160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html

CORE Indonesia Ungkap Dampak Hilirisasi Industri Nikel bagi Masyrakat Lokal

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal saat menjelaskan perkembangan hilirisasi industri nikel di Indonesia di acara MediaMIND 2026.
750 x 100 PASANG IKLAN

Kesenjangan Masyarakat Lokal

Faisal mengatakan, pertumbuhan sektor industri nikel di Morowali dan Morowali Utara seiring masuknya investasi di industri pertambangan, baik dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA). Menurutnya, drastisnya nilai investasi di sektor hulu dan hilir nikel tersebut ternyata ikut mendongkrak Produk Domestik Regional Broto (PDRB) Morowali dan Morowali Utara.

“Kalau kita melihat dari indikator PDRB per kapita Morowali dan Morowali Utara ada lompatan yang sangat tinggi,” ucapnya.

Hanya saja, sergahnya, tingginya PDRB per kapita kedua daerah tersebut kontras dengan sisi pengeluaran masyarakat per kapita. Di Morowali itu hanya ada kenaikan 2 persen, Morowali Utara juga hampir 2 persen. Padahal pertumbuhan PDRB di kedua daerah ini meningkat.

“Inilah PR yang ingin di yang ingin diatasi, bagaimana supaya investasi yang besar masuk itu juga dirasakan oleh masyarakat yang ada di situ. Bagaimana caranya supaya industri besarnya itu melibatkan industri setempat yang kecil-kecil. Kalau dari catatan kami, misalnya di Morowali, ada 5.600-an UMKM yang terintegrasi atau dia punya rekanan sama industri yang ada di Morowali, baik itu IMIP dan yang lain-lain itu, tapi baru dikerjasamakan dengan 30 UMKM,” paparnya.

CORE mencari musababnya. Ternyata, terjadi kesenjangan antara kapasitas SDM dengan yang dibutuhkan industri. Faisal mengungkapkan, kemampuan UMKM lokal belum memenuhi ketentuan yang diharapkan pihak perusahaan.

Dari sisi penyerapan tenaga kerja pun terbilang masih kecil. Di Morowali, misalnya, orang lokal yang dipekerjakan di perusahaan-perusahaan industri nikel antara 8 persen- 15 persen.

“Sebetulnya kebutuhan tenaga kerja industri nikel di sana besar. Tapi, kalau hanya mengandalkan pada kapasitas tenaga kerja lokal, akan ada banyak gap-nya,” imbuhnya.

Di pihak lain, masih disampaikan Faisal, adanya preferensi bagi investor asing yang mengutamakan tenaga kerja dari negara asalnya.

“Nah, itu itu juga nggak bisa kita tutup-tutupi. Saya melihat sendiri tenaga kerja asing itu baru turun dari pesawat dan langsung masuk ke kawasan industri. Ketika saya berkomunikasi, mereka tidak bisa bahasa Indonesia dan bahasa Inggris,” ungkapnya.

Faisal menyampaikan apresiasi atas responsif Pemkab Morowali yang kemudian mendirikan Politeknik yang mengajarkan pendidikan, pelatihan, hingga vokasi bagi anak-anak muda lokal. Mereka yang telah menyelesaikan studi di Politeknik akan disalurkan bekerja di industri tambang di Morowali. Program ini untuk meningkatkan kualitas SDM masyarakat lokal. (Syarif)

 

 

Pages: 1 2Show All
750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN