160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html

IHSG Trading Halt Lagi! Panik atau Justru Peluang Emas?

750 x 100 PASANG IKLAN

Oleh: Hendra Julius
Direktur Laba Sekuritas

 

KETIKA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh tajam sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) harus menghentikan perdagangan saham, apakah itu bertanda bahwa pasar saham Indonesia sedang menuju kehancuran atau justru kita sedang menyaksikan salah satu momen yang kelak akan dikenang sebagai kesempatan luar biasa bagi investor yang mampu berpikir jernih.

Coba bayangkan ketika semua orang panik, semua orang ingin menjual dan layar perdagangan dipenuhi warna merah, apakah kita harus ketakutan? Tunggu dulu! Karena secara pasar modal ternyata menyimpan cerita yang sangat menarik. Mengapa menarik, berikut uraiannya yang saya pilah dalam lima bagian.

Bagian pertama, pada Oktober 2008, saat itu dunia sedang dilanda krisis keuangan global. Leman, Brother bangkrut, lembaga keuangan besar mengalami tekanan dan kepanikan melanda berbagai pasar dunia. Indonesia pun tidak luput dari badai tersebut. Pada 6 Oktober 2008, IHSG anjlok sekitar 10 persen dalam satu hari. Dua hari kemudian, tepatnya 8 Oktober 2008, IHSG kembali jatuh lebih dari 10 persen, dan akhirnya BEI menghentikan perdagangan. Bukan hanya beberapa menit, perdagangan dihentikan pada 8 Oktober dan suspensinya diperpanjang hingga 9 dan 10 Oktober 2008. Bayangkan, selama tiga hari perdagangan berturut-turut, investor tidak bisa melakukan transaksi di bursa.

Ketika perdagangan kembali dibuka pada 13 Oktober, pasar memang sempat menunjukkan pemulihan, tetapi tekanan belum sepenuhnya selesai. Pada 28 Oktober 2008, IHSG bahkan ditutup melemah 55,019 poin (4,72 persen) pada 1.111,390. Lalu apa pelajaran pentingnya? Krisis bukan hanya akhir dari perjalanan pasar modal. Karena setelah melewati badai besar 2008, Indonesia tetap mampu bangkit. Aktivitas ekonomi kembali bertumbuh. Kepercayaan investor bangsur pulih, dan dalam perjalanan berikutnyanya IHSG berhasil mencapai level yang jauh lebih tinggi. Jadi, jangan hanya melihat bagaimana pasar jatuh, lihat juga bagaimana pasar mampu bangkit setelah kejatuhannya.

Bagian kedua, tahun ini ternyata kita juga sudah pernah mengalami kejadian yang luar biasa. Pada Januari 2026, IHSG turun sekitar 8 persen dari perdagangan, sehingga BEI memutuskan menghentikan sementara perdagangan saham. Keesokan harinya, 29 Januari 2026, IHSG kembali jatuh sekitar 8 persen dan trading halt kembali diberlakukan. Bayangkan, dua hari berturut-turut pasar mengalami tekanan ekstrem hingga perdagangan harus dihentikan.

Apakah itu berarti semua saham akan terus jatuh? Ternyata tidak sesederhana itu. Pada 29 Januari, IHSG sempat berada di sekitar level 7.482. Kemudian berbalik menguat dan ditutup pada level 8.232. Keesokan harinya, 30 Januari 2026, IHSG kembali ditutup menguat di level di 8.330. Artinya dari titik terendah 29 Januari hingga penutupan 30 Januari 2026, IHSG mengalami pemulihan sekitar 11 persen. Luar biasa, bukan? Inilah mengapa saya mengatakan dan mengingatkan bahwa pergerakan pasar saham tidak boleh hanya dilihat dari ketakutan pada satu momen. Trading halt tidak selalu menjadi akhir dari penurunan, tapi juga bukan berarti pasar tidak memiliki kemampuan untuk bangkit.

Investor yang terlalu panik bisa saja kehilangan kesempatan untuk untuk melihat pemulihan. Sebaliknya, investor yang terlalu agresif membeli tanpa memperhitungkan risiko, juga bisa mengalami kerugian. Jadi yang kita perlukan bukan hanya sekadar keberanian. Kita membutuhkan keberanian yang disertai perhitungan.

Bagian ketiga, pada 16 Oktober 2026, IHSG kembali mengalami tekanan luar biasa hingga turun sekitar 8 persen, dan perdagangan dihentikan sementara. Kemudian perdagangan dibuka kembali dalam kondisi IHSG minus 10 persen, dan masih bisa berjalan hingga hari ini. Yang membayangi adalah mengenai evaluasi klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI dari Emerging Market menjadi Standalone Market telah menimbulkan guncangan psikologis di pasar. Investor khawatir terhadap kemungkinan perubahan status Indonesia dalam indeks global yang bisa memengaruhi arus investasi asing.

Saya melihatnya dari sudut pandang berbeda: apakah perubahan persepsi investor global secara otomatis membuat seluruh perusahaan Indonesia kehilangan nilai fundamentalnya? Tentu tidak. Perusahaan yang memiliki bisnis sehat, tetap menjalankan usahanya. Perusahaan yang menghasilkan keuntungan, tetap memiliki potensi menciptakan nilai. Perusahaan dengan arus kas yang kuat, tetap memiliki fondasi untuk bertahan menghadapi tekanan pasar.

