Di tempat yang sama, AWG-SF Focal Point for Thailand, the Royal Forest Department of Ms., of Thailand, Prattana Meesincharoen mengatakan, kegiatan ini memperkuat kerja sama perhutanan sosial melalui kerangka hukum yang lebih baik, partisipasi komunitas yang lebih masif, pengakuan atas hak kepemilikan tanah, serta meningkatnya adopsi sistem wanatani untuk menopang kesejahteraan, ketahanan pangan, dan resiliensi iklim di kawasan ASEAN.
“Oleh karena itu, lokakarya Regional Knowledge Sharing of ASEAN Guiding Principles for Effective Social Forestry Legal Framework (AGP) adalah pedoman utama untuk mendorong kerja sama lebih lanjut dalam pengelolaan perhutanan sosial di ASEAN,” ujar Prattana.
Selama dua hari, para perwakilan dari masing-masing negara anggota ASEAN membagikan cerita sukses serta hambatan implementasi kehutanan sosial di negara asal. Sesi tersebut diikuti oleh diskusi mengenai pembelajaran dan peluang bersama demi terwujudnya kerja sama regional.
Para perwakilan pemerintah juga turut memaparkan model-model yang dapat diadopsi, perkembangan regulasi, serta tantangan praktis yang dihadapi dilapangan, sehingga pembahasan tidak hanya berhenti pada tataran teoretis, melainkan juga berlandaskan solusi konkret yang dapat direplikasi.
“Pengalaman Indonesia dalam mengimplementasikan AGP telah memberikan banyak pembelajaran. Berbagai tantangan praktis, termasuk yang berkaitan dengan prosedur, yang dihadapi para pelaksana di lapangan, merupakan pengalaman yang ingin kami bagikan melalui lokakarya ini,” ucap Lawyer, Food, Oceans, Land Use (FOLU) Japan and Southeast Asia, ClientEarth, Azam Hawari
Menurutnya, tidak ada satu negara yang memiliki semua solusi. Karena itu, imbuhya, lokarya ini menjadi sangat penting untuk saling bertukar pengalaman, belajar satu sama lain, dan mencari solusi bersama.
Sementara itu, Country Director RECOFTC Indonesia, Gamma Galudra, menyampaikan apresiasi kepada para rekan dan partisipan, karena telah mendukung penguatan kerangka kerja ASEAN Guiding Principles.
Gamma mengungkapkan, “Kendati tiap negara memiliki sistem politik, budaya, serta konteks ekonomi-sosialnya masing-masing, kita memiliki kesamaan misi, yakni keinginan untuk memperkuat kehutanan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan, kemakmuran ekonomi, dan keadilan sosial.”
Gamma menyatakan, lokakarya ini merupakan bukti nyata dari komitmen bersama tersebut. Ia mengajak para peserta serta pihak terkait lainnya untuk bersama-sama mengubah prinsip-prinsip menjadi tindakan nyata demi mewujudkan ASEAN yang lebih tangguh dan inklusif.
Kegiatan lokakarya ini ditutup dengan refleksi dari Sekretariat ASEAN mengenai pemanfaatan berbagai pembelajaran yang diperoleh untuk mendukung implementasi AGP secara berkelanjutan di tingkat nasional di seluruh kawasan ASEAN. (Syarif)