160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id

Di Balik Naiknya Harga Minyak: Pendapatan Exxon Menjulang, Warga AS Menentang

Ilustrasi: Warga AS menentang kebijakan Donald Trump atas keterlibatannya dalam konflik di Timur Tengah, sehingga menyebabkan harga BBM di AS naik. Foto: Foto: Reuters/Eduardo Munoz.
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Perusahaan minyak dan gas raksasa AS, Exxon Mobil, pada Selasa, 7 Juli 2026, mengisyaratkan bahwa pendapatan kuartal kedua mereka dapat meningkat sekitar $5 miliar dibandingkan kuartal pertama. Harga minyak melonjak selama perang AS-Israel dengan Iran dan margin penyulingan perusahaan juga membaik, menjadi pendorong naiknya pendapatan Exxon.

Menukil Reuters, investor mencermati laporan pendapatan Exxon untuk mendapatkan sinyal tentang bagaimana kinerja perusahaan minyak ketika mereka merilis hasil kuartal kedua. Konflik di Timur Tengah yang dimulai pada Februari menyuntikkan premi risiko geopolitik yang besar ke pasar minyak. Selama berbulan-bulan, konflik tersebut praktis menutup Selat Hormuz, yang membawa sekitar seperlima aliran minyak global.

Harga penutupan rata-rata minyak mentah Brent acuan mencapai $96,68 per barel selama kuartal April-Juni, naik 23 persen dari tiga bulan pertama tahun ini. Harga naik menjadi $109,27 per barel pada April untuk pertama kalinya sejak tahun 2022.

Segmen hulu Exxon dapat melihat peningkatan laba sekitar $1,6 miliar, menurut titik tengah perkiraan yang diberikan oleh perusahaan. Pendapatan dari penyulingan dapat meningkat sekitar $2,6 miliar karena apa yang disebut efek waktu, menurut pengajuan peraturan Exxon pada Selasa.

750 x 100 PASANG IKLAN

Pada kuartal pertama, Exxon mengalami kerugian miliaran dolar AS karena melakukan lindung nilai keuangan perusahaan terkait pengiriman fisik kargo. Pada saat itu, posisi keuangan Exxon sedang tidak baik-baik saja.

Sebagai informasi, lindung nilai (atau dikenal sebagai hedging) adalah strategi manajemen risiko keuangan yang bertujuan untuk mengurangi atau meniadakan potensi kerugian akibat fluktuasi harga, suku bunga, atau nilai tukar mata uang di masa depan. Hal ini dianalogikan seperti polis asuransi untuk melindungi nilai aset atau kewajiban bisnis.

Gangguan akibat perang dapat merugikan laba kuartal kedua di seluruh unit hulu dan hilir sekitar $1 miliar, menurut pengajuan tersebut. Perusahaan akan melaporkan hasil kuartal kedua pada 31 Juli.

Para analis memperkirakan Exxon akan melaporkan pendapatan yang disesuaikan sebesar $15,7 miliar untuk kuartal ini, menurut perkiraan konsensus analis yang dikumpulkan oleh LSEG. Angka ini sekitar tiga kali lipat pendapatan kuartal pertama.

Warga AS Minta Harga BBM Diturunkan

750 x 100 PASANG IKLAN

Di balik naiknya harga minyak dan terkerek naikknya pendapatan Exxon pada kuartal kedua, kondisi ini justru dapat memicu kekhawatiran di kalangan warga AS yang merasakan dampak kenaikan harga bensin.

Warga AS menentang keras lonjakan harga BBM akibat konflik di Timur Tengah, dengan hampir 80 persen warga mengubah kebiasaan belanja dan memangkas pengeluaran seperti liburan dan hiburan. Penolakan dan kekecewaan publik tersebut diwujudkan melalui beberapa cara.

Banyak warga AS menyuarakan kemarahan mereka karena tingginya biaya hidup. Jajak pendapat menunjukkan bahwa masyarakat menyalahkan pemerintah atas krisis harga yang BBM yang sempat melonjak hingga menembus $4.30 per galon, hingga memicu penyelidikan anti-monopoli dari Departemen Kehakiman AS.

Sekitar 67 persen warga AS merasa tertekan secara finansial oleh biaya bahan bakar. Survei dari Gallup mencatat bahwa kelompok berpenghasilan rendah adalah yang paling terdampak, dengan 73 persen dari mereka terpaksa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

750 x 100 PASANG IKLAN

Sebagai respons atas tekanan dan keluhan massal, Presiden AS Donald Trump mendesak peritel bensin untuk menurunkan harga dan mengancam akan menindak tegas praktik yang dianggap memanfaatkan situasi. Trump juga mendesak perusahaan minyak untuk berbuat lebih banyak guna menurunkan harga BBM.

