Jakarta,corebusiness.co.id-Tin Latifah mendapat penugasan strategis dari Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian. Penugasan untuk mendukung keberlanjutan swasembada beras dan komoditas pangan strategis lainnya.
Mentan Andi Amran Sulaiman melantik 30 pejabat baru di Eselon II di lingkungan Kementan pada selasa, 18 Agustus 2026. Salah satu pejabat yang dilantik adalah Yudi Sastro sebagai Staf Ahli Bidang Lingkungan Pertanian. Sebelumnya, Yudi Sastro menjabat Direktur Jenderal Tanaman Pangan.
Untuk mengakselarasikan koordinasi kinerja di lingkungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Mentan Amran menunjuk Tin Latifah untuk memimpin sementara ditjen tersebut.
Secara definitif, Tin Latifah adalah salah satu pejabat tinggi di Kementan yang saat ini menjabat Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Kelembagaan, Regulasi, dan Reformasi Birokrasi. Sebelumnya, ia pernah mengemban tugas penting sebagai Sekretaris Inspektorat Jenderal, sekaligus perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut pada Januari 2023. Ia juga pernah menjabat Plt. Inspektur Jenderal Kementan.
Amran memberi penugasan strategis kepada Tin Latifah untuk mengorkestrasi pelaksanaan program-program Ditjen Tanaman Pangan untuk mendukung keberlanjutan swasembada beras dan komoditas pangan strategis lainnya.
Untuk komoditas beras, seperti disampaikan Amran, berdasarkan proyeksi neraca pangan 2026, produksi beras diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, sementara kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus sekitar 3,67 juta ton.
Sementara berdasarkan data FAO, Indonesia diperkirakan menjadi produsen beras terbesar di ASEAN dengan produksi mencapai 38,6 juta ton dan menempati peringkat ke-4 dunia untuk 2026/2027.
Amran menyebut, saat ini stok cadangan beras hingga Agustus 2026 mencapai 5,25 juta ton. Menurutnya, capaian tersebut semakin lengkap dengan keberhasilan Indonesia kembali menargetkan ekspor beras ke Malaysia dengan pengiriman awal mencapai 1.000 ton dan peluang pasar yang dapat berkembang hingga 200.000 ton bahkan 1 juta ton.
“Ini adalah persembahan dari Bapak-Ibu semua. Bukan kerja saya, ini kerja kita semua,” kata Amran saat menjadi inspektur upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kementan, Senin, 17 Agustus 2026.
Selain swasembada dan ekspor beras, Amran menyampaikan terjadi peningkatan kesejahteraan petani menjadi capaian penting sektor pertanian. Ia mengatakan kesejahteraan petani saat ini berada pada level tertinggi dalam 34 tahun terakhir yaitu 127,84 pada bulan Juli 2026.
“Capaian yang menggembirakan adalah kesejahteraan petani tertinggi selama 34 tahun,” ujarnya.
Kinerja sektor pertanian juga tercermin dari peningkatan ekspor yang mencapai sekitar Rp166 triliun, sementara impor turun Rp41 triliun. Dengan demikian, sektor pertanian memberikan nilai tambah sekitar Rp200 triliun bagi perekonomian nasional.
Amran juga menyoroti kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen yang menurutnya menjadi salah satu kebijakan penting dalam mendorong produktivitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Meski mencatat sejumlah keberhasilan, Amran mengatakan pemerintah masih memiliki pekerjaan besar untuk mencapai swasembada pada seluruh komoditas strategis. Dari 11 komoditas yang menjadi sasaran, kata dia, masih terdapat tiga komoditas yang perlu terus dikejar, yakni kedelai, daging dan susu.
“Kita akan mendorong, mengejar. Dari 11 komoditas, masih ada tiga yang harus kita kejar, yaitu daging sapi, susu dan kedelai. Kami yakin kalau kita kolaborasi dan kompak, pasti ini bisa kita capai,” ucapnya.
Amran optimistis target tersebut dapat diwujudkan dalam tiga hingga lima tahun ke depan melalui penguatan produksi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. (Rif)