INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id
Ronald mencontohkan refinery yang dikelola oleh anak perusahaan patungan Antam dan Inalum, yaitu PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), yang ingin meningkatkan kapasitas produksi bauksit ke alumina. Informasinya, kata dia, boro-boro meningkatkan kapasitas, tahap re-komisioning refinery untuk pengembangan lanjutan proyek bauksit sampai hari ini belum selesai.
“Artinya, untuk mendapatkan nilai produksi bauksit 6 juta ton dengan output alumina 2 juta ton masih dalam bayang-bayang,” ucapnya.
Berikutnya, disebutkan Ronald, ada juga yang ingin menanamkan investasi tapi masih dalam angka, seperti BUMN Indonesia dengan perusahaan dari Malaysia. Kemudian Laman Mining (Bakrie Group) dengan Bumi Resources (Salim Group), itu juga masih dalam bentuk angka.
Meski demikian, Ronald mengaku senang mendengar kabar meningkatnya nilai investasi di sektor hilir bauksit. Walaupun, dimaknai olehnya masih dalam tahap perencanaan.
Ronald lantas menuturkan kondisi industri hilir dan hulu bauksit di dalam negeri yang ada saat ini. Berikut penuturannya kepada corebusiness.co.id dalam sebuah sesi wawancara.
Berapa jumlah konkret refinery yang sudah beroperasi hingga saat ini?
Refinery yang sudah beroperasi saat ini baru ada tiga, PT Well Harvest Winning Alumina Refinery, PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (ekspansi), PT Bintan Alumina Indonesia. Sebenarnya ada empat refinery, tapi Indonesia Chemical Alumina (ICA) kabarnya dijadikan sebagai pilihan dari industri hilir yang dikelola Antam.
Memang ada perusahaan yang ingin membangun refinery bauksit, jumlahnya ada sekitar tiga atau empat refinery. Namun, masih dalam tahap perencanaan.
Menyoal industri hilir bauksit jangan dimaknai secara euforia. Kita tidak ingin terjadi seperti di industri nikel, karena ujung-ujungnya moratorium pembangunan smelter. Untuk industri hilir bauksit harus punya patokan terhadap pasokan bijih bauksit. Menurut saya, produksi bijih bauksit jangan melebihi kuota 50 juta ton per tahun. Kapasitas produksi 60 juta ton saja sudah termehek-mehek.
Sebagai gambaran, kita dulu pernah produksi sekaligus untuk memenuhi kuota ekspor lebih dari 50 juta ton, itu saja sudah sangat berat. Pertimbangan produksi tidak lebih dari 50 juta ton, pertama, kita tidak ingin terus menguras cadangan bauksit di Indonesia. Kedua, supaya harga dasar bauksit bisa terjaga dengan baik. Kalau dulu kita mengejar angka ekspor 50 juta ton, harga dasar pembelian bijih bauksit jeblok juga.
Perkiraan kebutuhan bijih bauksit untuk pasokan refinery per tahun?
Jika kita punya produksi bijih bauksit 50 juta ton, tinggal dibagi tiga refinery saja untuk diproses lanjutan menjadi alumina. Perkiraan saya, dari pasokan 50 juta ton bijih bauksit, output alumina antara 15 juta ton hingga 17 juta ton.

Dari angka 17 juta ton, jika masing-masing refinery menghasilkan 2 juta ton alumina, jadi di Indonesia maksimum dibangun delapan refinery. Namun, jika kapasitas produksi alumina 3 juta ton alumina, tinggal 17 juta ton alumina dibagi 3 juta ton, maka maksimum dibangun lima atau enam refinery.
Itu rasio berpikir paling mudah. Karena, kita mempunyai material balance antara pasokan bijih bauksit 50 juta ton dan produksi alumina 1 juta ton sampai 2,2 juta ton per tahun, maka kita bisa mengestimasikan masa pakai Hak Guna Bangunan (HGB) masing-masing refinery. Karena, refinery itu kan investasi, di mana masa HGB-nya antara 25 tahun sampai 30 tahun.