Jakarta,corebusiness.co.id– PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel, perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi, menyampaikan laporan keuangan untuk semester I tahun 2026, dengan mencatatkan pendapatan sebesar Rp17,1 triliun.
“Sepanjang semester pertama tahun ini, industri nikel global masih mengalami berbagai tantangan. Dalam kondisi tersebut, kami tetap berfokus menjaga operasional yang efisien, andal, dan terukur di seluruh rantai nilai terintegrasi. Optimalisasi kapasitas produksi mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja penjualan di sejumlah segmen,” kata Direktur Keuangan Harita Nickel, Suparsin Darmo Liwan dalam keterangan resmi, pada Jumat, 31 Juli 2026.
Dalam laporan keuangan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026, Harita Nickel mencatat pendapatan sebesar Rp17,1 triliun. Kinerja tersebut didukung oleh disiplin operasional, optimalisasi kapasitas produksi, serta pengelolaan biaya yang dilakukan secara berkelanjutan di seluruh lini usaha Harita Nickel.
Dari sisi operasional, kinerja penjualan bijih nikel meningkat dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didukung oleh mulai beroperasinya fasilitas tambang baru, PT Gane Tambang Sentosa (GTS), sejak kuartal ketiga 2025, serta bertambahnya lini produksi fasilitas pirometalurgi, PT Karunia Permai Sentosa (KPS).
“Penguatan kapasitas ini turut mendukung ketersediaan bahan baku dan integrasi operasi Harita Nickel,” ujar Suparsin.
Pada segmen pirometalurgi, penjualan feronikel meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama didorong oleh output yang lebih tinggi dari tambahan lini produksi fasilitas RKEF milik KPS. Sementara itu, pada segmen hidrometalurgi, penjualan produk High Pressure Acid Leach (HPAL) dipengaruhi oleh jadwal pengiriman.
Harita Nickel, lanjut Suparsin, terus memperkuat daya saing melalui pengelolaan operasi yang terintegrasi, mulai dari kegiatan penambangan hingga pengolahan nikel. Optimalisasi kapasitas produksi yang dilakukan secara bertahap di berbagai fasilitas diharapkan dapat semakin meningkatkan fleksibilitas operasional sekaligus menjaga keandalan pasokan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Harita Nickel, masih disampaikan Suparsin, juga terus menjalankan berbagai inisiatif untuk mendukung praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan memenuhi standardisasi pasar global. Perseroan melanjutkan proses Corrective Action Plan sebagai bagian dari evaluasi berdasarkan standar The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).
Dalam proses pemenuhan standardisasi tersebut, Harita Nickel melakukan berbagai studi, memperkuat pelibatan pemangku kepentingan, menyempurnakan sistem pengelolaan lingkungan, serta mempersiapkan audit lanjutan. Hasilnya, Harita Nickel menjadi perusahaan pertama di dunia yang mempublikasikan perkembangan Corrective Action Plan IRMA sebagai bentuk transparansi kepada pemangku kepentingan dan pasar.
Selain itu, Harita Nickel terus memastikan penerapan praktik rantai pasok yang bertanggung jawab melalui Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) dan RMAP+. Sepanjang semester pertama 2026, audit lapangan RMAP telah diselesaikan untuk operasi HJF, sementara HPL dan ONC berhasil menyelesaikan proses sertifikasi ulang RMAP.
Audit lapangan RMAP+ untuk HPL dan ONC pun telah dirampungkan, dan Perseroan saat ini menindaklanjuti sejumlah temuan awal melalui Corrective Action Plan. Langkah ini, jelas Suparsin, untuk mendukung keselarasan Harita Nickel dengan berbagai persyaratan ketertelusuran dan uji tuntas di pasar internasional, termasuk regulasi baterai kendaraan listrik di Tiongkok dan Uni Eropa.
Sejalan dengan komitmennya terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab, Harita Nickel juga terus mengembangkan berbagai inisiatif dekarbonisasi untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).
Suparsin menyebutkan, salah satu inisiatif tersebut adalah pemanfaatan waste heat recovery, yaitu teknologi yang memanfaatkan panas sisa dari proses produksi di fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk menghasilkan listrik. Sehingga, energi yang sebelumnya terbuang dapat dimanfaatkan kembali dan mengurangi kebutuhan energi dari sumber lain.
“Pembangkit listrik berbasis pemanfaatan panas buang tersebut dirancang memiliki kapasitas hingga 50 MW dan ditargetkan rampung pada kuartal keempat 2026,” tukasnya.
Di sisi pengembangan energi terbarukan, proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 40 MW telah mencapai progres konstruksi sebesar 99%. Perseroan juga terus mempersiapkan transisi penggunaan B50 sebagai bagian dari dukungan terhadap program dekarbonisasi pemerintah
Suparsin menyatakan, “Ke depan, kami akan terus menjaga disiplin operasional, mengoptimalkan pemanfaatan kapasitas yang telah tersedia, serta terus menjalankan praktik usaha yang bertanggung jawab di seluruh rantai nilai.”
Langkah ini, kata dia, menjadi fondasi Harita Nickel untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan. (Rif)