Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Jakarta,corebusiness.co.id-Proses ekstrasi biomassa dari sorgum punya potensi besar untuk dijadikan bioetanol. Selain membantu melengkapi kebutuhan energi, pun bisa menciptakan peluang bisnis rendah karbon untuk mengurangi polusi dan emisi gas rumah kaca (GRK).
Halaman depan sebuah bangunan rumah permanen di Jalan Kebagusan II, Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ditanami berbagai tanaman, terlihat hijau dipandang mata. Rumah tersebut milik Maxdeyul Sola, mantan Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian RI. Jabatan itu ia emban di era Menteri Pertanian, Bungaran Saragih.
Kini, pria berdarah Sumatera Barat tersebut aktif di pelbagai organisasi yang membidangi komoditas tanaman pangan, salah satunya dia menjabat Sekretaris Jenderal Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI).
Kedatangan corebusiness.co.id ke kediaman Maxdeyul Sola, pada Sabtu, 26 September 2026, melanjutkan wawancara seputar sorgum, salah satu komoditas serealia. Kali ini mengulik pemanfaatan sorgum untuk bahan baku bioetanol.
Maxdeyul Sola menyatakan MAI mendukung kebijakan pemerintah yang menargetkan produksi bioetanol menggunakan sumber daya domestik seperti biomassa dari kelapa sawit, jagung, dan sorgum untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor.
Terobosan ini sekaligus mendukung penyediaan energi alternatif berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang sedang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah berencana memberlakukan kandungan bioetanol wajib 10 persen dalam bensin pada tahun 2028.
Sebelum mandatory ini diberlakukan, pemerintah melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melakukan negosiasi intensif dengan Toyota Motor Corporation (Asia Region) Jepang terkait rencana investasi bersama untuk memproduksi bioetanol. Kolaborasi ini direncanakan sebagai perusahaan patungan (joint venture) bersama PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, Pertamina New & Renewable Energy (RNE).
Sebelumnya juga, Pertamina NRE dan Toyota bersepakat untuk melakukan penjajakan kerja sama untuk pembangunan pabrik bioetanol di Provinsi Lampung. Kerja sama difokuskan pada pengembangan bioetanol berbasis teknologi second generation (2G) dengan multy-feedstock dengan memanfaatkan sumber daya domestik seperti biomassa dari kelapa sawit, jagung, dan sorgum.
Jika terjadi kesepakatan, pembangunan pabrik dengan kapasitas 60.000 kiloliter bioetanol per tahun dapat dimulai pada paruh kedua tahun 2026, dengan produksi ditargetkan pada tahun 2028. Lahan seluas 6.000 hektar pun sudah disiapkan untuk perkebunan sorgum.
“Saya melihat situasi sekarang harusnya kita kembali kepada pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang kita miliki. Misalnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah berhasil melakukan penelitian terhadap cruid palm oil (CPO) dari sawit untuk bahan baku Biodisel 50 persen (B50),” kata Maxdeyul Sola.
Untuk komoditas jagung, Maxdyul Sola memperkirakan akan berkompetisi dengan kebutuhan pabrik pakan ayam. Karena, pemerintah sedang mengembangkan integrasi antara hulu dan hilir peternakan ayam. Pemerintah membutuhkan banyak telur dan daging ayam untuk puluhan juta penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Peluang paling signifikan untuk penyediaan bahan baku bioetanol adalah dari sorgum. Tanaman ini sudah lebih dari 20 tahun dibudidayakan oleh petani,” ujarnya.
Maxdeyul Sola mengutarakan bahwa MAI juga sudah melakukan penjajakan kerja sama dengan PT Pertamina terkait pemanfaatan sorgum untuk bahan baku bioetanol. Ketika itu MAI melakukan pembicaraan dengan Senior Vice President (SVP) Research & Technology Innovation PT Pertamina, Oki Muraza.
“Sekarang Pak Oki Muraza menjabat Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero),” ucapnya.
Maxdeyul Sola menyebut dua pertimbangan biomassa dari sorgum potensial sebagai bahan baku bioethanol. Pertama, sorgum memiliki beberapa varietas, salah satunya sudah ada varian varietas sorgum manis.
Batang varietas sorgum manis ini banyak menghasilkan kandungan nira. Sehingga, bisa meminimalkan penggunaan nira untuk bahan baku etanol dari batang tebu. Selain tebu masa panennya cukup lama, sekitar 9 bulanan, sementara tanaman sorgum sudah bisa dipanen antara 3,5 hingga 4 bulan.
“Menteri Pertanian, Pak Amran Sulaiman, pada Februari 2025 telah melepas bibit sorgum varietas hibrida. Potensi produktivitasnya lebih tinggi seperti jagung hibrida. Kehadiran bibit hibrida ini bisa mendukung penyediaan bahan baku untuk etanol untuk mendukung program EBT,” imbuhnya.
Kedua, dari segi lahan. Sorgum bisa dibudidayakan di lahan marjinal, sehingga tidak berkompetisi dengan tanaman lain. Lahan kering yang tidak bisa ditanam oleh tanaman lain, bisa ditanami sorgum. Ia mencontohkan lahan kering di Nusa Tenggara Timur (NTT), sangat potensial ditanami sorgum.
“Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia berpotensi memiliki puluhan juta hektar lahan marjinal, yang tidak bisa ditanami komoditas lain,” bilang sosok yang pernah menjabat staf ahli menteri di empat kementerian.
Menurutnya, teknik menanam sorgum sederhana, bisa langsung ditunggal, tanpa mengolah tanah. Untuk lahan satu hektar dibutuhkan sekitar 10 kilogram (kg) benih sorgum.