Khudori
Pengurus Pusat Perhapi
PELAKU usaha yang bergerak di industri perberasan saat ini terjepit dari dua sisi sekaligus. Di hulu, mereka menghadapi kenaikan bahan baku gabah. Harga gabah kering panen (GKP) jauh melampaui harga pembelian pemerintah (HPP) semua kualitas di petani yang hanya Rp6.500 per kilogram (kg). Saat ini harga GKP di penggilingan ada yang Rp8.200 per kg. Di hilir, mereka terjepit harga eceran tertinggi (HET) yang bersifat wajib ketika menjual beras. Tidak sedikit yang tutup usaha. Yang bertahan pun berdarah-darah.
Bagaimana penggilingan dan produsen beras terhimpit, telah diulas pada artikel “Sampai Kapan Pelaku Usaha Industri Perberasan Mampu Bertahan Terus Merugi?”, 6 Mei 2026. Lalu, bagaimana pelaku usaha berkelit dari kerugian telah diuraikan di artikel “Berkelit dari Kerugian Dengan Beras Khusus”, 7 Mei 2026, yang ternyata tidak sepenuhnya membuat mereka terbebas dari ketekoran. Pertanyaannya kemudian, adakah yang untung ketika yang lain berdarah-darah?
Ada. Pertama, petani diuntungkan oleh kebijakan HPP GKP di petani Rp6.500 per kg tanpa rafaksi atau semua kualitas. Buktinya, ketika kebijakan ini berjalan efektif di Februari 2025, rerata harga bulanan GKP 2025 di petani selalu di atas Rp6.500 per kg. Artinya, petani terbebas dari kerugian. Harga biasanya jatuh ketika panen raya: Februari-Mei. Bukti lain adalah produksi beras yang naik tinggi pada 2025 sebesar 13,3%. Jarang produksi naik segede ini.
Kedua, Badan Urusan Logistik (Bulog). Dengan kebijakan pengadaan tanpa rafaksi, membuat target penyerapan 3 juta ton setara beras pada 2025 bisa dicapai. Bahkan terlampaui. Di tahun-tahun sebelumnya, target pengadaan tidak selalu bisa dipenuhi oleh Bulog. Bahkan, sebagai pembeli awal membuat stok beras di Bulog mencapai 4 juta ton di akhir Mei 2025, tertinggi sejak Bulog berdiri pada 1967. Pengadaan yang tinggi itu membuat stok akhir tahun 2025 tinggi, di angka 3,2 juta ton. Karena itu, kebijakan ini diteruskan di 2026.
Pada 2026, Bulog ditargetkan menyerap 4 juta ton setara beras. Hingga April 2026 lalu, serapan mencapai 2 juta ton beras. Inilah yang membuat pada 24 April 2026 stok beras di Bulog mencapai 5 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Capaian-capaian ini, termasuk swasembada beras 2025, membuat pemerintah diuntungkan. Reputasi pemerintah moncer di publik. Meskipun, keuntungan nonfinansial ini harus ditebus, antara lain, kerugian (sementara) Bulog Rp550 miliar di tahun 2025, rendemen giling rendah, harga beras penyerapan Bulog tinggi, dan koyaknya ekosistem perberasan.
Ketiga, mitra maklon Bulog. Bulog membuka skema mitra maklon karena jejaring ke petani dan infrastruktur (penggilingan, dryer, dan lainnya) terbatas. Skema mitra maklon adalah salah satu kunci keberhasilan Bulog mencapai target penyerapan 3 juta ton tahun lalu. Pilihan skema mitra maklon menjadi incaran banyak penggilingan, terutama penggilingan skala kecil. Karena mereka pasti cuan tanpa keluar modal.
Pada tahun 2025 mitra maklon dibayar Rp750-Rp1.000 per kg gabah (rerata Rp875 per kg) yang diolah menjadi beras. Besar-kecilnya imbalan tergantung jasa yang dikerjakan mitra maklon. Tahun 2026, jasa mitra maklon maksimal Rp1.000 per kg. Ini mencakup biaya mengolah (maksimal) Rp745 per kg, biaya kemasan beras (maksimal) Rp55 per kg, dan ongkos angkut beras dari lokasi pengolahan ke gudang Bulog (maksimal) Rp200 per kg.
Jumlah mitra maklon Bulog tahun 2025 mencapai 2.014 unit. Jika semua pengadaan GKP sebanyak 4.537.490 ton di tahun lalu dilakukan oleh mitra maklon dan tiap kg mitra maklon mendapat balas jasa Rp875 per kg, berarti ada uang Rp3,97 triliun yang mengalir ke mitra maklon. Rerata tiap mitra maklon menerima Rp1,97 miliar. Ini jumlah yang besar. Ketika penggilingan dan pedagang beras berdarah-darah karena harga gabah tinggi dan terhimpit HET beras, mitra maklon tetap bisa bekerja dan (tentu) untung.