160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id

Sekjen MAI Maxdeyul Sola: Calon Wamentan Baru Harus Punya Pengalaman dan Konsep Holistik

Sekretaris Jenderal Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI) Maxdeyul Sola. Foto: dok. Pribadi.
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Sekretaris Jenderal Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI) Maxdeyul Sola menyatakan, sosok Wakil Menteri Pertanian (wamentan) yang akan menggantikan Sudaryono harus mempunyai visi membangun agribisnis dan bisa mengembangkan agroindustri atau hilirisasi secara holistik.

Jabatan wamentan hingga saat ini masih kosong sejak Sudaryono dilantik secara resmi sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu, 22 Juli 2026.

Sementara Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan calon wamentan pengganti Sudaryono telah disiapkan. Namun, ia belum bersedia mengungkap identitas sosok tersebut dan menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Presiden Prabowo Subianto.

“Sudah, sudah (ada nama calon wamentan baru),” kata Amran di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta Pusat, Kamis, 24 Juli 2026.

Namun, Amran enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai proses penunjukan pengganti Sudaryono. Ia hanya meminta publik bersabar sembari menunggu keputusan Presiden Prabowo.

Terpisah, Sekjen MAI Maxdeyul Sola, menyampaikan pandangan terkait sosok wamentan yang baru. Menurutnya, sosok tersebut harus mempunyai jejaring yang luas, mulai dari aspek hulu, onfram, hingga hilir.

Ia menjelaskan, di aspek hulu, mulai dari penyediaan bibit, bibit, alat mesin pertanian (alsintan), dan lainnya. Di aspek onfram, dia juga mempunyai kemampuan bagaimana mengkoordinasikan semua sarana produksi (saprodi) di hulu kepada pelaku onfarm, sehingga bisa meningkatkan produksi dengan baik, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

Kemudian di aspek hilir, sosok tersebut harus bisa berkolaborasi dengan semua pelaku usaha di hilir. Jadi tidak lagi dia berpikir hanya melakukan penguatan di onfarm. Menurutnya, onfram sekarang sudah bagus, hanya di sektor kelembagaannya saja belum bagus. Karena itu, dia juga harus mengerti mengenai kelembagaan.

“Karena, petani sekarang ini seolah-olah hanya sebagai pekerja. Bukan menjadikan seorang petani termasuk kelompok tani sebagai pelaku bisnis. Ini yang harus diubah seorang wamentan yang baru,” kata Sola kepada corebusiness.co.id, Senin, 27 Juli 2026.

Masih di aspek hilir, Sola berpandangan, sosok wamentan tersebut harus mempunyai jejaring yang luas, baik dengan pelaku industri, menguasai pemasaran, serta kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pasar. Terpenting juga memahami standardisasi kualitas produk pertanian yang akan dipasarkan, baik ketentuan standardisasi nasional dan internasional.

Sola mengingatkan, perlu diketahui, perilaku industri itu harus mendapatkan kejelasan terhadap suatu produk, baik dari sisi volume dan kualitas. Terpenting lagi adalah kontinuitas.

“Apabila industri tidak berkesinambungan mendapatkan pasokan dari onfram, pasti sirkulasi pasokan tidak jalan di hilir. Dampaknya, industri akan mengimpor bahan baku dari negara lain untuk menjaga kebutuhan produksi industrinya,” ungkap Sola yang juga menjabat Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Jaringan Kelembagaan

Sola melanjutkan, selain mempunyai jaringan di hulu, onfarm, dan hilir, calon Wamentan harus juga ditunjang oleh jejaring yang kuat di bidang kelembagaan. Sosok tersebut, kata dia, harus mempunyai jejaring dan hubungan baik dengan kementerian dan lembaga terkait.

Dicontohkan, untuk penyediaan air di lahan pertanian, dia harus bekerja sama dengan Kementeri Pekerjaan Umum. Dukungan anggaran di sektor pertanian berhubungan dengan Kementerian Keuangan. Mengenai pemberdayaan sektor usaha, maka berhubungan dengan Kementerian UMKM.

Berikutnya, mengenai pembangunan pertanian di desa, harus bekerja sama dengan dengan Kementerian Desa. Terkait penyediaan tenaga kerja di sektor pertanian, maka harus berkoordinasi dengan Kementerian Tenaga Kerja. Termasuk dengan Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup terkait pembukaan lahan pertanian dan upaya menjaga keberlanjutan pertanian yang memperhatikan aspek lingkungan.

Wamentan yang baru, masih menurut Sola,  harus mempunyai pengalaman, pemikiran, dan konsep secara holistik. Dia bisa merangkul semua elemen, dan berpikir positif terhadap masukan-masukan pemikiran dari luar, seperti dari perguruan tinggi, BRIN, asosiasi, pelaku usaha, dan pihak luar lainnya.

“Singkatnya, dia harus mobile dan pergaulannya luas. Dia bukan orang yang berpikiran hanya satu arah dan mendikte. Jika hanya bisa mendikte, bisnis tidak akan berjalan karena kekakuan dalam menjalankan kebijakan. Intinya, dia harus bisa menghubungkan semua stakeholder menjadi satu kesatuan yang kuat,” urai pria yang pernah menjadi Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Transmigrasi (Mendes PDT), Menteri Tenaga Kerja (Menaker).

Ia mengingatkan bahwa pejabat di kementerian bukan orang yang hanya bisa mendikte semua orang, tapi dia harus bisa mengayomi dan mengajak semua stakeholder untuk mencapai tujuan pembangunan, termasuk di sektor pertanian. Tujuannya adalah mensejahterakan masyarakat dan bangsa.

Sola juga menyinggung penyediaan energi dari sektor pertanian. Menurutnya, sumber energi tidak hanya dari sawit, tapi dari komoditas lain. Misalnya dari aren, sorgum, jagung, singkong, dan komoditas lainnya.

Selain itu, dia harus memahami persoalan carbon trading dalam pengolahan limbah dari  hasil tanaman sehingga bisa dimanfaatkan kembali untuk pupuk dan produk olahan lainnya.

Ia menilai sosok yang layak menduduki kursi wamentan saat ini adalah dari kalangan praktisi. Jika dari kalangan politisi, dia lebih condong berpikir politik, dan kalangan akademisi lebih berkonsep satu bidang saja, tidak menyeluruh. Menurutnya, sosok praktisi tersebut mempunyai ilmu, pengalaman, dan cara berpikir holistik atau menyeluruh.

Metode menjaring praktisi yang akan menduduki jabatan wamentan bermacam-macam. Misalnya bisa dilihat dari track record sosok tersebut. Jika salah dalam memilih orang, dikhawatirkan begitu menjabat wamentan, dia malah belajar dulu semua hal yang berkaitan dengan sektor pertanian.

Pria berdarah Sumatera Barat tersebut menekankan, sosok praktisi yang akan menjabat wamentan tidak hanya sudah memahami semua urusan hulu, onfarm, hilir, tapi juga menyangkut urusan birokrasi, dan hal-hal lainnya. Karena, tujuan pembangunan pertanian tidak hanya mencapai peningkatan produksi, tapi juga bisa memberikan multiplier effect sektor lainnya.

“Orang itu harus sejalan dengan visi dan misinya Presiden Prabowo Subianto. Bukan hanya memikirkan swasembada,” tegasnya.

Terkait swasembada, Sola mencontohkan, saat ini produksi beras sudah meningkat. Namun, masih muncul persoalan dari sisi pemasaran. Karena itu, dia menekankan, sebelum memikirkan meningkatkan produksi, penting untuk dicarikan solusi pemasaran, termasuk mengetahui standardisasi produk yang dibutuhkan konsumen, baik di dalam negeri maupun luar negeri. (Syarif)

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN