160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id

Peran AI bagi Santri di Pesantren

AI Skills Director Microsoft Indonesia, Arief Suseno saat menjelaskan program Microsoft Elevate di acara AI Teaching Power Impact Forum. Foto: corebusiness.co.id/Syarif
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Seiring meluasnya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia pendidikan, kebutuhan untuk memperkuat literasi dan kesiapan AI bagi para pendidik semakin penting, termasuk di lingkungan pesantren dan institusi pendidikan Islam.

Dalam rangka mendukung kesiapan guru dan komunitas pendidikan di era AI, NU Care Global bersama Microsoft Indonesia menyelenggarakan AI Teaching Power Impact Forum di Kantor Microsoft Indonesia, Gedung Bursa Efek Indonesia Tower II, Lantai 18, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta, Senin, 29 Juni 2026.

Forum ini menyoroti dampak pemanfaatan AI dalam mendukung transformasi pendidikan yang inklusif, etis, dan berkelanjutan, khususnya di lingkungan pesantren dan ekosistem pendidikan Islam.

AI Skills Director Microsoft Indonesia, Arief Suseno mengatakan, AI Teaching Power merupakan program paling bungsu dari Microsoft Elevate, sebuah inisiatif pelatihan AI yang telah diluncurkan pada Desember 2024. Namun, pencapaiannya lebih dari 120 persen dari target yang telah ditetapkan.

750 x 100 PASANG IKLAN

“Capaian ini berkat kolaborasi lintas sektor dalam kemitraan Microsoft Elevate yang melibatkan peran aktif dari beberapa mitra, antara lain Kementerian Agama Republik Indonesia, Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia, NU Care Global by LAZISNU, Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU), dan komunitas pendidikan,” kata Arief.

Menurutnya, rasa keingintahuan para santri begitu antusias tatkala diperkenalkan teknologi AI dan perangkat pendukungnya. Ia juga mengapresiasi RMINU yang telah mengadopsi program Microsoft Elevate dengan cepat melalui Gerakan Pesantren Cakap AI.

“Kita mencoba mendobrak bahwa pesantren tidak boleh ketinggalan zaman, harus melek dengan teknologi. Semula, kami menghadirkan pembelajaran teknologi dasar, dan hanya sedikit pengenalan ke level mengengah, ternyata antusiasnya begitu tinggi,” ujarnya.

Berkat peran aktif NU Care, disebutkan Arief, hingga saat ini telah dilatih 58.968 santri dari 12.418 institusi pendidikan terdaftar, dan 92.052 sertifikasi yang telah dikeluarkan Microsoft Indonesia.

750 x 100 PASANG IKLAN

“Artinya, para peserta tidak hanya belajar ilmu dasar, tapi mereka ikut mengikuti pelatihan baik secara online maupun workshop secara offline, hingga mengikuti assessment. Setelah dinyatakan lulus, baru diberikan sertifikasi,” terangnya.

Staf Khusus Wakil Presiden RI, Achmad Adhitya, melalui video zoom menekankan pentingnya sumber daya manusia (SDM) Indonesia belajar teknologi baru supaya tidak ketinggalan dengan negara lain. Ia juga menyampaikan apresiasi program pengenalan teknologi AI yang dilaksanakan Microsoft Indonesia dan NU Care yang telah mencapai 58.968 santri. Menandakan banyak orang ingin belajar tentang AI.

“Saya berharap program ini terus dikembangkan dan bisa memberikan manfaat kepada banyak orang. Selain adanya pelatihan dari Microsoft Indonesia dan NU Care, kami berharap dalam program berikutnya masyarakat diberikan pemahaman tentang AI tidak hanya dari sisi teknologi, tapi juga etika pemanfaatan AI,” harapnya.

Informasi yang Bermanfaat bagi Santri

Sementara itu, Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menyebutkan, lebih dari 42 ribu pondok pesantren di Indonesia dari total 347 ribu kelembagaan, dengan jumlah santri 6,2 juta jiwa, sekitar 80 persen merupakan afiliasi NU.

750 x 100 PASANG IKLAN
Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said. Foto: corebusiness.co.id/Syarif

“Ketentuan mengenai penyelenggaraan fungsi pendidikan, fungsi dakwah, dan fungsi pemberdayaan masyarakat telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan peraturan terkait lainnya,” jelas Basnang.

Basnang mengatakan bahwa dunia pendidikan, termasuk pesantren, membutuhkan kemudahan-kemudahan dalam proses pembelajaran. Karena itu, dia mendorong para tenaga pendidik untuk intens mempublikasikan ilmu-ilmu dan inovasi-inovasi baru, baik dalam bentuk karya tulis maupun kajian di pondok pesantren.

“AI sesungguhnya siapa yang memberikan banyak input. Makin minim input dari kita, maka itulah kira-kira yang diproses saja oleh AI. Penting para kyai, dosen, dan guru di pondok pesantren melakukan penginputan secara terus menerus berkaitan dengan inovasi-inovasi apa yang muncul di pondok pesantren, sehingga bisa diproses oleh AI,” tuturnya.

Sementara Ketua RMINU, KH. Hodri Arief mengutarakan masih banyak pesantren belum mau membuka diri pada perangkat IT. Karena mereka masih sangat hati-hati dalam membuka diri terhadap informasi di luar yang diajarkan dari dalam pesantren. Menurutnya, seiring banjirnya informasi dari luar, jika tidak bisa dikelola dengan baik, maka bisa memengaruhi pola pikir santri yang belum pantas mereka pikirkan.

“Kami di pesantren punya prinsip al-Muhafazhah ‘alal Qadimish Shalih wal Akhdu bil Jadidil Ashlah. Kami selalu menjaga warisan ilmu, amal, budaya, yang masih sangat baik di pesantren. Tapi pada saat yang sama, kami didorong untuk mengambil hal-hal baru yang relevan, lebih baik, yang bisa mendukung kemajuan pesantren,” ucapnya.

Menurutnya, AI merupakan sesuatu yang sangat menarik. Di satu sisi, AI memiliki kecepatan informasi. Di sisi lain, di pondok pesantren diajarkan tentang ma’rifah, di mana tidak hanya mengetahui informasi, tapi buah dari latihan rohani seperti muhasabah, dzikir, menjaga adab, dan memurnikan niat.

“Jadi, kami tidak hanya sekadar tahu, tapi juga harus merasakan. AI memberitahu kita, tapi mungkin tidak merasakan apa yang terjadi dalam suasana bathin kita,” ungkapnya.

Ia menekankan, pesantren saat ini tidak hanya mengandalkan AI, tapi juga membangun relasi personal antara santri dengan para guru dan antara santri dengan kyai. Sehingga AI tidak hanya sebagai transfer ilmu pengetahuan, tapi juga transfer emosional.

“Jadi, AI menjadi bagian penting, tapi bukan satu-satunya di pesantren. Namun demikian, kami tidak menganggap AI sekunder, AI menjadi primer ketika bisa didampingi dengan kecerdasan spiritual di pesantren,” pungkasnya. (Syarif)

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN