160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html

Yayasan Riandja Sangap Gabe Arta Gandeng USU Bentuk Pokja Ahli dan Policy Brief Nasional untuk Pantai Barat Sumut

Yayasan Riandja Sangap Gabe Arta, H. Albiner Sitompul dan Wakil Rektor III Universitas Sumatera Utara (USU) Prof. Dr. Eng. Himsar Ambarita, S.T., M.T., saat membahas kajian Optimalisasi Multidimensi Bandara Sisingamangaraja XII ke Terminal Tarutung dan Terminal Pandan, serta Pelabuhan Sibolga melalui Pahae: Strategi Mewujudkan Kolaborasi Udara, Darat, dan Kemaritiman Pantai Barat”.
750 x 100 PASANG IKLAN

Medan,corebusiness.co.id-Yayasan Riandja Sangap Gabe Arta mendorong penguatan kolaborasi multipihak dalam rangka mempercepat pemulihan dan pembangunan konektivitas kawasan Pantai Barat Sumatera Utara, khususnya setelah bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah pada November 2025.

Dorongan tersebut disampaikan Ketua Yayasan Riandja Sangap Gabe Arta, H. Albiner Sitompul saat audiensi dengan Pimpinan Rektorat Universitas Sumatera Utara (USU) yang membahas gagasan kajian bertajuk: “Optimalisasi Multidimensi Bandara Sisingamangaraja XII ke Terminal Tarutung dan Terminal Pandan, serta Pelabuhan Sibolga melalui Pahae: Strategi Mewujudkan Kolaborasi Udara, Darat, dan Kemaritiman Pantai Barat”, baru-baru ini.

Pihak Rektorat USU, seperti disampaikan Wakil Rektor III, Prof. Dr. Eng. Himsar Ambarita, S.T., M.T., menyambut baik kajian yang digagas Yayasan Riandja Sangap Gabe Arta, yang melibatkan perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi akademik terhadap persoalan konektivitas, pemulihan pascabencana, pemerataan pembangunan, serta penguatan ekonomi kawasan Pantai Barat Sumatera Utara.

H. Albiner menyampaikan bahwa pembangunan konektivitas Pantai Barat Sumatera Utara perlu memasuki paradigma baru, yaitu konektivitas multidimensi. Menurutnya, kawasan Bandara Sisingamangaraja XII, Pahae, Tarutung, Pandan, hingga Pelabuhan Sibolga tidak semestinya dipandang sebagai titik-titik transportasi yang berdiri sendiri. Kawasan tersebut perlu dirancang sebagai satu kesatuan koridor strategis yang mengintegrasikan transportasi udara, jalan darat, terminal dan konektivitas kemaritiman.

“Paradigma ini menjadi semakin penting setelah bencana banjir bandang pada November 2025 yang menunjukkan tingginya kerentanan konektivitas wilayah terhadap gangguan ekologis dan hidrologis,” kata H. Albiner.

Ia mengungkapkan, kerusakan pada kawasan hulu dapat berdampak langsung terhadap wilayah hilir dan kemudian memutus rantai transportasi, distribusi logistik, mobilitas masyarakat, serta aktivitas ekonomi dari kawasan pegunungan menuju pesisir dan pelabuhan.

Dalam executive summary yang disampaikan kepada USU, terdapat sejumlah persoalan strategis yang perlu mendapatkan perhatian bersama.

Pertama, anomali hidrologi dan luapan instan yang dipengaruhi oleh degradasi vegetasi serta menurunnya kemampuan tanah dalam menyerap air.

Kedua, sedimentasi ekstrem pada ruang aliran sungai yang dapat mengurangi kapasitas aliran dan berpotensi mengganggu akses jalan serta jembatan yang menjadi penghubung utama antarkawasan.

Ketiga, dampak sosial dan ketahanan pangan masyarakat akibat terganggunya mobilitas dan distribusi logistik pascabencana.

Atas kondisi tersebut, Yayasan Riandja Sangap Gabe Arta berpandangan, pemulihan tidak cukup hanya dilakukan melalui perbaikan jalan dan jembatan. Diperlukan pendekatan yang mengintegrasikan rekonstruksi infrastruktur, pemulihan hidrologi, rehabilitasi lingkungan, ketahanan pangan, serta penguatan ekonomi masyarakat.

Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah penerapan konsep Green Infrastructure atau infrastruktur hijau yang menggabungkan pembangunan fisik dengan pemulihan fungsi ekologis kawasan.

Beberapa rekomendasi awal yang menjadi bahan kajian antara lain rekonstruksi fisik-hidrologi, termasuk penanganan sedimentasi pada titik-titik kritis atau chokepoints yang mengganggu sistem aliran dan konektivitas transportasi. Mitigasi vegetatif dan soil bioengineering, seperti pemanfaatan rumput vetiver (akar wangi), cerucuk bambu, metode konservasi tanah, dan air lainnya.

Berikutnya, rehabilitasi kawasan hulu, termasuk pengembangan budidaya Kemenyan Toba secara berkelanjutan sebagai bagian dari pemulihan ekosistem sekaligus penguatan ekonomi masyarakat. Serta program insentif pangan berbasis pemberdayaan masyarakat, termasuk gagasan Food for Work untuk mendukung pemulihan lingkungan sekaligus membantu masyarakat terdampak bencana.

Yayasan Riandja Sangap Gabe Arta menekankan bahwa pembangunan konektivitas Pantai Barat harus tetap memperhatikan kawasan ekologis yang sensitif, termasuk kawasan Batang Toru dan habitat satwa endemik. Karena itu, pendekatan Ecological Corridor perlu menjadi bagian dari substansi kajian.

Perencanaan jalur transportasi harus mempertimbangkan zonasi kawasan lindung dan penyangga, mencegah fragmentasi habitat, serta mengadopsi infrastruktur yang ramah terhadap pergerakan satwa apabila diperlukan, seperti canopy bridge maupun wildlife underpass.

Pada saat yang sama, potensi hasil hutan bukan kayu, termasuk Kemenyan Toba, perlu didorong melalui konsep hilirisasi ekonomi hijau, sehingga peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan seiring dengan perlindungan hutan.

USU Menjadi Motor Keilmuan

H. Albiner dalam audiensi tersebut  berharap pihak USU dapat mengambil peran strategis sebagai think-tank dan mitra ilmiah independen dalam pengembangan kajian tersebut.

Ia menyebutkan, kolaborasi lintas disiplin dapat melibatkan berbagai bidang keilmuan, di antaranya dengan Fakultas Teknik, untuk mengkaji tata ruang intermoda, desain jalan yang tangguh terhadap perubahan iklim, konektivitas transportasi, serta rekonstruksi dan normalisasi sistem hidrologi.

Pages: 1 2
750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN