INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id
Jakarta,corebusiness.co.id-Harga minyak mentah turun lebih dari 1 persen pada Rabu ke level terendah sejak Maret.
Disebut-sebut, penurunan harga minyak mentah ini didorong optimisme atas pembicaraan AS-Iran untuk meredakan kekhawatiran pasokan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan di Qatar berjalan dengan baik.
Kontrak berjangka Brent ditutup turun $1,38, atau 1,89 persen, menjadi $71,57 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kehilangan 92 sen, atau 1,32 persen, menjadi $68,58 per barel. Kedua patokan tersebut ditutup pada level terendah dalam empat bulan.
“Negosiasi yang saat ini berlangsung di Qatar dianggap positif (dan) hal itu memungkinkan harga untuk terus turun. Bahkan, ada kemungkinan kita bisa melihat harga yang lebih rendah lagi,” kata analis Saxo Bank, Ole Hansen, dikutip Reuters, Kamis (2/7/2026).
Trump mengatakan pada Rabu bahwa AS menjalin komunikasi dengan sangat baik dengan Iran dan bahwa pertemuan baru-baru ini di Qatar berjalan dengan baik.
AS dan Iran mengadakan pembicaraan teknis di Doha karena mereka berupaya untuk menyepakati arus pengiriman melalui Selat Hormuz dan mengamankan gencatan senjata yang langgeng. Demikian, kata seorang sumber yang memiliki pengetahuan langsung tentang pembicaraan tersebut dan seorang pejabat Iran.
“Ada lebih banyak optimisme karena lebih banyak minyak melewati Selat Hormuz,” kata Phil Flynn, analis senior untuk Price Futures Group.
“Pasar memberi sinyal bahwa begitu kita melewati ini, persaingan akan semakin ketat dan kita mungkin akan memproduksi lebih banyak minyak di dunia daripada sebelumnya,” imbuhnya.
Sementara itu, lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz mulai pulih, dengan Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa aliran minyak melalui jalur air tersebut telah kembali ke tingkat sebelum perang, tanpa menyebutkan angka pastinya.
Perkiraan Harga Minyak Dipangkas
Menurut Administrasi Informasi Energi pada Rabu, seperti diberitakan Reuters, di AS, persediaan minyak mentah turun 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barel pekan lalu, level terendah sejak September 2018, karena permintaan kilang domestik meningkat menjelang akhir pekan libur 4 Juli.
Namun, penurunan tersebut lebih kecil dari ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters untuk penurunan sebesar 4,5 juta barel.
Setelah lima kenaikan bulanan berturut-turut, analis telah memangkas perkiraan harga minyak 2026 mereka untuk pertama kalinya sejak perang Iran dimulai, karena pembukaan kembali Selat Hormuz meredakan kekhawatiran atas gangguan pasokan yang berkepanjangan. Demikian menurut jajak pendapat Reuters.
Harga Brent turun sekitar $45 per barel pada kuartal kedua tahun ini, penurunan kuartalan terbesar sejak krisis keuangan global pada tahun 2008. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS turun sekitar $31 per barel, penurunan kuartalan terbesar sejak tahun 2020, ketika pandemi Covid-19 menghancurkan permintaan minyak global.
Penurunan tersebut terjadi setelah kemajuan menuju pengakhiran konflik Timur Tengah, setelah kenaikan tajam pada bulan Maret yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran.
Semantara itu, negara-negara penghasil minyak OPEC+ kemungkinan akan menyepakati peningkatan lebih lanjut dalam target produksi mereka mulai Agustus ketika mereka bertemu pada Minggu. (Rif)