Ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan angka pertumbuhan tidak akan direvisi dan tetap berada di level 2,0 persen. Sebagai perbandingan, ekonomi AS tumbuh sebesar 0,5 persen pada kuartal keempat 2025. Revisi turun pada estimasi PDB kuartal pertama terutama dipengaruhi penyesuaian lebih rendah pada investasi persediaan dan belanja konsumen.
Saat ini, aktivitas ekonomi AS secara umum masih banyak ditopang oleh belanja terkait pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pertumbuhan belanja konsumen, yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS, direvisi turun menjadi 1,4 persen dari estimasi sebelumnya sebesar 1,6 persen. Meski demikian, pengembalian pajak dalam jumlah besar memberikan bantalan sementara bagi rumah tangga di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM).
Di sisi lain, belanja bisnis untuk peralatan tetap tumbuh kuat sebesar 17,2 persen dan tidak mengalami revisi dari laporan sebelumnya.
Berikutnya Israel, Biro Statistik Israel melaporkan PDB Israel minus 3,3 persen secara tahunan pada tiga bulan pertama tahun ini. Penurunan tersebut lebih dalam dibanding proyeksi ekonom yang disurvei Bloomberg sebesar 2 persen.
Menukil Bloomberg, penurunan ekonomi terjadi akibat perang yang dimulai pada akhir Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Sebagai balasan, Iran menembakkan ratusan rudal dan drone ke wilayah Israel, sementara kelompok Hizbullah di Lebanon juga melancarkan serangan ke wilayah utara Israel.
Situasi keamanan itu membuat otoritas Israel memberlakukan pembatasan aktivitas selama sekitar enam pekan hingga tercapainya gencatan senjata pada awal April 2026. Pembatasan tersebut berdampak pada operasional bisnis, aktivitas ekonomi, hingga kegiatan pendidikan.
Biro Pusat Statistik Israel menyebut, perang dengan Iran menekan konsumsi swasta dan publik yang masing-masing turun 4,7 persen dan 4,8 persen. PDB sektor bisnis juga turun 3,1 persen, sedangkan PDB per kapita menyusut 4,5 persen.
Meski demikian, kontraksi ekonomi pada kuartal I 2026 masih lebih baik dibanding dampak perang 12 hari Israel-Iran pada Juni 2025. Saat itu, PDB Israel tercatat turun 4,3 persen akibat penutupan total berbagai aktivitas bisnis.
Bank Sentral dan Kementerian Keuangan Israel kini memperkirakan ekonomi negara tersebut hanya tumbuh 3,8 persen sepanjang 2026, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,2 persen dan 4,8 persen.
Pemulihan ekonomi Israel untuk sisa tahun ini dinilai sangat bergantung pada keberlanjutan gencatan senjata di Iran, Lebanon, dan Gaza. Secara keseluruhan, Israel telah kehilangan sekitar 8,6 persen PDB tahunan selama dua tahun hingga 2025 akibat konflik berkepanjangan.
Kondisi memprihatikan juga dialami Iran, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 mengalami tekanan berat akibat eskalasi konflik regional, meningkatnya pengeluaran perang, dan sanksi internasional yang menargetkan ekspor minyak.
Data IMF menunjukkan laju ekonomi mengalami kontraksi hingga minus 6,1 persen disertai dengan lonjakan inflasi yang diperkirakan mencapai kisaran 45 persen hingga 60 persen. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Iran secara keseluruhan tahun 2026 stagnan di angka sekitar 1,1 persen.
Penurunan tajam PDB Iran di antaranya akibat ekspor minyak bumi akibat gangguan infrastruktur dan blokade jalur pelayaran utama, yang mempersempit ruang fiskal negara tersebut.
Selain itu, besarnya beban belanja militer yang tinggi memperlebar defisit anggaran hingga lebih dari 10 persen dari PDB, yang kemudian memicu depresiasi nilai mata uang dan inflasi yang signifikan. (Rif)