160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html

Mengerek Nilai Tambah Sorgum Menjadi Bioetanol

Sekjen MAI Maxdeyul Sola saat audiensi dengan Senior Vice President (SVP) Research & Technology Innovation PT Pertamina, Oki Muraza–saat ini menjabat Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Perserto), membahas pemanfaatan sorgum untuk bahan baku bioetanol. Foto: dok. MAI
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Proses ekstrasi biomassa dari sorgum punya potensi besar untuk dijadikan bioetanol. Selain membantu melengkapi kebutuhan energi, pun bisa menciptakan peluang bisnis rendah karbon untuk mengurangi polusi dan emisi gas rumah kaca (GRK).

Halaman depan sebuah bangunan rumah permanen di Jalan Kebagusan II, Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ditanami berbagai tanaman, terlihat hijau dipandang mata. Rumah tersebut milik Maxdeyul Sola, mantan Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian RI. Jabatan itu ia emban di era Menteri Pertanian, Bungaran Saragih.

Kini, pria berdarah Sumatera Barat tersebut aktif di pelbagai organisasi yang membidangi komoditas tanaman pangan, salah satunya dia menjabat Sekretaris Jenderal Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI).

Kedatangan corebusiness.co.id ke kediaman Maxdeyul Sola, pada Sabtu, 26 September 2026, melanjutkan wawancara seputar sorgum, salah satu komoditas serealia. Kali ini mengulik pemanfaatan sorgum untuk bahan baku bioetanol.

Maxdeyul Sola menyatakan MAI mendukung kebijakan pemerintah yang menargetkan produksi bioetanol menggunakan sumber daya domestik seperti biomassa dari kelapa sawit, jagung, dan sorgum untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor.

Terobosan ini sekaligus mendukung penyediaan energi alternatif berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang sedang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah berencana memberlakukan kandungan bioetanol wajib 10 persen dalam bensin pada tahun 2028.

Sebelum mandatory ini diberlakukan, pemerintah melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melakukan negosiasi intensif dengan Toyota Motor Corporation (Asia Region) Jepang terkait rencana investasi bersama untuk memproduksi bioetanol. Kolaborasi ini direncanakan sebagai perusahaan patungan (joint venture) bersama PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, Pertamina New & Renewable Energy (RNE).

Sebelumnya juga, Pertamina NRE dan Toyota bersepakat untuk melakukan penjajakan kerja sama untuk pembangunan pabrik bioetanol di Provinsi Lampung. Kerja sama difokuskan pada pengembangan bioetanol berbasis teknologi second generation (2G) dengan multy-feedstock dengan memanfaatkan sumber daya domestik seperti biomassa dari kelapa sawit, jagung, dan sorgum.

Jika terjadi kesepakatan, pembangunan pabrik dengan kapasitas 60.000 kiloliter bioetanol per tahun dapat dimulai pada paruh kedua tahun 2026, dengan produksi ditargetkan pada tahun 2028. Lahan seluas 6.000 hektar pun sudah disiapkan untuk perkebunan sorgum.

“Saya melihat situasi sekarang harusnya kita kembali kepada pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang kita miliki. Misalnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah berhasil melakukan penelitian terhadap cruid palm oil (CPO) dari sawit untuk bahan baku Biodisel 50 persen (B50),” kata Maxdeyul Sola.

Untuk komoditas jagung, Maxdyul Sola memperkirakan akan berkompetisi dengan kebutuhan pabrik pakan ayam. Karena, pemerintah sedang mengembangkan integrasi antara hulu dan hilir peternakan ayam. Pemerintah membutuhkan banyak telur dan daging ayam untuk puluhan juta penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Peluang paling signifikan untuk penyediaan bahan baku bioetanol adalah dari sorgum. Tanaman ini sudah lebih dari 20 tahun dibudidayakan oleh petani,” ujarnya.

Maxdeyul Sola mengutarakan bahwa MAI juga sudah melakukan penjajakan kerja sama dengan PT Pertamina terkait pemanfaatan sorgum untuk bahan baku bioetanol. Ketika itu MAI melakukan pembicaraan dengan Senior Vice President (SVP) Research & Technology Innovation PT Pertamina, Oki Muraza.

“Sekarang Pak Oki Muraza menjabat Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero),” ucapnya.

Maxdeyul Sola menyebut dua pertimbangan biomassa dari sorgum potensial sebagai bahan baku bioethanol. Pertama, sorgum memiliki beberapa varietas, salah satunya sudah ada varian varietas sorgum manis.

Batang varietas sorgum manis ini banyak menghasilkan kandungan nira. Sehingga, bisa meminimalkan penggunaan nira untuk bahan baku etanol dari batang tebu. Selain tebu masa panennya cukup lama, sekitar 9 bulanan, sementara tanaman sorgum sudah bisa dipanen antara 3,5 hingga 4 bulan.

“Menteri Pertanian, Pak Amran Sulaiman, pada Februari 2025 telah melepas bibit sorgum varietas hibrida. Potensi produktivitasnya lebih tinggi seperti jagung hibrida. Kehadiran bibit hibrida ini bisa mendukung penyediaan bahan baku untuk etanol untuk mendukung program EBT,” imbuhnya.

Kedua, dari segi lahan. Sorgum bisa dibudidayakan di lahan marjinal, sehingga tidak berkompetisi dengan tanaman lain. Lahan kering yang tidak bisa ditanam oleh tanaman lain, bisa ditanami sorgum. Ia mencontohkan lahan kering di Nusa Tenggara Timur (NTT), sangat potensial ditanami sorgum.

“Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia berpotensi memiliki puluhan juta hektar lahan marjinal, yang tidak bisa ditanami komoditas lain,” bilang sosok yang pernah menjabat staf ahli menteri di empat kementerian.

Menurutnya, teknik menanam sorgum sederhana, bisa langsung ditunggal, tanpa mengolah tanah. Untuk lahan satu hektar dibutuhkan sekitar 10 kilogram (kg) benih sorgum.

Tantangan Menjaga Kesinambungan Bahan Baku

Menjaga kesinambungan suplai bahan baku untuk proses bioetanol menjadi tantangan tersendiri bagi komoditas sorgum. Maxdeyul Sola mengungkap persoalannya adalah produsen benih sorgum saat ini masih dalam skala penangkaran kecil. Ketika dibutuhkan benih dalam jumlah besar, para penangkar benih skala kecil tersebut mengalami kendala.

Presiden Jokowi pada tahun 2022, kata dia, sudah memerintahkan pengembangan tanaman sorgum di lahan seluas 180 ribu hektar, namun belum terealisasi. Karena, ketersediaan benihnya tidak mencukupi.

Mengetahui kondisi tersebut, MAI bergerak menjalin kerja sama dengan perusahaan benih dari India yang ada di Indonesia, yaitu PT Advanta Indonesia. Perusahaan ini sudah menjalin kerja sama pengembangan budidaya tanaman sorgum lebih dari 80 negara. Di antaranya dikembangkan di negara-negara Amerika Latin.

Pada tahun 2022 MAI mendorong Advanta untuk melepas varietas baru sorgum di Indonesia. Setelah persiapan selama 3 tahun, baru pada Februari 2025 varietas tersebut dilepas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Ada tiga varietas yang sudah dilepaskan di Indonesia. Varietas pertama untuk meningkatkan produktivitas biji. Produksi dari varietas ini untuk pemenuhan kebutuhan pakan ayam dan tepung untuk bahan pangan subsitusi yang semula menggunakan gandum. Bahkan, menurut Maxdeyul Sola, pemberian pakan dari olahan biji sorgum varietas ini bisa meningkatkan protein daging ayam.

Varietas benih sorgum kedua untuk menunjang program swasembada sapi dalam penyediaan daging dan susu. Jadi, cukup diambil batang sorgum untuk diproses menjadi olahan pakan sapi.

“Dari masa tanam hingga panen waktunya sekitar 2,5 bulan. Varietas ini hasilnya bisa mencapai di atas 60 ton per hektar. Kita juga sudah pernah uji coba di setiap UPT Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan,” terangnya.

Varietas ketiga untuk penyediaan bahan baku bioetanol. Varietas ketiga ini memiliki kandungan nira cukup tinggi yang dibutuhkan untuk proses bioetanol.

“Persoalannya sekarang, pengembangan tanaman sorgum belum didukung secara besar-besaran oleh pemerintah,” tukasnya.

Ia menegaskan mendukung mandatory pemerintah akan menerapkan 10 persen kandungan bioetanol wajib 10 persen dalam bensin pada tahun 2028. Termasuk langkah Pertamina bersama mitranya yang telah menyiapkan lahan seluas 6.000 hektar untuk budidaya sorgum, sehingga tercipta integrasi antara hulu, onfram, dan hilir—industri pengolahan bioetanol.

Lebih dari itu, Maxdeyul Sola berpandangan agar pemerintah menjadikan budidaya sorgum masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN). Hal ini sejalan dengan program Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo untuk mewujudkan swasembada energi nasional, khususnya dari sektor EBT, selain menciptakan peluang bisnis energi rendah karbon bagi RNE. (Syarif)

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN