Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Mematangkan Prosedur dan Standardisasi
Pemerintah, mengacu kepada RUPTL 2025-2035, menargetkan pembangunan PLTN on-grid pertama di Indonesia sekitar tahun 2032, dengan kapasitas 500 megawatt (MW).
Haendra mengatakan bahwa pemerintah menugaskan dua anak usaha PT PLN (Persero), yaitu PLN Indonesia Power dan PLN Nusantara Power sebagai operator PLTN. Rencananya, PLN Indonesia Power sebagai operator proyek PLTN di Kalimantan Barat, dan PLN Nusantara Power untuk proyek PLTN di Bangka Barat.
Pembangunan PLTN di dua tapak itu, masing-masing dengan kapasitas 250 MW. Bapeten, kata Haendra, sedang menyelesaikan rancangan RTRW untuk pembangunan PLTN di darat (onshore) dan lepas pantai (offshore).
Ia memperkirakan, PLTN di Bangka Barat akan dibangun menggunakan teknik floating, karena reaktor nuklirnya dibangun di offshore. Masing-masing reaktor nuklir di dua tapak tersebut menggunakan Small Modular Reactor (SMR).

Namun, dirinya juga mengakui teknologi PLTN risikonya cukup tinggi. Dari aspek pengawasan, Bapeten akan memastikan regulasi, inspeksi dan pencegahan, serta proses perizinan dilaksanakan dengan baik.
“Untuk pemeriksaan perizinan, dikaji oleh Bapeten sejak tapak PLTN diterbitkan. Setelah itu dilakukan inspeksi sepanjang PLTN tersebut beroperasi. Bahkan Bapeten akan menempatkan inspektur pengawasan di lokasi PLTN,” tukasnya.
Sebelum proses formal terjadi, masih disampaikan Haendra, Bapeten juga menyiapkan program praperizinan. Diungkapkan, rata-rata vendor yang datang ke Bapaten dari negara lain, bukan orang Indonesia. Umumnya mereka ingin mengetahui peraturan apa saja yang akan diterapkan jika mereka menjalin kerja sama untuk membangun PLTN di Indonesia.
“Contoh, vendor dari Amerika, mereka pakai nilai batas dosis proteksi radiasi 50 milisievert (mSv), tetapi Indonesia menerapkan peraturan batas dosis 20 milisievert. Artinya apa? Mereka harus menyesuaikan dengan aturan di kita,” tegasnya.
Haendra menyatakan, pada saatnya PLTN sudah beroperasi dan menyalurkan listrik ke masyarakat, ikut menunjang kemandirian energi nasional. PLTN menjadi bagian dari pembangkit listrik EBT dan fosil lainnya yang lebih lebih dulu hadir memproduksi listrik di tanah air.
Lebih dari itu, menurut Haendra, kehadiran PLTN pertama akan menjadi kebanggaan bagi Indonesia. Derajat Indonesia bisa terangkat di mata internasional. Dan Indonesia bisa duduk sejajar dengan negara-negara yang telah mengoperasikan PLTN. (Syarif)