160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html

Mengerek Nilai Tambah Sorgum Menjadi Bioetanol

Sekjen MAI Maxdeyul Sola saat audiensi dengan Senior Vice President (SVP) Research & Technology Innovation PT Pertamina, Oki Muraza–saat ini menjabat Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Perserto), membahas pemanfaatan sorgum untuk bahan baku bioetanol. Foto: dok. MAI
750 x 100 PASANG IKLAN

Tantangan Menjaga Kesinambungan Bahan Baku

Menjaga kesinambungan suplai bahan baku untuk proses bioetanol menjadi tantangan tersendiri bagi komoditas sorgum. Maxdeyul Sola mengungkap persoalannya adalah produsen benih sorgum saat ini masih dalam skala penangkaran kecil. Ketika dibutuhkan benih dalam jumlah besar, para penangkar benih skala kecil tersebut mengalami kendala.

Presiden Jokowi pada tahun 2022, kata dia, sudah memerintahkan pengembangan tanaman sorgum di lahan seluas 180 ribu hektar, namun belum terealisasi. Karena, ketersediaan benihnya tidak mencukupi.

Mengetahui kondisi tersebut, MAI bergerak menjalin kerja sama dengan perusahaan benih dari India yang ada di Indonesia, yaitu PT Advanta Indonesia. Perusahaan ini sudah menjalin kerja sama pengembangan budidaya tanaman sorgum lebih dari 80 negara. Di antaranya dikembangkan di negara-negara Amerika Latin.

Pada tahun 2022 MAI mendorong Advanta untuk melepas varietas baru sorgum di Indonesia. Setelah persiapan selama 3 tahun, baru pada Februari 2025 varietas tersebut dilepas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Ada tiga varietas yang sudah dilepaskan di Indonesia. Varietas pertama untuk meningkatkan produktivitas biji. Produksi dari varietas ini untuk pemenuhan kebutuhan pakan ayam dan tepung untuk bahan pangan subsitusi yang semula menggunakan gandum. Bahkan, menurut Maxdeyul Sola, pemberian pakan dari olahan biji sorgum varietas ini bisa meningkatkan protein daging ayam.

Varietas benih sorgum kedua untuk menunjang program swasembada sapi dalam penyediaan daging dan susu. Jadi, cukup diambil batang sorgum untuk diproses menjadi olahan pakan sapi.

“Dari masa tanam hingga panen waktunya sekitar 2,5 bulan. Varietas ini hasilnya bisa mencapai di atas 60 ton per hektar. Kita juga sudah pernah uji coba di setiap UPT Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan,” terangnya.

Varietas ketiga untuk penyediaan bahan baku bioetanol. Varietas ketiga ini memiliki kandungan nira cukup tinggi yang dibutuhkan untuk proses bioetanol.

“Persoalannya sekarang, pengembangan tanaman sorgum belum didukung secara besar-besaran oleh pemerintah,” tukasnya.

Ia menegaskan mendukung mandatory pemerintah akan menerapkan 10 persen kandungan bioetanol wajib 10 persen dalam bensin pada tahun 2028. Termasuk langkah Pertamina bersama mitranya yang telah menyiapkan lahan seluas 6.000 hektar untuk budidaya sorgum, sehingga tercipta integrasi antara hulu, onfram, dan hilir—industri pengolahan bioetanol.

Lebih dari itu, Maxdeyul Sola berpandangan agar pemerintah menjadikan budidaya sorgum masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN). Hal ini sejalan dengan program Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo untuk mewujudkan swasembada energi nasional, khususnya dari sektor EBT, selain menciptakan peluang bisnis energi rendah karbon bagi RNE. (Syarif)

Pages: 1 2Show All
750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN