Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Sibolga,corebusiness.co.id–Bencana longsor dan deformasi tanah yang kembali melanda kawasan Batu Jomba, Kecamatan Posong, Kabupaten Tapanuli Selatan, terus melumpuhkan urat nadi logistik lintas tengah Sumatera Utara (Sumut).
Menanggapi situasi krusial ini, Yayasan Riandja Sangap Gabe Arta (RSGA) secara resmi mengajak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk bersama-sama meninjau konsep ilmiah yang ditawarkan dalam rencana Focus Group Discussion (FGD) strategis yang akan digelar bekerja sama dengan Universitas Sumatera Utara (USU).
Sebagai informasi, Yayasan RSGA adalah lembaga nonprofit yang bergerak di bidang kajian strategis, sosial, dan pengembangan infrastruktur konektivitas wilayah. Yayasan berkomitmen mendorong pembangunan yang berkeadilan, menjaga ekosistem lingkungan, serta melahirkan solusi nyata lintas sektoral bagi kemajuan masyarakat, khususnya di wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya.
Ketua Umum Yayasan RSGA, H. Albiner Sitompul, menyampaikan bahwa penanganan Batu Jomba tidak lagi bisa bertumpu pada perbaikan tambal-sulam yang bersifat sementara. Karakteristik pergeseran tanah yang ekstrem di kawasan tersebut memerlukan pendekatan multidimensi yang memadukan keahlian teknis makro dan kajian akademis yang mendalam.
“Kami sangat mengapresiasi kerja keras jajaran Kementerian PUPR yang selama ini sigap di lapangan setiap kali terjadi longsor. Namun, demi mewujudkan keadilan sosial dan kelancaran ekonomi lintas tengah Sumatera, kita membutuhkan solusi permanen. Melalui konsep FGD yang kami gagas bersama USU, kami ingin mengundang Kementerian PUPR untuk duduk bersama, membedah alternatif solusi seperti pemetaan jalur pintas (bypass) baru yang lebih stabil, hingga mitigasi hidrologi yang komprehensif,” ujar H. Albiner Sitompul di Sibolga, Selasa (20/10/2026).
Konsep FGD yang diinisiasi oleh Yayasan RSGA bersama akademisi USU ini dirancang untuk mencairkan ego sektoral dan mengintegrasikan berbagai sudut pandang, mulai dari aspek geologi engineering, dampak kerugian ekonomi daerah, hingga konektivitas infrastruktur yang terintegrasi dengan wilayah Pantai Barat Sumatera.
Yayasan berharap kehadiran dan dukungan penuh dari Kementerian PUPR akan mempercepat lahirnya rekomendasi kebijakan yang konkret bagi pemerintah pusat. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Yayasan RSGA dalam mengawal optimalisasi konektivitas wilayah Sumut demi kesejahteraan masyarakat luas dan ketahanan logistik nasional. (Rif)