160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Wagub Rano Karno Dikabarkan akan Menuliskan Kata Sambutan di Buku Sastra Betawi 100 Tahun

Wakil Gubernur Pemprov DKI Jakarta, Rano Karno. Foto: Ist
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, Agustus ini direncanakan menerima perwakilan Penerbit Padasan untuk menjajaki kemungkinan dirinya mengapresiasi buku fenomenal: Kembang Goyang, dengan memberi kata sambutan di dalam buku.

Ahmad Syubbanuddin Alwy (1962-2015) mengutarakan kekagumannya tatkala bertemu langsung dengan Chairil Gibran Ramadhan (CGR) dalam satu forum Temu Sastra Indonesia di Jakarta, tahun 2012. Ketika itu, keduanya hadir sebagai pembicara dalam forum Temu Sastra Indonesia. Budayawan Cirebon tersebut secara gamblang mengungkap sosok CGR di hadapan tamu undangan yang hadir di forum tersebut.

“Baru pada Temu Sastra Indonesia 2012 di Jakarta saya bertemu Encang CGR. Dia sastrawan nasional yang tidak hanya menulis cerpen sejarah dan budaya tentang Betawi, Batavia, dan Jakarta, namun juga puisi dan esai dalam latar yang sama. Saya terhentak mengetahui ada orang Betawi yang tekun dan berdedikasi terhadap lokalitas sastra seperti dia,” tutur Syubbanuddin.

Menurutnya, rancangan buku puisi yang digarap CGR sangat dalam, kuat, dan berisi, seperti Kembang Goyang: Orang Betawi Menulis Kampungnya ~ Sketsa, Puisi & Prosa ~ 1900-2000 (Padasan, 2011).

“Saya akan mencalonkan dia sebagai penerima Anugrah Budaya dari Pemprov Jawa Barat, karena dalam Perda No. 5 Tahun 2003, orang Betawi, Cirebon, dan Sunda, diakui sebagai suku asli di wilayah Jawa Barat. Mengherankan bila karya-karya Encang CGR yang mengangkat kampung halaman dalam sastra tulis dan bergema di kancah nasional, tidak dilirik Pemprov DKI Jakarta. Apa sesungguhnya yang terjadi?” ucap Syubanuddin sekaligus bertanya keengganan Pemprov DKI Jakarta untuk mengapresiasi karya-karya sastra yang dilahirkan dari seorang sastrawan Betawi seperti CGR.

Kembang Goyang penyusunannya digagas CGR, budayawan Betawi asal Pondok Pinang. Berisi karya M. Balfas, Firman Muntaco, SM. Ardan, N. Susy Aminah Aziz, Aba Mardjani, dan lainnya.

“Para sastrawan Betawi zaman rada kemaren menjadikan Kembang Goyang sebagai tema roadshow “Ngobrol Saptu” selama Januari 2016 di Perpustakaan Taman Fatahillah (Kota Tua Jakarta), Sanggar Betawi Firman Muntaco (Condet), dan Rumah Seni Asnur (Depok), sebagai acara swadaya para pecinta sejarah-budaya Betawi, dan Betawi Center Foundation,” ujar CGR.

Tak hanya itu, sejak terbit hingga habisnya edisi pertama, Kembang Goyang diminati wartawan, seniman, budayawan, sejarawan, ahli bahasa, akademisi, hingga pembaca sastra Indonesia. Buku ini berisi jalan pintas untuk mengetahui ragam ejaan dan ragam bahasa yang pernah ada di Indonesia, ragam pilihan tema, sejarah sosial di Batavia-Jakarta, dan mencatat para tokoh sastra berdarah Betawi selama 100 tahun.

Pakar Bahasa dan Dosen FIB UI, Dr. Ibnu Wahyudi, dalam Kata Pengantar untuk Kembang Goyang menulis: “Antologi ini mempunyai nilai lebih pada sisi historisitasnya, sebab sebagian dimensi kebetawian yang pernah ada sepanjang kira-kira satu abad terpampang di sini. Ini suatu komitmen dan langkah intelektual yang nyata.”

Ironisnya, sejak masa kepemimpinan Fauzi Bowo hingga Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta, Kembang Goyang tidak pernah diapresiasi secara pribadi maupun secara kelembagaan. Termasuk ketika pada pembukaan Kongres Kebudayaan Betawi dibagikan secara cuma-cuma kepada Ari Budiman (Kadisparbud DKI Jakarta) dan enam tokoh Betawi: Margani Mustar, Effendy Yusuf, Eddy Nalapraya, Nahrowi Ramli (Ketua Bamus Betawi), Tatang Hidayat (Ketua LKB), dan Fauzi Bowo (Gubernur DKI Jakarta).

