160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id

Membangun Fondasi Bisnis yang Kuat: dari Rintisan Menuju Pasar Global

Budiman mengutarakan masih kesulitan untuk mendapatkan kredit perbankan untuk membantu pengembangan bisnis konfeksinya. Foto: corebusiness.co.id/Syarif
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Merintis sebuah unit usaha tak cukup hanya modal nekat dan keseriusan, namun butuh dukungan permodalan finansial. Asa bagi perusahaan rintisan, kelak fondasi bisnisnya sudah kuat tak hanya bermain di level domestik, tapi bisa menembus pasar global.

Deru dua mesin jahit listrik dinamo servo yang masing-masing pedalnya diinjak seorang wanita dan pria terdengar saling bersahutan di ruang kerja Aris Ayu Collection pada Sabtu pagi, 20 Juni 2026, pukul 08.15 WIB. Perhatian mereka tertuju pada pergerakan naik-turun ujung jarum yang menusukkan benang ke lipatan kecil kain.

“Ini namanya teknik hemming atau sering disebut teknik kelim. Jadi, bagian tepi pakaian yang sudah terpola dijahit sehingga lebih rapi dan tidak mudah terurai,” jelas Budiman soal teknik menjahit pakaian.

Budiman adalah pengelola konfeksi Aris Ayu Collection berlokasi di Jalan Musholla Annur, Kelurahan Kedaung, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Ia sudah menjalankan konfeksi kategori Industri Kecil dan Menengah (IKM) tersebut sejak 2025.

Menempati bangunan sederhana berukuran sekitar 100 meter persegi, ruang kerja konfeksi ditata menjadi dua bagian utama. Bagian teras depan dijadikan tempat untuk proses pembuatan pola sekaligus pemotongan kain. Sementara ruang tengah untuk aktivitas menjahit.

Bagi Budiman, bidang konfeksi sudah dilakoni sejak tahun 1988. Ia pernah menduduki jabatan penting, seperti general manager, di dua perusahaan garmen lumayan besar di kawasan Tangerang dan Jakarta.

Berbekal ilmu dan pengalaman yang dimiliki, Budiman memutuskan mencoba membuka usaha konfeksi sendiri di Kota Bambu, Jakarta Pusat, pada tahun 2000-an. Usaha konfeksi tersebut ia beri nama Aris Ayu Collection.

Menurutnya, meskipun menjalankan usaha skala rumah tangga (home industry), orderan membuat pakaian, kaos, serta jaket dari kliennya terbilang lancar. Di masa itu, kata dia, industri garmen dan konfeksi sedang menggeliat. Ia bahkan tak terlalu kesulitan mendapatkan modal kerja.

“Saya mendapatkan modal kerja dari pembayaran uang muka saat menerima pesanan dari klien. Sisanya akan dilunasi klien ketika kami sudah menyelesaikan orderan,” tutur Budiman.

Konfeksi yang dikelola pria berdarah Sunda tersebut mulai sepi orderan seiring mencuatnya wabah Covid-19 di Indonesia. Pemerintah secara resmi mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonasional Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sebagai Bencana Nasional, pada 13 April 2020. Berselang beberapa bulan kemudian, Budiman terpaksa menghentikan aktivitas usahanya.

Sempat pindah-pindah profesi, pada awal 2025 Budiman memutuskan merintis kembali usaha konfeksi di kawasan Kedaung, dengan dukungan 12 perangkat unit mesin, masing masing untuk menjahit, obras, dan pemasangan kancing.

“Saat ini saya dibantu enam orang karyawan. Upah masing-masing karyawan dibayar berdasarkan imbalan per satuan dari hasil produksi,” ujarnya.

Pria paruh baya ini mengakui, tren industri garmen dan konfeksi saat ini sudah berbeda. Tak secerah seperti era ketika kali pertama dia terjun ke industri ini. Salah satunya dari sisi pemasaran.

“Dulu, produk-produk hasil garmen banyak dijual secara offline, seperti di outlet dan kios kios pusat-pusat perbelanjaan. Sekarang berubah, pemasaran cenderung secara online atau marketplace. Beberapa industri garmen dan konfeksi terpaksa membatasi produksi, bahkan banyak juga yang gulung tikar,” ungkapnya.

Budiman mengaku napas usaha yang tengah dijalani tersengal-sengal. Kapasitan orderan masih skala kecil. Keuntungan yang diterimanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga, membayar jasa karyawan dan listrik tempat usahanya.

Kendala utama yang dihadapi Budiman adalah kesulitan mendapatkan permodalan. Baik melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun kredit pinjaman dari bank. Hal ini pula, kata dia, menjadikan usahanya sulit berkembang.

“Skala usaha saya masih kecil, belum punya legalitas perusahaan, seperti CV. Saya pesimis bank mau memberikan kredit pinjaman modal. Rekan saya yang mendapatkan pinjaman modal bank rata-rata sebelumnya sudah didukung pendanaan yang cukup serta mempunyai jaminan ke bank,” ucapnya.

Budiman berharap ada kemudahan syarat pengajuan kredit pinjaman bagi pelaku usaha kecil yang belum memiliki jaminan atau agunan seperti dirinya. Misalnya, dengan menyertakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Keterangan Usaha (SKU), jenis dan laporan aktivitas usaha.

Terkait program KUR, Ketua Rukun Warga (RW) 02 Kedaung, Bisman, mengatakan bahwa beberapa pelaku usaha di lingkungannya rerata mengajukan sendiri kredit pinjaman ke bank-bank yang ditunjuk oleh pemerintah. Selain itu, ada pula yang mendapatkan bantuan program Baitul Maal wa Tamwil (BMT) yang dijalankan oleh lembaga keuangan mikro syariah, yang berbadan hukum koperasi untuk memberdayakan masyarakat.

Bisman mengimbau kepada pelaku usaha di wilayahnya untuk melengkapi persyaratan administrasi untuk keperluan mendapatkan program KUR atau BMT. Ia akan membantu untuk pengurusan SKU atau surat pengantar lainnya. 

Pages: 1 2 3 4
750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN