Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Tokoh Penting di Balik QRIS
Di tengah pesatnya perkembangan transaksi digital di Indonesia, terdapat sebuah terobosan lokal QRIS. Inovasi ini secara signifikan mempermudah kehidupan masyarakat dan bahkan telah menggoyahkan dominasi dua pemain global di bidang pembayaran, yakni Visa dan Mastercard.
Bahkan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut menyoroti penggunaan QRIS. Pemerintah AS beranggapan bahwa penerapan teknologi keuangan ini menghambat kelancaran perdagangan digital serta membatasi akses perusahaan-perusahaan asal AS ke pasar Indonesia, khususnya karena sistem tersebut tidak selaras dengan standar internasional yang mereka gunakan.
Lantas, siapa yang menciptakan QRIS?
Menukil laman qris.interactive.co.id, sebelum kemunculan QRIS sebagai solusi utama, sistem pembayaran digital di Indonesia penuh dengan fragmentasi. Setiap Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) memiliki QR Code masing-masing, yang menyebabkan ketidakefisienan baik bagi konsumen maupun pelaku usaha.
Bayangkan saja, seorang pedagang harus menempelkan berbagai macam stiker QR dari beragam penyedia aplikasi, sementara pembeli harus memiliki banyak aplikasi agar bisa bertransaksi di berbagai tempat.
Melihat kompleksitas tersebut, BI bersama ASPI mengambil langkah strategis untuk menyatukan berbagai format QR ke dalam satu standar nasional. Langkah strategis ini bertujuan membentuk ekosistem pembayaran digital yang lebih efisien, nyaman, dan bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Setelah melalui berbagai tahap uji coba yang ketat, QRIS secara resmi diluncurkan pada tanggal 17 Agustus 2019, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal ini menjadi tonggak penting dalam transformasi sistem pembayaran nasional.
Meskipun QRIS merupakan buah kerja sama BI dan ASPI, tak dapat disangkal bahwa banyak pihak di balik kedua lembaga tersebut yang telah bekerja keras untuk mewujudkan standarisasi ini.
Salah satu tokoh utama adalah Perry Warjiyo, semasih menjabat Gubernur BI. Saat QRIS diluncurkan, Perry memainkan peran vital dalam mengarahkan inovasi ini sebagai bagian dari modernisasi sistem pembayaran nasional.
Namun jauh sebelumnya, Masahiro Hara, seorang insinyur dari Jepang yang bekerja di Denso Wave (anak perusahaan Toyota), adalah penemu QR Code pada tahun 1994.
Awalnya, QR Code digunakan untuk melacak suku cadang otomotif secara cepat dan presisi. Seiring berjalannya waktu, teknologi ini menemukan perannya di berbagai sektor, termasuk keuangan digital.
Dalam pengembangan QRIS, BI dan ASPI mengacu pada standar global EMVCo (Europay, Mastercard, dan Visa), yang menjamin keamanan serta interoperabilitas dalam bertransaksi.
Sejak dirilis, QRIS terus mengalami kemajuan dan adaptasi. BI secara bertahap mewajibkan seluruh PJSP untuk mengadopsi QRIS, dengan batas akhir transisi pada 31 Desember 2019.
Kebijakan ini sukses mengeliminasi keragaman QR Code dan menghadirkan kemudahan bertransaksi di berbagai merchant cukup dengan satu QR Code dan satu aplikasi pembayaran berbasis QRIS.
Kini, QRIS bukan hanya digunakan untuk pembayaran di toko offline, tapi juga merambah ke transaksi online, donasi, hingga terintegrasi dengan berbagai layanan keuangan lainnya. BI bahkan sudah mengembangkan fitur pembayaran lintas negara (cross-border QRIS) guna mendukung kegiatan wisata serta transaksi UMKM di tingkat internasional.
Kisah di balik QRIS adalah contoh nyata dari inovasi yang lahir karena kebutuhan mendesak akan efisiensi dan kenyamanan. Melalui kerja sama BI dan ASPI, QRIS menjadi solusi yang bukan hanya mempermudah transaksi, tapi juga pondasi penting dalam pembangunan ekonomi digital nasional. (Rif)