Bagaimana DKI Jakarta di masa kepemimpinan Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno?

CGR mendapat kabar bahwa Rano Karno, Agustus ini direncanakan menerima perwakilan Penerbit Padasan untuk menjajaki kemungkinan dirinya mengapresiasi buku fenomenal, Kembang Goyang dengan memberi kata sambutan di dalam buku.

Langkah Bang Doel ini bermula dari kabar tentang Penerbit Padasan yang tidak mendapat tanggapan ketika mengharapkan dukungan Betawi Academia untuk penerbitan edisi kedua Kembang Goyang pada Juni 2027 dalam menyambut HUT ke-500 Kota Jakarta. Rancangan baru berupa hardcover ukuran 14x21cm sudah disiapkan.

“Betawi Academia adalah forum silaturahim para guru besar, profesor, dan cendikiawan berdarah Betawi yang dideklarasikan pada 20 Mei 2025 dengan tujuan mulia: Memajukan masyarakat Betawi di bidang pendidikan, sosial, dan kebudayaan,” terang CGR.

Di antara lembaga-lembaga seperti Bamus Betawi, Lembaga Kebudayaan Betawi, dan Majelis Kaum Betawi, pilihan jatuh pada Betawi Academia karena menurut CGR memiliki visi-misi paling sesuai untuk kehadiran edisi kedua Kembang Goyang.

Sastrawan Betawi, Charil Gibran Ramadhan (batik coklat dan berambut gondrong) dalam sebuah Forum Sastra yang membahas budaya Betawi tahun 2011. Foto: dok. pribadi CGR.

CGR berpandangan, Betawi Academia dapat menjadi pendukung gerakan intelektual kaum Betawi, sehingga tidak selalu berkutat pada pagelaran acara panggung hiburan yang menghamburkan dana sangat banyak namun tidak menghasilkan jejak apapun kecuali sampah acara.

Sebelumnya, CGR juga mengetuk pintu masing-masing anggota Betawi Academia terkait gerakan “Jual Buku untuk Cetak Buku”: Menjual paket Sastra Indisch untuk mencetak buku “The Kapitan Cina of Batavia” karya Mona Lohanda pada Oktober 2026. Namun tanggapan yang diharapkan sama sekali tidak muncul. Tanggapan malah muncul dari Prof. Dr. Pudentia MPSS (Ketua Asosiasi Tradisi Lisan), Dr. Bondan Kanumoyoso (mantan Dekan FIB UI), Hendaru Tri Hanggoro (Pemred abad.id), Idrus F. Shahab (mantan wartawan senior Majalah Tempo), Yaprita Sirait SH, dan Prof. Dr. Edi Sukardi (Guru Besar FKIP UHAMKA). Keenam nama ini tidak ada yang berdarah Cina.

Gerakan ini dilakukan CGR karena sejak memegang hak penerbitan bukunya pada 2012 hingga enam tahun setelah Mona Lohanda, sejarawan berdarah Cina Benteng, meninggal pada 2020, tidak ada lembaga Tionghoa Indonesia, tokoh Cina kaya, dan bisnis-bisnis raksasa milik bangsa Cina yang bersedia menjadi sponsor.

Hal di atas tidak mengejutkan bila melihat fakta ini: “The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942: A History of Chinese Establishment in Colonial Society”, dicetak atas dukungan Ford Foundation milik Amerika (1996) dan KITLV milik Belanda (2001), “Growing Pains: The Chinese and The Dutch in Colonial Java 1890-1942”, dicetak atas dukungan Toyota Foundation milik Jepang (2002). Keduanya buku karya Ibu Mona Lohanda.

Kembali ke Bang Doel. Akankah dia meniru langkah Pemerintah Norwegia yang membeli judul buku paling edukatif milik penerbit kecil, untuk dibagikan ke perpustakaan-perpustakaan kampus, sekolah, kelurahan, kantor walikota, kedutaan besar?

Menanggapi kabar ini, CRG hanya berharap: Semoga Bang Doel melakukan dobrakan pada gerakan tokoh politik dan pejabat Indonesia, melalui gerakan cerdas dan intelek yang menjadikan namanya dikenang melalui karya buku. (Rif)

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN