Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Jakarta,corebusiness.co.id-Periset dan Penulis Skenario Biopic Ismail Marzuki, Chairil Gibran Ramadhan (CGR) menyatakan menolak menjadi pembicara tentang Ismail Marzuki dalam gelaran Jakarta Biennale 2026. Apa pasal?
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar Jakarta Biennale 2026 pada 4 Oktober-24 November di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Ajang dua tahunan sejak tahun 1974 tersebut menampilkan pameran seni rupa kontemporer dan bincang seni.
Dari serangkaian acara, disebutkan pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 15:00-17:00 WIB, akan dilaksanakan bincang tentang Ismail Marzuki di Gedung Trisno Soemardjo, dengan narasumber Paola Pietronave (Peneliti asal Italia), David Tarigan (Aktivis Musik), dan Chairil Gibran Ramadhan/CGR (Budayawan Betawi). Acara terfokus pada rencana pembuatan film dokumenter berjudul “Marzuki’s Violin”.
“Marzuki’s Violin” adalah kolaborasi antara Gudskul Ekosistem dan Paola Pietronave yang lahir dari minat bersama mereka untuk membuat film tentang Ismail Marzuki, seorang komposer, penulis lagu, dan musisi Indonesia serta pahlawan nasional dalam perjuangan kemerdekaan. Proyek ini akan dipresentasikan untuk pertama kalinya di Biennale Matter of Art dalam bentuk ceramah pengantar dan lokakarya yang dikoordinasikan oleh Berto Tukan, JJ Adibrata, Moch Hasrul Indrabakti, dan Paola Pietronave.
Sekilas tentang Paola Pietronave, dia adalah seorang kurator, seniman, mediator, dan pendiri bersama beberapa proyek dan kolektif kolaboratif. Saat ini ia sedang melakukan penelitian untuk gelar Ph.D-nya (Accademia Albertina di Belle Arti di Torino/Universitas Kalbis) tentang pengembangan bentuk-bentuk organisasi yang melibatkan metode Lumbung.
Pada tahun 2021, Paola menerbitkan La condizione italiana contemporanea: Lavoratori dell’Arte 2009–2011 (Situasi Kontemporer Italia: Pekerja Seni 2009–2011) untuk seri buku la centrale edizioni.
Menurut CGR, panitia tampaknya tidak melakukan riset memadai, sehingga tidak mengetahui bahwa seorang peneliti sejarah sosial, sastrawan, dan budayawan Betawi, rajin ngongkoin sosok Ismail Marzuki.
CGR mengungkapkan bahwa ia merupakan pemegang hak tertulis berkekuatan hukum langsung dari Rachmi Aziah (anak Ismail Marzuki) yang juga konsultan skenario Biopic Ismail Marzuki. Pada 2017, Rachmi bahkan memberi amanah kepada CGR untuk memperjuangkan berdirinya Museum Ismail Marzuki yang dijanjikan Gubernur Sutiyoso sejak 1997.
Namun CGR selaku periset Ismail Marzuki seperti Harry A. Poeze menjadi peneliti Tan Malaka, mengaku tidak terkejut.
“Orang Indonesia umumnya sangat kagum pada ras kulit putih. Apa pun yang datang dari mereka dianggap selalu lebih, di atas segalanya. Bentuk paling sederhananya meminta foto bareng bule tidak kenal dan tidak terkenal di tempat wisata, seakan mereka mahluk istimewa dari planet lain. Bila bekerja pun mereka dibayar jauh lebih besar,” CGR mengkritisi.