INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id
Logam tanah jarang tersebut dipenuhi dari dalam negeri atau impor?
Selama ini hampir semua logam tanah jarang untuk kebutuhan dalam negeri masih impor. Hanya saja yang kita dapati di lapangan, bahan baku yang diimpor sebenarnya ada di Indonesia. Ini yang ingin kita ubah.
Kita sedang mencoba memanfaatkan dan memaksimalkan bahan baku logam tanah jarang supaya bisa diproses di dalam negeri. Tantangannya memang cukup berat, utamanya akses teknologi untuk pemrosesan logam tanah jarang masih terbatas. Sekitar 80 hingga 90 persen teknologi untuk mengekstrasi logam tanah jarang dikuasai oleh Tiongkok. Negara lain ada juga yang sudah memproses logam tanah jarang, seperti Amerika, Rusia, Jepang, dan Malaysia.
Produk olahan logam tanah jarang juga masih impor?
Impor itu ada yang bentuknya masih single element, ada juga berbentuk magnet permanen untuk kendaraan listrik. Seperti jenis baterai lithium-ion berbasis nikel, mangan, dan kobalt atau NMC, juga membuthkan komponen logam tanah jarang.
Pandangan Anda pemberian insentif kepada investor sebagai daya tarik untuk membangun industri pengolahan di Indonesia?
Insentif bisa menjadi rangsangan bagi pengembangan ekosistem industri dalam negeri. Hanya saja, saat ini kita harus mengevaluasi soal pemberian insentif ini. Insentif seperti apa yang harus kita berikan, dan pada industri apa insentif itu diberikan.

Kita harus cermat dalam pemberian insentif kepada pelaku industri atau investor. Menurut saya, kriteria dan besaran insentif harus disesuaikan dengan jenis produk yang dihasilkan oleh industri. Apakah industri itu hanya memproses material sampai tahap pemurnian, produksi barang setengah jadi, atau sudah tahap manufaktur dan fabrikasi. Jadi, insentif itu tidak diberikan sama rata bagi investor yang ingin membangun pabrik atau industri di Indonesia.
Menurut saya, untuk jenis industri pemurnian tahapannya sudah selesai, teknologinya sudah ada di Indonesia. Mungkin untuk industri jenis ini tidak perlu lagi diberikan insentif. Insentif diberikan kepada industri manufaktur dan fabrikasi, yang mengubah bahan baku, seperti nikel katoda atau tembaga katoda menjadi magnet permanen untuk baterai kendaraan listrik.
Investor yang membangun pabrik kendaraan dan menggunakan bahan baku dari dalam negeri, insentif yang diberikan pemerintah lebih besar. Jadi, insentif yang diberikan berdasarkan nilai produk yang dihasilkan oleh industri tersebut.
Dukungan pemerintah untuk menunjang tugas yang diemban BIM?
Dukungan Presiden Prabowo sangat baik. Saat ini kita sedang menyusun Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pengelolaan Logam Tanah Jarang, yang melibatkan kementerian terkait. BIM juga diberikan dukungan anggaran yang besar, di antaranya dana untuk melakukan eksplorasi logam tanah jarang. Tahun ini cukup banyak wilayah yang dieksplorasi untuk mengetahui sumber daya dan cadangan logam tanah jarang dan mineral strategis lainnya.
Kemudian, BIM sedang melakukan pengembangan teknologi untuk ekstraksi mineral strategis. Untuk program ini, BIM sedang menjajaki kerja sama dengan dengan 13 negara dan 23 badan usaha, untuk pengembangan teknologi ekstraksi dengan alih teknologi.
Presiden Prabowo minta BIM mengembangkan industri logam tanah jarang dan mineral strategis lainnya, mulai dari tahap penambangan, produksi, pemurnian, hingga menciptakan industri manufaktur seperti magnet permanen dan bahan baku untuk industri pertahanan. Produk-produk tersebut nanti kita serahkan untuk mendukung program strategis nasional pemerintahan Presiden Prabowo.
Jadi, dukungan Presiden Prabowo sangat besar terhadap BIM. Beliau berharap BIM dapat mengidentifikasi sekaligus mengembangkan logam tanah jarang untuk mendukung beberapa program nasional. (Syarif)