Jakarta,corebusiness.co.id-Harga minyak mentah global sudah turun, di bawah US$ 100 per barel. Namun nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar AS (USD) masih lemah.
Harga minyak mentah turun dari level tertinggi baru-baru ini pada Rabu, 27 Mei 2026, menghapus sebagian dari kenaikan 4 persen pada hari sebelumnya.
Kontrak minyak mentah Brent turun $1,52, atau 1,53 persen, menjadi $98,06 per barel pada pukul 06.33 GMT, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun $1,90, atau 2,02 persen, menjadi $91,99 per barel.
Meskipun konflik di Timur Tengah masih berkecamuk, berita menginformasikan beberapa kapal tanker LNG telah melewati selat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini meningkatkan harapan bahwa jalur air tersebut mungkin akan segera dibuka kembali, yang akan menambah pasokan global.
Hanya saja, menurunnya harga minyak mentah global belum berdampak terhadap menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hal ini pula yang membuat Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merasa tidak masuk akal. Pasalnya, menurut Purbaya, fundamental ekonomi Indonesia sedang bagus.
Terpantau nilai tukar rupiah di JISDOR Bank Indonesia (BI) pada Selasa di level Rp 17.789 per dolar AS.
“Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujar Purbaya saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026), dikutip dari detikfinance.
Saat ditanya lebih lanjut mengenai rencana menguji kembali ketahanan (stress test) Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) akibat tren pelemahan nilai tukar, Purbaya menyatakan tidak. Karena, pihaknya telah menghitung ketika harga minyak dunia menyentuh US$ 100 dolar. Justru Purbaya berkelakar bahwa dirinya yang stres.
“Ya, saya stres,” tuturnya berkelakar.
“Enggak (ada stress test), kami sudah hitung, pada waktu simulasi 100 dolar per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kami perhitungkan. Jadi enggak ada masalah, saya enggak harus hitung ulang APBN-nya,” Purbaya menekankan.
Purbaya juga menyebut imbal hasil (yield) di pasar obligasi Indonesia mengalami penurunan. Hal itu tak lepas dari aksi pemerintah melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) treasury operation demi menjaga stabilitas nilai tukar.
“Walaupun rupiah melemah, kan bond yield-nya turun. Karena aksi dari pemerintah, aksi dari teman-teman kita di (Direktorat Jenderal) Perbendaharaan, untuk sedikit membeli, supaya yield-nya agak terkendali,” terang Purbaya.
Menurutnya, selama pasar obligasi Indonesia terkendali, aliran modal asing masuk. Ke depan, kata dia, akan ada aksi lagi untuk menjaga nilai tukar rupiah.
“Jadi selama bond market terkendali, kemauan investor untuk asing ya, terutamanya untuk melakukan investasi dan pasti juga bond kita akan terjaga juga,” bebernya.
Purbaya mengatakan bahwa pemerintah sudah mulai melihat aliran masuk modal asing ke pasar obligasi domestik.
“Ke depan, akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu nilai tukar rupiah dengan lebih signifikan,” katanya. (Rif)