INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id
Warga AS Minta Harga BBM Diturunkan
Di balik naiknya harga minyak dan terkerek naikknya pendapatan Exxon pada kuartal kedua, kondisi ini justru dapat memicu kekhawatiran di kalangan warga AS yang merasakan dampak kenaikan harga bensin.
Warga AS menentang keras lonjakan harga BBM akibat konflik di Timur Tengah, dengan hampir 80 persen warga mengubah kebiasaan belanja dan memangkas pengeluaran seperti liburan dan hiburan. Penolakan dan kekecewaan publik tersebut diwujudkan melalui beberapa cara.
Banyak warga AS menyuarakan kemarahan mereka karena tingginya biaya hidup. Jajak pendapat menunjukkan bahwa masyarakat menyalahkan pemerintah atas krisis harga yang BBM yang sempat melonjak hingga menembus $4.30 per galon, hingga memicu penyelidikan anti-monopoli dari Departemen Kehakiman AS.
Sekitar 67 persen warga AS merasa tertekan secara finansial oleh biaya bahan bakar. Survei dari Gallup mencatat bahwa kelompok berpenghasilan rendah adalah yang paling terdampak, dengan 73 persen dari mereka terpaksa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Sebagai respons atas tekanan dan keluhan massal, Presiden AS Donald Trump mendesak peritel bensin untuk menurunkan harga dan mengancam akan menindak tegas praktik yang dianggap memanfaatkan situasi. Trump juga mendesak perusahaan minyak untuk berbuat lebih banyak guna menurunkan harga BBM.
Sejak aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz kembali normal bulan lalu, Trump menyatakan ingin agar rata-rata harga bensin nasional turun hingga sekitar US$ 2,50 per galon. Target Trump target tersebut jauh di bawah rata-rata harga saat ini yang mencapai sekitar US$ 3,85 per galon, bahkan sekitar 11 persen lebih rendah dibandingkan titik terendah pada masa pemerintahannya yang berada di kisaran US$ 2,81 per galon pada akhir Desember.
Harga minyak sempat turun lebih dari 1 persen pada 2 Juli, ke level terendah sejak Maret 2026. Disebut-sebut, penurunan harga minyak mentah ini didorong optimisme atas pembicaraan AS-Iran untuk meredakan kekhawatiran pasokan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan di Qatar berjalan dengan baik.
Saat itu, kontrak berjangka Brent ditutup turun $1,38, atau 1,89 persen, menjadi $71,57 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kehilangan 92 sen, atau 1,32 persen, menjadi $68,58 per barel. Kedua patokan tersebut ditutup pada level terendah dalam empat bulan.
“Negosiasi yang saat ini berlangsung di Qatar dianggap positif (dan) hal itu memungkinkan harga untuk terus turun. Bahkan, ada kemungkinan kita bisa melihat harga yang lebih rendah lagi,” kata analis Saxo Bank, Ole Hansen.
Trump mengatakan pada 2 Juli bahwa AS menjalin komunikasi dengan sangat baik dengan Iran dan bahwa pertemuan baru-baru ini di Qatar berjalan dengan baik.
AS dan Iran mengadakan pembicaraan teknis di Doha karena mereka berupaya untuk menyepakati arus pengiriman melalui Selat Hormuz dan mengamankan gencatan senjata yang langgeng. Demikian, kata seorang sumber yang memiliki pengetahuan langsung tentang pembicaraan tersebut dan seorang pejabat Iran.
“Ada lebih banyak optimisme karena lebih banyak minyak melewati Selat Hormuz,” kata Phil Flynn, analis senior untuk Price Futures Group.
“Pasar memberi sinyal bahwa begitu kita melewati ini, persaingan akan semakin ketat dan kita mungkin akan memproduksi lebih banyak minyak di dunia daripada sebelumnya,” imbuhnya.
Sementara itu, lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz mulai pulih, dengan Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa aliran minyak melalui jalur air tersebut telah kembali ke tingkat sebelum perang, tanpa menyebutkan angka pastinya.
Menurut Administrasi Informasi Energi, persediaan minyak mentah turun 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barel pekan lalu, level terendah sejak September 2018, karena permintaan kilang domestik meningkat menjelang akhir pekan libur 4 Juli.