Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Jakarta,corebusiness.co.id-Shanghai Metals Market (SMM), perusahaan riset pasar logam Tiongkok, menyampaikan catatan perbandingan biaya bauksit Indonesia versus Malayasia untuk produksi alumina. Berikut penjabarannya.
Alumina atau aluminium oksida (Al₂O₃) adalah senyawa kimia berbentuk bubuk putih yang menjadi bahan baku utama pembuatan logam aluminium. Alumina diproduksi dari bauksit (bijih aluminium) melalui proses pemurnian kimia, kemudian dilebur melalui proses elektrolisis untuk menghasilkan aluminium murni.
Berdasarkan catatan SMM, bijih bauksit domestik Indonesia dari Kalimantan Barat dan Bintan memiliki keunggulan biaya bahan baku dibandingkan bijih bauksit Malaysia dari Kuantan.
“Kalimantan Barat diuntungkan oleh biaya transportasi yang lebih rendah, sementara Bintan menanggung biaya angkut tambahan saat mengambil pasokan dari Kalimantan Barat. Kuantan menjadi sumber alternatif, tetapi harga free on board (FOB0 yang lebih tinggi dan kadar alumina yang lebih rendah meningkatkan biaya per ton alumina,” demikian catatan SMM, dikutip Kamis, 22 Oktober 2026.
Informasi terkait FOB, merupakan istilah perdagangan internasional di mana penjual bertanggung jawab untuk mengirimkan barang sampai ke pelabuhan atau titik keberangkatan yang telah ditentukan. Sedangkan risiko serta kepemilikan barang tersebut berpindah ke pembeli setelah barang dimuat ke atas kapal. Dalam kontrak FOB, pembeli yang menanggung biaya pengiriman, asuransi, dan risiko yang terjadi selama pengangkutan barang dari titik pengiriman.
SMM mencatat penilaian bijih bauksit Indonesia per 16 Oktober 2026 senilai US$38 per dry metric ton (DMT) untuk transaksi FOB. Sedangkan bijih bauksit Malaysia seharga US$47 per DMT untuk transaksi FOB. Referensi penilaian bijih bauksit domestik Indonesia mencakup 47% Al₂O₃ dan 5% silika total, sementara bijih bauksit Malaysia diindikasikan pada 44% Al₂O₃ dan sekitar 3% silika total.
Untuk angkutan, diindikasikan oleh sumber pasar sebesar US$4–US$8 per DMT di dalam Kalimantan dan US$8–US$10 per DMT dari Kalimantan ke Bintan (masih di wilayah Indonesia). Ini menempatkan bijih bauksit domestik Indonesia sekitar US$42–US$46 per DMT di Kalimantan Barat dan US$46–US$48 per DMT di Bintan, sebelum biaya penanganan tambahan.