160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html

Merger Miratel dan TBIG akan Ubah Peta Industri Telkom Indonesia

Menara telekomunikasi milik TBIG. Foto: dok. TBIG.
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Kabar merger antara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Miratel dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali mencuat di penghujung Agustus 2026. Jika terealisasi, skalanya berpotensi mengubah peta industri menara telekomunikasi Indonesia.

Wacana merger Miratel dan TBIG bukan cerita baru. Kedua perusahaan pernah terlibat pembicaraan serupa pada 2014–2015, namun transaksi pertukaran saham tersebut akhirnya batal.

Untuk diketahui, Mitratel adalah salah satu anak perusahaan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk yang bergerak di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi. Mitratel mulai menapaki bisnis menara telekomunikasi sejak tahun 2008.

Sampai saat ini, Mitratel telah mengelola lebih dari 40.000 menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Semua operator seluler Indonesia telah menjadi tenant dengan menempatkan perangkat BTS-nya di menara Mitratel.

Sementara TBIG merupakan perusahaan induk dari Tower Bersama Group. TBIG didirikan pada tahun 2004 dan sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak tanggal 26 Oktober 2010.

Tower Bersama Group merupakan salah satu perusahaan menara terbesar di Indonesia. Kegiatan usaha utama Perseroan adalah menyewakan tower space pada sites sebagai tempat pemasangan perangkat telekomunikasi milik penyewa untuk transmisi sinyal berdasarkan skema perjanjian sewa jangka panjang melalui entitas anak.

Perseroan juga menyediakan akses untuk operator telekomunikasi ke jaringan repeater dan IBS milik Perseroan, sehingga dapat memancarkan jaringan sistem telekomunikasi di gedung-gedung perkantoran dan pusat-pusat perbelanjaan yang terletak pada wilayah perkotaan.

Wacana mereger kedua entitas ini turut menjadi perhatian PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, yang berpotensi menjadi katalis bagi industri menara telekomunikasi.

Menurut Mirae, apabila terealisasi, entitas hasil merger diperkirakan memiliki sekitar 65.800 menara dan 106.100 penyewa (tenan), dengan rasio penyewaan (tenancy ratio) sekitar 1,61 kali.

Secara operasional, kombinasi kedua perusahaan dinilai saling melengkapi. Aset Miratel lebih banyak tersebar di luar Jawa, sedangkan TBIG memiliki eksposur lebih besar di Jawa. Komposisi tersebut membuat potensi tumpang tindih aset relatif terbatas.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Daniel Aditya Widjaja, mengatakan konsolidasi dapat menjadi katalis pertumbuhan setelah permintaan menara dan penambahan penyewa cenderung moderat dalam beberapa tahun terakhir.

“Konsolidasi juga berpotensi memperkuat posisi tawar perusahaan menara dalam negosiasi perpanjangan sewa serta membuka peluang dari siklus belanja modal 5G operator telekomunikasi,” ujar Daniel dalam riset yang dikutip Senin (31/8/2026).

Mirae Asset mempertahankan pandangan netral terhadap sektor infrastruktur telekomunikasi. Sekuritas tersebut merekomendasikan beli untuk saham Miratel dengan target harga Rp670 dan trading buy untuk TBIG dengan target harga Rp1.700. (Gaska)

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN