160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id

Ketika Dosen Muda Kalah Cerdas daripada AI

Ketua RMINU Hodri Arief saat menjadi keynote speech AI Teaching Power Impact Forum di Kantor Microsoft Indonesia, Gedung Bursa Efek Indonesia Tower II, Lantai 18, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta, Senin, 29 Juni 2026. Foto: corebusiness.co.id/Syarif
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Kehadiran teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dimanfaatkan di berbagai bidang dalam mendukung aktivitas manusia. Termasuk di institusi pendidikan Islam seperti pesantren. AI bisa membantu mempermudah para santri dan guru dalam proses belajar dan mengajar di pesantren.

Seiring meluasnya pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan, kebutuhan untuk memperkuat literasi dan kesiapan AI bagi para pendidik semakin penting, termasuk di lingkungan pesantren dan institusi pendidikan Islam.

Direktur Pesantren Kementerian Agama Basnang Said mencatat, saat ini terdaftar lebih dari 42 ribu pondok pesantren di Indonesia dari total 347 ribu kelembagaan, dengan jumlah santri 6,2 juta jiwa.

“Ketentuan mengenai penyelenggaraan fungsi pendidikan, fungsi dakwah, dan fungsi pemberdayaan masyarakat telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan peraturan terkait lainnya,” kata Basnang saat menjadi keynote speech AI Teaching Power Impact Forum di Kantor Microsoft Indonesia, Gedung Bursa Efek Indonesia Tower II, Lantai 18, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta, Senin, 29 Juni 2026.

750 x 100 PASANG IKLAN

Basnang mengatakan bahwa dunia pendidikan, termasuk pesantren, membutuhkan kemudahan-kemudahan dalam proses pembelajaran. Karena itu, dia mendorong para tenaga pendidik untuk intens mempublikasikan ilmu-ilmu dan inovasi-inovasi baru, baik dalam bentuk karya tulis maupun kajian dari pondok pesantren.

“AI sesungguhnya siapa yang memberikan banyak input. Makin minim input dari kita, maka itulah kira-kira yang diproses saja oleh AI. Penting para kyai, dan tenaga pendidik di pondok pesantren melakukan penginputan secara terus menerus berkaitan dengan inovasi-inovasi apa yang muncul di pondok pesantren, sehingga bisa diproses oleh AI,” tuturnya.

Sementara Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Hodri Arief mengutarakan masih banyak tokoh kyai—pemimpin pondok pesantren–belum mau membuka diri pada perangkat IT. Karena mereka masih sangat hati-hati dalam membuka diri terhadap informasi di luar yang diajarkan dari dalam pesantren. Menurutnya, seiring banjirnya informasi dari luar, jika tidak bisa dikelola dengan baik, maka bisa memengaruhi pola pikir santri yang belum pantas mereka pikirkan.

“Kami di pesantren punya prinsip al-Muhafazhah ‘alal Qadimish Shalih wal Akhdu bil Jadidil Ashlah. Kami selalu menjaga warisan ilmu, amal, budaya, yang masih sangat baik di pesantren. Tapi pada saat yang sama, kami didorong untuk mengambil hal-hal baru yang relevan, lebih baik, yang bisa mendukung kemajuan pesantren,” ucapnya.

750 x 100 PASANG IKLAN

Menurutnya, AI merupakan sesuatu yang sangat menarik. Di satu sisi, AI memiliki kecepatan informasi. Di sisi lain, di pondok pesantren diajarkan tentang ma’rifah, di mana tidak hanya mengetahui informasi, tapi buah dari latihan rohani seperti muhasabah, dzikir, menjaga adab, dan memurnikan niat.

“Jadi, kami tidak hanya sekadar tahu, tapi juga harus merasakan. AI memberitahu kita, tapi mungkin tidak merasakan apa yang terjadi dalam suasana bathin kita,” ungkapnya.

Hodri cerita, di sebuah kampus di Jawa Timur, ada seorang dosen muda rajin mempublikasikan karya tulis. Dalam sebulan, dia bisa menerbitkan dua hingga tiga karya tulis.

Suatu ketika dosen muda tersebut ditanya oleh teman-teman dosen lainnya, bagaimana dia bisa membuat tulisan hebat-hebat dan begitu banyak. Dosen muda tersebut memberitahukan bahwa dalam proses pembuatan karya tulis dirinya dibantu oleh AI.

750 x 100 PASANG IKLAN

“Ketika dosen muda tersebut diajak diskusi tentang isi tulisan yang dibuatnya, ternyata lebih pandai AI-nya daripada penulisnya,” ungkapnya.

Hodri lantas menekankan, khusus untuk pesantren perlu mengimbangi pola belajar dengan cepat melalui bantuan AI dengan ilmu dari pesantren itu sendiri. Menurutnya, pesantren saat ini tidak hanya mengandalkan AI, tapi juga membangun relasi personal antara santri dengan para guru dan antara santri dengan kyai. Sehingga AI tidak hanya sebagai transfer ilmu pengetahuan, tapi juga transfer emosional.

“Jadi, AI menjadi bagian penting, tapi bukan satu-satunya di pesantren. Namun demikian, kami tidak menganggap AI sekunder, AI menjadi primer ketika bisa didampingi dengan kecerdasan spiritual di pesantren,” pungkasnya.

Terpisah, Onno Wibowo Purbo, yang dikenal sebagai seorang ilmuan dan pakar bidang teknologi informasi, dalam bukunya berjudul: “AI untuk Wartawan dan Media”, mengatakan bahwa AI bukan lagi sekadar alat bantu menulis cepat, tetapi telah menjadi bagian dari proses riset, verifikasi, analisis dokumen, pemetaan isu, penulisan, dan kerja redaksi modern.

Dalam bukunya ini, Onno tidak mengarahkan AI sebagai jalan pintas menulis berita serta karya tulis lainnya, melainkan sebagai alat bantu berpikir, bertanya, memeriksa, dan membuktikan. Wartawan atau penulis diarahkan untuk membangun pertanyaan tajam, menggunakan OSINT secara legal dan etis, membaca jejak digital, menyusun peta aktor, membuat kronologi investigasi, membangun evidence table, melakukan deep analysis, membaca framing dan narasi publik, serta menulis artikel yang jelas.

Kesimpulan strategisnya, penerima Postel Service Award dari Internet Society tersebut menekankan, AI hanya memperbesar kualitas atau keburukan jurnalisme atau karya tulis tergantung disiplin redaksi. Jurnalis dan penulis yang menang bukan yang paling otomatis, tetapi yang paling tajam, paling akurat, paling etis, dan paling bertanggung jawab kepada publik. (Syarif)

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN