Jakarta,corebusiness.co.id-Satu hari setelah hari kelahirannya yang ke-112, pada Selasa, 12 Mei 2026, di Auditorium Ki Nartosabdho, Kantor Pusat MURI/Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading, Jakarta Timur, digelar pencanangan “Mei Bulan Ismail Marzuki”. Ismail Marzuki lahir pada 11 Mei 1914 di Kampung Kwitang dan meninggal pada 25 Mei 1958 di Kampung Tenabang, Jakarta Pusat.
Acara yang dikemas dalam bentuk konferensi pers ini terselenggara sebagai hasil gagasan dari Chairil Gibran Ramadhan, seorang sastrawan, budayawan Betawi, dan Pendiri Betawi Institute. Hadir sebagai pembicara Neno Warisman (Tenaga Ahli Kementerian Kebudayaan RI), Jaya Suprana (Pendiri Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dan Jaya Suprana Institute), dan Chairil Gibran Ramadhan (CGR).
Dari beberapa hal yang disampaikan ketiga narasumber, ada dua hal penting yang menjadi maksud dan tujuan dari acara ini. Tujuan pertama, mendorong pemerintah untuk secara informal menetapkan Mei sebagai Bulan Ismail Marzuki. Kedua, mendorong pemerintah untuk mendukung penuh pembuatan biopic Ismail Marzuki berdasarkan skenario riset karya CGR.
Pada acara ini, ditampilkan sampul buku dari skenario yang dibukukan sejak 2020 namun tidak pernah dipublikasikan. Demi menjaga gagasannya tidak dicuri dan diakui oleh pihak lain, seperti yang terjadi pada kasus uang kertas RI bernuansa Betawi pada nominal 2000 dan 100 ribu (diberi istilah “Duit Betawi” oleh CGR), CGR akan mendaftarkan ke Dirjen HAKI.
Menurut CGR, skenario yang ia kerjakan antara tahun 2011-2017 atas bantuan Enison Sinaro dan Laora Arkeman sebagai supervisor, akan diluncurkan berbarengan dengan biopic Ismail Marzuki.
“Skenario ini pada 2018 mendapat restu dan hak penulisan dari Ibu Rachmi Aziah, putri semata wayang Ismail Marzuki. Beliau juga turut menjadi narasumber penulisan skenario tersebut,” ujar CGR.
Proyek biopic ini diharapkan mendapat dukungan dari Kemenbud RI, sehingga perjalanan hidup Sang Komponis Pejuang yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2004 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dapat direalisasikan. Sebagai informasi, sebelumnya, pada 1968 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, namanya diabadikan sebagai Taman Ismail Marzuki di Cikini, Jakarta Pusat.
Direncanakan, film ini akan diproduksi oleh PT Produksi Film Negara (PFN) dan Padasan Pictures, serta dukungan Jaya Suprana yang merupakan pengagum Ismail Marzuki. Jaya Suprana juga mengagumi budayawan dan sejarawan Betawi, Ridwan Saidi, yang merupakan guru langsung dari CGR.
Secara khusus, sebanyak 14 lagu karya Ismail Marzuki dimainkan Jaya Suprana dalam album “Suita Marzukiana” (Virgo Music, 2014), yang 100 persen keuntungan penjualannya diberikan ke Yayasan Bhakti Luhur, Cilincing.
Perjodohan CGR dan Jaya Suprana semakin memiliki kekuatan seiring adanya dukungan dari Neno Warisman. Selaku Tenaga Ahli Kemenbud RI, ia memiliki arti strategis dalam mendorong penguatan dukungan negara terhadap pelestarian karya dan pemikiran Ismail Marzuki. Dalam acara ini, Neno menyampaikan pandangannya sekaligus komitmen pemerintah terhadap pengembangan kebudayaan nasional yang berbasis pada warisan tokoh-tokoh besar bangsa.
“Peran Neno sangat krusial, karena ia berada di titik temu antara gagasan kultural dan kebijakan negara,” ucap Jaya Suprana.
Menurut CGR, Ismail Marzuki adalah komponis nasional satu-satunya yang berhasil mencatatkan dalam lagu setiap titik sejarah revolusi Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan. Sekadar menyebutkan beberapa karyanya adalah Gugur Bunga, Rayuan Pulau Kelapa, Halo-Halo Bandung, dan Indonesia Tanah Pusaka.
“Lagu-lagu ini tidak hanya mampu menguatkan kecintaan pada Indonesia sebagai bentuk nasionalisme, namun juga membuat kita menitikkan air mata untuk negeri yang kini berantakan,” tukas CGR.
Sisi romantis Ismail Marzuki, kata dia, terlihat dalam Juwita Malam, Sabda Alam, Aryati, Payung Fantasi, dan lainnya. Adapun lagu karyanya yang mencatat dengan baik sejarah sosial terkait Islam di Betawi adalah Selamat Hari Lebaran, yang abadi hingga hari ini.
Majalah Rolling Stone Indonesia, pada tahun 2008 menobatkan Ismail Marzuki sebagai salah satu The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa. Komponis musik klasik Ananda Sukarlan bahkan menciptakan beberapa concerto berdasarkan lagu-lagu Ismail Marzuki berjudul Concertpo Marzukiana untuk solo piano, biola, dan harpa.
Fakta Tragis
Dalam kesempatan wawancara, CGR juga mengungkapkan fakta tragis yang ditemukannya pada masa akhir penulisan skenario film Ismail Marzuki. Rachmi Aziah mengatakan bahwa pada masa Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, pihak Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM) meminta barang-barang peninggalan Ayahnya yang ada di rumah Rachmi untuk dibawa ke Cikini. Dijanjikan untuk keperluan pendirian Museum Ismail Marzuki. Namun hingga tahun 2017 saat skenario itu selesai dikerjakan dalam draf keenam, museum tersebut tidak pernah ada. Barang-barangnya, menurut Rachmi, hanya diletakkan sembarangan tanpa perawatan.
Tahun itu juga, selain memberikan surat resmi atas hak penulisan skenario Ismail Marzuki kepada CGR, Rachmi secara lisan meminta CGR untuk mengurus berdirinya Museum Ismail Marzuki di TIM.
“Sebelum saya meninggal, saya ingin melihat museum Bapak berdiri. Tolong bicarakan dengan Pak Anies, Bang,” CGR menyampaikan amanah Rachmi.
Namun jangankan membicarakan pendiriannya, untuk melihat barang-barang itu saja CGR tidak diperkenankan oleh pengelola PKJ TIM.
Kendala lain yang dialami oleh CGR terkait keberadaan Ismail Marzuki setelah kematiannya berlanjut ketika ia mengajukan pembuatan film dokumenter Ismail Marzuki pada 2018 kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. Semua langkah yang diikuti dari A hingga Z, ternyata patah pada akhir proses. Dikatakan oleh Rusmantoro selaku penanggung jawab bahwa berkas yang diajukan kurang syarat formalnya. Ini hal sangat mengherankan, karena seharusnya hal tersebut disampaikan saat awal pengajuan.
Tahun berikutnya, CGR bersama tim film Ismail Marzuki bahkan hingga menghadap Kadisparbud Jawa Barat, Ida Hernida, setelah melakukan komunikasi melalui e-mail dan SMS. Kedatangannya untuk mendapat dukungan, mengingat Ismail Marzuki pernah 10 tahun tinggal di Bandung, istrinya orang Bandung, dan menulis enam lagu berlatar Kota Bandung dan Tanah Pasundan. Namun bertempat di Museum Sri Baduga, Ida Hernida mengatakan bahwa ia tidak suka menonton film dan malah membicarakan keberhasilannya selama tiga hari menutup jalan di Kota Bandung untuk acara sepeda gembira.
Rachmi menyatakan bahwa dirinya sangat gembira dan berterima kasih atas langkah tim film yang terdiri dari Enison Sinaro, CGR, dan Laora Arkeman, untuk mengangkat kisah perjalanan hidup Ayahandanya.
“Ini merupakan penghargaan tak terhingga kepada Pak Ismail Marzuki yang telah berkarya untuk negeri ini melalui lagu. Ketekunan Bang CGR melakukan riset-riset, membuat skenario ini punya kekuatan. Semoga film dan buku Ismail Marzuki: Nada,Cinta, Bangsa mendapat sambutan yang baik dari masyarakat,” tutur Rachmi pada Rabu, 5 Juli 2017, di rumahnya di Depok, Jawa Barat. Rachmi meninggal dunia pada Minggu, 11 Mei 2025.
Di tengah maraknya persoalan nasionalisme, patriotisme, keutuhan NKRI, dan demi menghormati jejak karya Ismail Marzuki, tentunya kisah hidup Sang Pahlawan Nasional sangat diperlukan. Namun apa dinyana, Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN)–kini PFN– yang sudah menyatakan kesediaan untuk memproduksi, hingga 2026 ini belum juga bergerak dengan alasan ketiadaan dana.
Enison Sinaro sutradara dan pengajar senior di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), mengaku pada 1995 ada rencana serupa yang melibatkan Mira Lesmana (produser), Fariz RM (penata musik), Sekjar Ayu Asmara (pemnulis skenario), dan dirinya sebagai sutradara. Namun hal itu tidak terlaksana karena Sekar tidak menemukan bahan yang memadai untuk penulisan naskah.
Iwan Piliang dari PPFN mengakui bahwa naskah yang ditulis oleh CGR sudah merupakan naskah matang dan tinggal diproduksi. Dalam skenario tersebut, CGR menampilkan kehidupan sang komponis pejuang melingkupi kelahiran, perjalanan kehidupan asmara, penciptaan lagu dan karir bermusik, nasionalisme sebagai seorang seniman, hingga kematiannya yang indah, dengan dihiasi lagu-lagu karyanya–seakan Ismail Marzuki tahu bahwa kisah hidupnya akan difilmkan dengan bertabur lagu-lagu tersebut. (Rif)