Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Jakarta,corebusiness.co.id-Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia (Indonesia Battery Corporation/IBC), Aditya Farhan Arif menyampaikan tren teknologi dan pasar baterai global. Semula, baterai digunakan untuk transisi energi. Seiring perkembangan digital economy, baterai dibutuhkan untuk data center.
Aditya mengutarakan, ketika IBC didirikan tahun 2021, perusahaan optimistis baterai memiliki prospek yang baik di masa depan. Tanda-tanda itu sudah terlihat dari penggunaan baterai. Sebelumnya baterai digunakan untuk transisi energi, seiring perkembangan digital economy juga dibutuhkan untuk pemenuhan data center.
“Dulu, mungkin kita hanya bicara transisi energi, tapi sekarang ada digital economy. Kalau transisi energi itu kaitannya baterai digunakan untuk meningkatkan fleksibilitas transmisi listrik (grid) dari renewable energy dan transisi internal combustion engine (ICE) ke kendaraan listrik,” kata Aditya di acara MediaMIND 2026 yang dilaksanakan secara offline dan online di Jakarta, pada Senin (14/9/2026).
Tapi dengan adanya digital economy, lanjut Aditya, ada permintaan baru dari data center. Dijelaskan, data center memerlukan Battery Energy Storage System (BESS) untuk data retention, dan kapasitas yang diperbutuhkan sangat besar.
“Kita melihat justru trajectory-nya ke depan yang pertumbuhannya paling besar itu ada di BESS, karena baterai digunakan baik data center maupun energi transisi. Volumenya itu kurang lebih akan meningkat 30 kali lipat pada tahun 2035 dibandingkan tahun 2023. Jadi yang pertumbuhannya pesat justru ada di BESS,” Aditya menganalisis perkembangan kebutuhan baterai.
Menukil laman chandra-asri.com, BESS adalah teknologi lanjutan yang bertujuan untuk menyimpan energi listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik. Energi yang tersimpan tersebut akan dikeluarkan ketika dibutuhkan, seperti pada pemadaman, kenaikan permintaan energi, dan kenaikan harga listrik.
BESS kerap ditemukan pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Ketika siang hari, panel surya akan mengubah sinar matahari menjadi energi listrik. Energi ini akan disimpan pada BESS dan dikeluarkan pada malam hari ketika Matahari tidak bersinar atau ketika dibutuhkan.
Dengan begitu, BESS dapat menyeimbangkan permintaan dan pasokan, meningkatkan keandalan pembangkit listrik, dan berangsur-angsur berpindah dari energi fosil ke energi terbarukan.
Selain itu, BESS juga memiliki sejumlah fungsi, di antaranya menyimpan kelebihan energi dari pembangkit listrik, menjaga tegangan dan frekuensi listrik agar tetap stabil, mengurangi beban puncak dengan menyediakan daya tambahan ketika energi sedang dibutuhkan, dan mengintegrasikan pembangkit listrik satu dengan yang lainnya secara efektif tanpa mengganggu kestabilan.
Aditya melanjutkan, dari jenis baterai, saat ini produsen baterai di dunia lebih banyak memproduksi lithium ferro phosphate (LFP). Sementara Indonesia, menurutnya, sedang bersemangat ingin memproduksi baterai berbasis nickel manganese cobalt (NMC).
Meski demikian, Aditya mengungkapkan, kebutuhan baterai tersebut menurut analisis pasar, yang data-datanya dimunculkan berdasarkan tren yang sedang berkembang saat ini. Karena itu, IBC melakukan teknik prediksi masa depan berbasis historis data (forecasting) tidak hanya dari sisi pasar tapi juga teknologi—dalam memproduksi jenis baterai.
IBC sendiri, dikatakan Aditya, untuk tahap awal dominan memproduksi baterai berteknologi LFP di pabrik baterai kendaraan listrik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat. PT CATIB merupakan perusahaan patungan antara IBC dan CBL, anak usaha produsen baterai terbesar asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL). Sementara produksi baterai NMC masih berada di bawah porsi LFP.
Komposisi tersebut terjadi karena fasilitas produksi material baterai untuk mendukung pengembangan NMC baru akan mulai dibangun pada tahun ini.
“Ke depan NMC itu diarahkan untuk high voltage yang kadar nikelnya lebih tinggi, seperti NMC 811 atau NMC 955, supaya bisa lebih discharge lebih cepat lagi, dan power density-nya bisa meningkat,” ucapnya.
IBC juga sedang mempertimbangkan untuk pengembangan ke arah single crystal NMC untuk meningkatkan stabilitasnya.
“Kita mengetahui bahwa NMC itu cocok untuk energi density yang sangat tinggi, sehingga dengan volume yang sama dia bisa storing energy (menyimpan energi) lebih banyak nanti dampaknya kalau dipakai di mobil, mobilnya lebih ringan dibandingkan yang menggunakan baterai LFP. Dengan pengembangan seperti single crystal NMC, nanti akan lebih lengkap. Jadi, masih terbuka ruang untuk pengembangan NMC ke depan,” jelasnya.
Pengembangan berikutnya, masih disampaikan Aditya, IBC akan menerapkan teknologi teknologi baterai sodium ion hingga teknologi baterai solid state.
“Baterai sodium ion nanti lebih banyak penggunaannya untuk BESS, yang sekarang dominan menggunakan LFP,” pungkasnya. (Syarif)