Sejak aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz kembali normal bulan lalu, Trump menyatakan ingin agar rata-rata harga bensin nasional turun hingga sekitar US$ 2,50 per galon. Target Trump target tersebut jauh di bawah rata-rata harga saat ini yang mencapai sekitar US$ 3,85 per galon, bahkan sekitar 11 persen lebih rendah dibandingkan titik terendah pada masa pemerintahannya yang berada di kisaran US$ 2,81 per galon pada akhir Desember.

Harga minyak sempat turun lebih dari 1 persen pada 2 Juli, ke level terendah sejak Maret 2026. Disebut-sebut, penurunan harga minyak mentah ini didorong optimisme atas pembicaraan AS-Iran untuk meredakan kekhawatiran pasokan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan di Qatar berjalan dengan baik.

Saat itu, kontrak berjangka Brent ditutup turun $1,38, atau 1,89 persen, menjadi $71,57 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kehilangan 92 sen, atau 1,32 persen, menjadi $68,58 per barel. Kedua patokan tersebut ditutup pada level terendah dalam empat bulan.

“Negosiasi yang saat ini berlangsung di Qatar dianggap positif (dan) hal itu memungkinkan harga untuk terus turun. Bahkan, ada kemungkinan kita bisa melihat harga yang lebih rendah lagi,” kata analis Saxo Bank, Ole Hansen.

Trump mengatakan pada 2 Juli bahwa AS menjalin komunikasi dengan sangat baik dengan Iran dan bahwa pertemuan baru-baru ini di Qatar berjalan dengan baik.

AS dan Iran mengadakan pembicaraan teknis di Doha karena mereka berupaya untuk menyepakati arus pengiriman melalui Selat Hormuz dan mengamankan gencatan senjata yang langgeng. Demikian, kata seorang sumber yang memiliki pengetahuan langsung tentang pembicaraan tersebut dan seorang pejabat Iran.

“Ada lebih banyak optimisme karena lebih banyak minyak melewati Selat Hormuz,” kata Phil Flynn, analis senior untuk Price Futures Group.

“Pasar memberi sinyal bahwa begitu kita melewati ini, persaingan akan semakin ketat dan kita mungkin akan memproduksi lebih banyak minyak di dunia daripada sebelumnya,” imbuhnya.

Sementara itu, lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz mulai pulih, dengan Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa aliran minyak melalui jalur air tersebut telah kembali ke tingkat sebelum perang, tanpa menyebutkan angka pastinya.

Menurut Administrasi Informasi Energi, persediaan minyak mentah turun 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barel pekan lalu, level terendah sejak September 2018, karena permintaan kilang domestik meningkat menjelang akhir pekan libur 4 Juli.

AS Serang Iran, Harga WTI Naik Lagi

Setelah WTI AS sempat menyentuh angka $68,58 per barel, tiba-tiba pada Rabu, 8 Juli 2026, harganya kembali melonjak menjadi $72,39 per barel pada pukul 22.15 waktu AS. Harga WTI melonjak setelah militer AS melancarkan serangan terhadap Iran.

“Harga minyak AS melonjak pada perdagangan awal Rabu, memperpanjang kenaikan sesi sebelumnya, setelah militer AS melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang rapuh sedang goyah. Serangan terhadap Iran tersebut sebagai tanggapan atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz,” ungkap Komando Pusat AS pada Selasa, 7 Juli 2026.

WTI ditutup 2,8 persen lebih tinggi pada Selasa sebelum memperpanjang kenaikan dalam perdagangan pascapenutupan, setelah AS mencabut lisensi umum yang mengizinkan penjualan minyak mentah Iran menyusul serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial.

Qatar menyalahkan Iran atas serangan terhadap kapal-kapal tersebut, termasuk kapal tanker gas alam cair (LNG) Qatar yang besar, Al Rekayyat, yang dilaporkan dihantam oleh drone yang menyebabkan kebakaran di ruang mesinnya. Awak kapal selamat dan sedang dievakuasi.

Sebuah kapal tanker minyak mentah berbendera Saudi, yang diyakini sebagai supertanker Wedyan, juga mengalami kerusakan di lepas pantai Oman, menurut sumber keamanan maritim. Penyebabnya belum segera jelas.

Perkembangan ini kembali memicu kekhawatiran akan gangguan lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz. AS kembali memberlakukan sanksi terhadap penjualan minyak Iran setelah serangan terhadap LNG dan kapal tanker minyak. (Rif)

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN