INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id
Strategi Bisnis Naik Kelas
Menyikapi kegamangan yang dirasakan Budiman, Ketua Umum Aliansi Perdagangan Industri Kreatif Indonesia (APIKI) dan CEO Scano Exotic Indonesia, Anto Suroto berbagi pengalaman dalam merintis usaha IKM.
Anto mengatakan, APIKI didirikan tahun 2000 mempunyai visi dan misi ingin menaikkan kelas IKM, UKM, dan UMKM khususnya bagi anggota, umumnya secara nasional.
“APIKI berusaha memberikan pendampingan kepada semua anggota supaya produk-produk yang dihasilkan bisa menembus pasar internasional,” kata Anto ketika ditemui di Galeri Scano Exotic Indonesia yang juga dijadikan Sekretariat APIKI di Jl. Cempaka Putih Timur XVII, Taman Solo, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, belum lama ini.
Ia mengungkapkan, banyak akar masalah yang dihadapi dan harus diperbaiki IKM, UKM, dan UMKM, salah satunya menyoal mental blok. Menurutnya, pelaku usaha kadang merasa cepat puas atas produk yang dihasilkan, namun lemah dari sisi pemasaran.
Dalam kondisi seperti ini, menurut Anto, pelaku usaha harus mau menurunkan ego. Ketika produknya kurang diterima pasar, dia harus mencari tahu selera konsumen. Jadi, jangan hanya menghasilkan produk-produk menurut selera pelaku usaha, tapi berdasarkan selera konsumen.
Anto menyebutkan, sekitar 30 persen produk IKM, UKM, dan UMKM Indonesia sudah masuk pasar global. Hanya saja, kata dia, kekuatan produk-produk dalam negeri untuk mempertahankan kesinambungan memenuhi kuota ekspor masih lemah. Salah satu kendalanya menyangkut dukungan stimulan kredit pinjaman modal.
Bagi pelaku IKM, UKM, dan UMKM, Anto menekankan, ada tiga aspek yang perlu diimplementasikan dalam upaya menaikkan kelas usahanya, yaitu integritas, kredibilitas, dan kapabilitas.
Menurutnya, ketiga aspek ini kadang diabaikan. Dicontohkan persoalan yang masih dihadapi pelaku usaha, yaitu produk yang dihasilkan bagus, tetapi modal minim. Sebaliknya, modal memadai, tapi produknya kurang bagus. Berikutnya, modal dan produknya bagus, tapi kemasannya tidak bagus. Persoalan lain, ketika mendapatkan order, tidak diselesaikan tepat waktu, sehingga mengganggu jadwal pendistribusian barang kliennya.

Seiring perubahan zaman, masih menurut Anto, pelaku usaha juga harus bisa beradaptasi dengan teknologi, termasuk memadukan sistem pemasaran konvensional dan online.
Anto cerita, kali pertama merintis usaha industri kreatif yang memproduksi sepatu, tas, dompet, dan ikat pinggang, dari bahan baku limbah hewan reptil pada tahun 1997. Ia mengaku nekat memulai usaha itu, lantaran tidak ada dasar ilmu di sektor industri kreatif.
“Background saya di bidang aspek legal untuk membantu investor asing yang ingin menanamkan modal di Indonesia. Tapi, saya juga memahami ilmu marketing,” akunya.
Pilihannya membuka usaha industri kreatif terpacu dari seringnya Anto mendampingi klien dari luar negeri tatkala membeli produk-produk IKM untuk oleh-oleh sekembali ke negaranya. Diamati Anto, kebanyakan bule membeli barang-barang unik, semisal tas, dompet, atau sepatu berlapis kulit reptil.
Di atas tanah miliknya yang berada di kawasan Tangerang, kemudian dibangun industri untuk pewarnaan, penyamaan, hingga produk jadi berbahan baku limbah hewan reptil. Anto mematenkan produk-produknya itu dengan brand Scano Exotic Indonesia.
Perjalanan Anto dalam menekuni bisnis IKM, dilalui bukan tanpa kendala. Ia sempat mengalami kerugian hampir mencapai Rp 1,6 miliar. Ketika itu produk Scano Exotic Indonesia masih dipasarkan di dalam negeri, khususnya untuk kalangan menengah ke atas.
Namun, dirinya mengaku tidak putus asa. Anto menilai bisnis ini mempunyai peluang besar, jika dikelola secara profesional.
Anto mengubah strategi pemasaran. Ia lantas pergi ke pelbagai negara sembari mengamati tempat-tempat produksi hingga penjualan produk-produk serupa Scano Exotic Indonesia.
“Saya harus melihat dan merasakan langsung bagaimana produk itu dihasilkan, termasuk mengamati kebiasaan penduduk negara yang saya kunjungi, seperti di Itali, Jerman, Prancis, Turki, dan Jepang. Saya harus banyak menggali informasi dan ilmu yang berkaitan dengan bisnis ini, mulai dari hulu hingga hilir,” paparnya.
Sepulang ke Tanah Air, Anto dapat ide mencontoh sistem dan teknologi dari suatu negara yang menurutnya bisa diaplikasikan untuk pengembangan bisnisnya.
Anto menghubungi relasinya di Jepang untuk memberikan bimbingan peningkatan kemampuan dan keterampilan karyawannya. Ia lantas mengirim tiga karyawannya ke Jepang untuk mengikuti pelatihan selama 3 minggu.
“Dalam dunia bisnis, networking mempunyai peranan sangat penting. Ketika produk-produk Scano Exotic Indonesia bisa dipasarkan di Itali, Jepang, dan Turki, berkat bantuan partnership saya di negara-negara tersebut,” imbuhnya.
Menurut Anto, hal penting lainnya bagi pelaku usaha supaya produknya bisa diterima dan laku di pasar global, jangan hanya melihat produk serupa banyak beredar di pasaran. Namun, produk itu harus tampil beda, unik, dan kreatif. Jika produk itu sifatnya umum, bakal berkompetisi dengan produk sejenis dari dalam negeri dan negara lain.