Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Jakarta,corebusiness.co.id-Iran akan menaikkan harga bahan bakar bagi pengguna yang melebihi 110 liter per bulan mulai Selasa.
Hal itu disampaikan Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, dalam komentar yang dimuat oleh media pemerintah, Minggu, 6 September 2026.
Menurut Mohajerani, kebijakan menaikkan harga bensin seiring dengan peningkatan upaya untuk mengatasi masalah yang disebabkan oleh perang dan sanksi ekonomi AS terhadap Iran.
Ia menyebutkan, harga bensin kuota pertama dan kedua, yang mencakup 110 liter, tetap tidak berubah, tetapi harga kuota ketiga akan dinaikkan menjadi 100.000 rial Iran per liter (sekitar 4 sen AS berdasarkan kurs pasar bebas).
Kenaikan harga bensin di Iran, yang merupakan salah satu yang terendah di dunia, telah dibahas oleh pemerintah dan ditunda di tengah kekhawatiran bahwa hal itu dapat memicu protes baru. Iran mengalami protes besar-besaran pada tahun 2019 terkait masalah yang sama.
“Kenaikan harga bahan bakar hanya akan memengaruhi konsumen yang membutuhkan lebih dari 110 liter per bulan dan disebabkan oleh kondisi saat ini,” ungkap Mohajerani.
Sebelumnya, pada Desember 2025, Iran menaikkan sebagian harga bensin bersubsidi untuk sebagian besar pengguna, karena anggota OPEC tersebut berupaya mengendalikan meningkatnya permintaan bahan bakar.
Konflik AS vs Iran Berlanjut, Harga Minyak Naik
Sementara itu, seperti dilansir Reuters, harga minyak naik lebih dari $1 per barel pada Senin, 7 September 2026, disebut-sebut akibat dampak serangan balasan antara AS dan Iran terhadap kapal-kapal yang berlayar di Selat Hormuz dan daerah lain, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan dari Timur Tengah.
Kontrak minyak mentah Brent naik $1,20, atau 1,25%, menjadi $97,48 per barel pada pukul 07:27 GMT, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di $92,62 per barel, naik $1,14 sen, atau 1,25%.
Brent naik 7,8% pekan lalu sementara WTI naik hampir 10% setelah AS dan Iran melanjutkan serangan dan menyebabkan pengurangan aliran minyak melalui Selat Hormuz, tempat seperlima pasokan minyak dunia dulunya transit.
Pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu, kata Komando Pusat AS, termasuk satu di lepas pantai Pulau Kharg, dekat pusat ekspor minyak utama Iran.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan pada Sabtu bahwa mereka menargetkan tiga kapal tanker minyak yang melakukan perjalanan melalui rute yang tidak sah di Selat Hormuz serta tiga kapal AS tambahan di daerah lain. Serangan Sabtu tersebut merupakan “eskalasi besar dalam konflik maritim,” kata perusahaan intelijen maritim Marisks.
“Kapal tanker komersial kini sengaja digunakan sebagai instrumen tekanan ekonomi timbal balik, yang secara substansial melemahkan perbedaan sebelumnya antara konfrontasi militer dan pelayaran komersial,” ujar Marisks.
Rata-rata sepuluh kapal komoditas melintasi Selat Hormuz per hari selama sepuluh hari terakhir, terendah sejak Mei. Demikian data dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan pada Senin.
“Jika lalu lintas kapal tanker mulai melambat secara signifikan, pasar dapat memperhitungkan guncangan pasokan yang jauh lebih besar. Dan sudah ada tanda-tanda bahwa ini sedang terjadi,” kata Priyanka Sachdeva, kepala wawasan pasar di Phillip Nova.
Sementara Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan bahwa Iran akan mengumumkan zona terlarang di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.
Kebuntuan berkepanjangan, yang diwarnai oleh aksi militer terukur oleh AS dan Iran, tampaknya merupakan skenario yang paling mungkin dan kemungkinan akan menunda jalan menuju pemulihan penuh pasokan Timur Tengah, kata analis ANZ dalam sebuah catatan.
Analis tersebut memperkirakan ekspor minyak akan tetap terbatas hingga akhir tahun 2026, sebelum pembukaan kembali secara bertahap pada akhir kuartal keempat tahun 2026, seraya menambahkan bahwa kembalinya volume produksi seperti sebelum perang tidak diharapkan hingga akhir kuartal pertama atau awal kuartal kedua tahun 2027. (Rif)