INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id
Informasi yang Bermanfaat bagi Santri
Sementara itu, Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menyebutkan, lebih dari 42 ribu pondok pesantren di Indonesia dari total 347 ribu kelembagaan, dengan jumlah santri 6,2 juta jiwa, sekitar 80 persen merupakan afiliasi NU.

“Ketentuan mengenai penyelenggaraan fungsi pendidikan, fungsi dakwah, dan fungsi pemberdayaan masyarakat telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan peraturan terkait lainnya,” jelas Basnang.
Basnang mengatakan bahwa dunia pendidikan, termasuk pesantren, membutuhkan kemudahan-kemudahan dalam proses pembelajaran. Karena itu, dia mendorong para tenaga pendidik untuk intens mempublikasikan ilmu-ilmu dan inovasi-inovasi baru, baik dalam bentuk karya tulis maupun kajian di pondok pesantren.
“AI sesungguhnya siapa yang memberikan banyak input. Makin minim input dari kita, maka itulah kira-kira yang diproses saja oleh AI. Penting para kyai, dosen, dan guru di pondok pesantren melakukan penginputan secara terus menerus berkaitan dengan inovasi-inovasi apa yang muncul di pondok pesantren, sehingga bisa diproses oleh AI,” tuturnya.
Sementara Ketua RMINU, KH. Hodri Arief mengutarakan masih banyak pesantren belum mau membuka diri pada perangkat IT. Karena mereka masih sangat hati-hati dalam membuka diri terhadap informasi di luar yang diajarkan dari dalam pesantren. Menurutnya, seiring banjirnya informasi dari luar, jika tidak bisa dikelola dengan baik, maka bisa memengaruhi pola pikir santri yang belum pantas mereka pikirkan.
“Kami di pesantren punya prinsip al-Muhafazhah ‘alal Qadimish Shalih wal Akhdu bil Jadidil Ashlah. Kami selalu menjaga warisan ilmu, amal, budaya, yang masih sangat baik di pesantren. Tapi pada saat yang sama, kami didorong untuk mengambil hal-hal baru yang relevan, lebih baik, yang bisa mendukung kemajuan pesantren,” ucapnya.
Menurutnya, AI merupakan sesuatu yang sangat menarik. Di satu sisi, AI memiliki kecepatan informasi. Di sisi lain, di pondok pesantren diajarkan tentang ma’rifah, di mana tidak hanya mengetahui informasi, tapi buah dari latihan rohani seperti muhasabah, dzikir, menjaga adab, dan memurnikan niat.
“Jadi, kami tidak hanya sekadar tahu, tapi juga harus merasakan. AI memberitahu kita, tapi mungkin tidak merasakan apa yang terjadi dalam suasana bathin kita,” ungkapnya.
Ia menekankan, pesantren saat ini tidak hanya mengandalkan AI, tapi juga membangun relasi personal antara santri dengan para guru dan antara santri dengan kyai. Sehingga AI tidak hanya sebagai transfer ilmu pengetahuan, tapi juga transfer emosional.
“Jadi, AI menjadi bagian penting, tapi bukan satu-satunya di pesantren. Namun demikian, kami tidak menganggap AI sekunder, AI menjadi primer ketika bisa didampingi dengan kecerdasan spiritual di pesantren,” pungkasnya. (Syarif)