Memang benar harga saham bisa turun sangat dalam akibat kepanikan dan perubahan arus dana. Namun, kita perlu membedakan antara penurunan harga saham dengan kerusakan fundamental perusahaan. Harga adalah apa yang kita bayar. Sedangkan nilai adalah apa yang kita peroleh. Sehingga, ketika harga turun lebih cepat daripada perubahan nilai fundamentalnya, di situlah kita perlu memulai melakukan analisis lebih mendalam. Bukan langsung membeli semuanya, tetapi mulai mencari perusahaan yang benar-benar layak dipertimbangkan.

Bagian keempat, kita tidak perlu kehilangan optimisme. Dalam sejarah pasar modal, kepanikan adalah bagian dari siklus pasar. Harga saham tidak selalu naik. Ada saatnya pasar bergerak sangat optimis dan ada saatnya pasar dipenuhi ketakutan. Justru di sinilah kualitas seorang investor diuji. Ketika harga saham naik terus, hampir semua orang merasa bisa menjadi investor yang hebat. Tetapi ketika pasar jatuh, hanya investor yang memahami risiko, menjaga likuiditas, dan memiliki strategi, yang mampu mengambil keputusan dengan lebih tenang.

Ada tiga hal yang ingin saya tekankan. Pertama, jangan kehilangan rasionalitas. Ketika IHSG turun 8 persen atau 10 persen, bukan berarti seluruh usaha memiliki fundamental yang memburuk sekitar 8 persen atau 10 persen. Kita harus mampu memilah mana perusahaan yang memang bermasalah dan mana perusahaan yang hanya terkena dampak sentimen pasar.

Kedua, jaga likuiditas. Dalam kondisi pasar bergejolak, memiliki dana siap digunakan merupakan keunggulan tersendiri. Karena terkadang kesempatan investasi terbaik muncul bukan ketika semua orang optimis, melainkan ketika banyak investor sedang membutuhkan likuiditas.

Ketiga, fokus pada kualitas dan valuasi. Jangan membeli saham hanya karena harganya sudah turun 30 persen, 40 persen, atau bahkan 50 persen. Pastikan perusahaan memiliki fundamental yang baik, prospek bisnis yang masuk akal, dan valuasi yang memberikan ruang keamanan bagi investor. Karena saham murah belum tentu bernilai, tapi perusahaan berkualitas yang diperdagang pada valuasi yang menarik bisa menjadi kesempatan investasi jangka panjang.

Bagian kelima, apakah trading halt bisa menjadi titik balik IHSG? Sekarang pertanyaan besarnya, apakah trading halt ini bisa menjadi titik balik IHSG? Jawabannya bisa saja, tapi kita juga membutuhkan konfirmasi. Sejarah Januari 2026 memperlihatkan bahwa setelah dua kali trading halt IHSG sempat mengalami rebond yang sangat kuat. Tapi sejarah Oktober 2008 juga mengingatkan bahwa setelah perdagangan kembali dibuka, tekanan jual masih bisa berlanjut.

Karena itu, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan: Apakah tekanan jualnya mulai berkurang? Apakah investor asing mulai kembali melakukan pembelian? Apakah nilai tukar rupiah mulai stabil? Apakah saham-saham berfundamental kuat mulai menunjukkan pemulihan? Dan yang tidak kalah penting, apakah ada langkah konkret dari regulator untuk memperbaiki kepercayaan pasar?

Jika sejumlah indikator tersebut mulai menunjukkan perbaikan, kita memiliki alasan yang lebih kuat untuk menilai bahwa proses pemulian sedang berlangsung. Tapi jika belum, tidak ada salahnya bersabar. Karena dalam investasi, kita tidak harus menjadi orang pertama yang membeli di harga terendah. Kita hanya perlu menjadi investor yang mampu mengambil keputusan tepat dengan risiko yang terukur.

Menutup pembahasan, jika melihat kejadian pada Oktober 2008 dan tahun ini, menurut saya, justru inilah saatnya kita semakin disiplin, semakin selektif, dan semakin memahami arti penting sebuah strategi investasi. Karena sejarah memberikan pelajaran yang sangat berharga. Krisis akan datang dan pergi. Kepanikan akan muncul dan mereda. Tetapi investor yang mampu bertahan dan terus belajar akan memiliki kesempatan untuk bertumbuh bersama pemulihan pasar.

Ingat, optimisme bukan berarti mengabaikan risiko. Optimisme adalah kemampuan melihat peluang sambil tetap memahami risiko yang kita hadapi. Jangan takut melihat pasar merah. Yang perlu kita takutkan adalah mengambil keputusan tanpa pengetahuan, tanpa strategi, dan tanpa pengendalian risiko.

Satu lagi, ketika semua orang sibuk melihat seberapa dalam IHSG, investor yang berpikir jangka panjang mulai bertanya, “Perusahaan berkualitas apa yang kini menjadi lebih menarik?”

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN