160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
INFO Lebih Lanjut Klik: https://www.dfskmotors.co.id/id

Efek Domino Ambruknya Kurs Rupiah terhadap Harga Obat

750 x 100 PASANG IKLAN

Tulus Abadi

Pegiat Perlindungan Konsumen, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI)

HARI ari demi hari, nilai rupiah terhadap dolar Amerika, makin melemah, dan sudah melewati angka Rp 18.000 per dolar Amerika. Tentunya ini berdampak sangat serius terhadap harga berbagai produk di Indonesia, khususnya harga bahan pangan, energi-seperti BBM dan elpiji, plus harga bahan bangunan. Dan yang tak kalah mengkhawatirkan adalah harga obat-obatan dan vitamin. Sebuah keniscayaan jika harga produk farmasi, khususnya obat dan vitamin akan melambung terdampak oleh kurs rupiah, musababnya 85-90 persen bahan baku obat di Indonesia adalah impor! Melambungnya harga obat, vitamin, dan produk farmasi lainnya; membawa efek bola salju yang complicated. Berikut ini beberapa catatannya.

Pertama, akan mengganggu keterjangkauan masyarakat dalam mengonsumsi obat. Ratio konsumsi obat di Indonesia masih tergolong rendah, jika dibandingkan ratio konsumsi obat pada tingkat global. Musababnya harga obat masih mahal. Ambruknya kurs rupiah, menjadikan ratio konsumsi obat masyarakat Indonesia akan makin menurun, karena harga obat makin mahal.

750 x 100 PASANG IKLAN

Kedua, anggaran BPJS Kesehatan akan makin boncos, dan klimaksnya, defisit. Pihak faskes (FKTR dan FKTP) akan mengajukan klaim yang lebih lebih besar pada BPJS Kesehatan, atas melambungnya harga obat tersebut. Dampak finansialnya, cash flow BPJS Kesehatan akan makin boncos. Padahal saat ini saja, anggarannya yang tersisa hanya mampu mengcover kurang dari 1,5 bulan bayar, alias sudah di bawah standar. Intinya BPJS Kesehatan sudah defisit! Atau, bisa jadi pelayanan faskes akan menurun, karena alokasi anggarannya diprioritaskan untuk mengcover kenaikan harga obat.

Ketiga, ancaman terhadap kesehatan publik. Memang sudah ada akses BPJS Kesehatan, yang mampu mengcover lebih dari 98 persen penduduk Indonesia. Namun faktanya tidak semua peserta BPJS Kesehatan menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan, musababnya terkait pelayanan, antrian, dll. Sehingga terbukti masyarakat masih mengeluarkan banyak uang (out of pocket) untuk berobat mencapai Rp 180 triliun per tahun. Melambungnya harga obat sudah pasti memicu kenaikan fenomena out of pocket yang lebih tinggi dari masyarakat, untuk belanja kesehatannya.

Keempat, berpotensi industri farmasi menengah bawah, terancam gulung tikar. Dominannya bahan baku impor, dan melambungnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika, industri farmasi menengah bawah tidak akan mampu membeli bahan baku obat, sehingga tidak mampu berproduksi. Ancaman gulung tikar dan PHK menjadi tak terhindarkan.

Kelima, harga obat di Indonesia menjadi termahal di dunia. Menkes BGS pun menandaskan bahwa harga obat di Indonesia termahal di dunia, antara 2-6 kali lipat. Ini menjadi anomali yang sangat, pasti ada masalah baik dari sisi hulu maupun hilir. Dengan ambruknya kurs rupiah terhadap dolar Amerika, berpotensi mengerek harga obat di Indonesia makin mahal.

750 x 100 PASANG IKLAN

Solusi untuk memitigasi melambungnya harga obat, adalah memangkas ketergantungan pada bahan baku impor obat. Patut diduga, ini memang fenomena anomali, karena Indonesia sejatinya adalah sumber utama fitofarmaka dunia, tapi tak pernah dilakukan riset dan pengembangan untuk menjadi bahan baku obat. Bisa jadi ada mafia obat, yang terus memburu rente/keuntungan, untuk terus melanggengkan impor bahan baku obat. Sinergitas industri farmasi, profesi kesehatan dan faskes patut diduga menjadi musabab utama atas ketergantungan impor bahan baku obat tersebut. Miris!

750 x 100 PASANG IKLAN
Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN