunaan nuklir harus diambil secara cepat dan tepat, tapi tidak buru-buru. Karena setiap waktu itu tantangan itu akan berubah.

“Jika tidak diambil keputusan pada saat yang tepat, nanti tantangannya akan berubah, kita akan repot lagi dengan tantangan-tantangan yang berikutnya. Karena itu, begitu PLTN pertama dibangun di Indonesia harus betul-betul menerapkan standardisasi keselamatan dan keamanan,” ujar Khoirul dalam Taklshow Berani Bicara Nuklir di UGM, baru-baru ini.

Pages: 1 2
750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN