Pelonggaran Sanksi Energi AS terhadap Rusia
Awal pekan ini, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan kepada wartawan bahwa Presiden Donald Trump mengeluarkan perpanjangan penangguhan sanksi terhadap minyak Rusia selama satu bulan ke depan.
Bessent menyatakan, perpanjangan penangguhan sanksi ini memungkinkan pembelian minyak dan produk minyak bumi Rusia yang telah dimuat ke kapal hingga 16 Mei. Ini memperpanjang pelonggaran sanksi sebelumnya yang berakhir pada 11 April.
Bulan lalu, AS mengumumkan penangguhan sanksi terhadap minyak Rusia dan Iran. Bessent sempat mengatakan bahwa AS tidak akan memperpanjang penangguhan sanksi untuk minyak dari kedua negara.
Bessent juga mengatakan bahwa AS memberi lampu hijau kepada kilang minyak India untuk membeli minyak mentah dari Rusia. Langkah ini untuk mengatasi kekurangan sementara minyak di seluruh dunia, akibat terhambatnya distribusi minyak di Selat Hormuz yang ditutup oleh Iran.
“Departemen Keuangan setuju untuk mengizinkan sekutu kami di India mulai membeli minyak Rusia yang sudah berada di laut,” kata Bessent.
Terlepas dari pelonggaran sanksi AS, Pengamat konomi Energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengutarakan, sejak pasukan militer Rusia gencar menyerang Ukraina, Presiden Trump menyerukan negara-negara di Eropa untuk embargo migas Rusia.
“Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin sepertinya tidak bergeming. Ia merasa yakin minyaknya masih akan dibeli oleh negara-negara lain. Karena, Rusia menawarkan harga jual minyak dengan diskon cukup tinggi, artinya lebih murah dari rata-rata harga pasar internasional,” kata Fahmy kepada corebusiness.co.id.
Menurutnya, negara-negara seperti Tiongkok dan India tetap saja membeli minyak dari Rusia. Bahkan negara di Eropa seperti Prancis masih membeli minyak dari Rusia, dengan pertimbangan harganya lebih ekonomis. (Rif)