INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id
Jakarta,corebusiness.co.id-Upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri ketergantungan Washington pada mineral kritis dari Tiongkok pada Januari 2027 bertabrakan dengan kenyataan pahit: penambang dan industri pengolah AS belum siap.
Trump telah menjadikan penambangan dan industri pengolahan mineral kritis AS sebagai prioritas keamanan nasional sejak kembali menjabat Presiden AS pada tahun 2025. Ia menggelontorkan puluhan miliar dolar ke hampir 150 perusahaan mineral untuk memperkuat pasokan dalam negeri, dan berupaya lepas dari cengkeraman impor Tiongkok, khususnya jenis logam tanah jarang.
Menukil Reuters, industri pertahanan dan produsen lainnya di AS diperkirakan hanya tinggal lima bulan lagi dari tenggat waktu 1 Januari 2027, berdasarkan peraturan federal, untuk berhenti membeli logam tanah jarang, magnet, tungsten, molibdenum, dan tantalum dari Tiongkok, Rusia, Iran, atau Korea Utara.
Washington telah berupaya membatasi impor komoditas tersebut selama bertahun-tahun, tetapi eksekutif secara rutin memberikan pengecualian kepada perusahaan karena pasokan mineral kritis AS tidak dapat memenuhi permintaan.
Trump mengecam pengecualian semacam itu dalam unggahan tanggal 10 Mei di platform Truth Social miliknya, dengan mengatakan: “SEMUA AGENSI FEDERAL HARUS MEMBELI PRODUK AMERIKA—TIDAK ADA ALASAN!” Senin lalu, ia menandatangani perintah eksekutif yang semakin mempersulit kontraktor pertahanan untuk mendapatkan pengecualian.
Kenyataannya adalah perusahaan tambang mineral AS masih jauh dari pemenuhan kebutuhan domestik, menurut wawancara dengan 16 eksekutif industri, investor, analis, dan pembuat kebijakan.
Menurut data dari konsultan Arthur D. Little, pada tahun 2025 permintaan perusahaan AS untuk jenis magnet tanah jarang rerata sekitar 48.000 metrik ton, sementara industri pengolahan domestik memasok 300 metrik ton. Hingga akhir tahun 2026, perusahaan-perusahaan AS diperkirakan memiliki kapasitas produksi magnet tanah jarang sebanyak 5.000 metrik ton.
Logam tanah jarang, yang termasuk di antara 60 mineral yang dianggap penting’ oleh Washington, harus diproses sebelum diubah menjadi magnet yang digunakan untuk membuat senjata, mobil, komputer, dan produk lainnya.
Perusahaan-perusahaan AS belum memproduksi tungsten sejak 2015 dan tantalum sejak 1959. Guardian Metal Resources sedang berupaya membuka tambang tungsten AS pada tahun 2028, sementara Lion Rock Resources sedang mengembangkan tambang tantalum di South Dakota, namun tanpa jadwal pembukaan yang pasti.
Chris Berry, seorang analis dan konsultan industri mineral, mengatakan bahwa industri AS memiliki sedikit peluang untuk memproduksi mineral kritis yang cukup untuk mengakhiri pengecualian pada Januari 2027.
“Akan butuh bertahun-tahun lagi untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan agar bisa bersaing,” kata Berry.
AS adalah negara yang memiliki cadangan besar mineral kritis. Hanya saja kondisinya saat ini kapasitas produksi perusahaan tambang masih belum memenuhi kebutuhan industri pengolahan mineral kritis tersebut.
Sementara industri pengolahan mineral kritis Tiongkok terus tumbuh pada akhir abad ke-20 dan mengendalikan lebih dari 80 persen sektor tersebut saat ini.
Badan Energi Internasional AS memperingatkan bahwa $6,5 triliun manufaktur global berisiko jika Beijing memberlakukan pembatasan ekspor pada logam tanah jarang, seperti yang telah dilakukannya secara berkala dalam beberapa tahun terakhir. (Rif)