Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Jakarta,corebusiness.co.id-JP Morgan, salah satu bank terbesar di Amerika Serikat (AS), mengatakan bahwa untuk pertama kalinya sejak dimulainya perang AS-Israel di Iran, mereka tidak memiliki pandangan dasar yang jelas untuk pasar minyak.
“Kami sama sekali tidak tahu bagaimana memodelkan skenario akhirnya,” kata para analis di bank tersebut, pada Kamis (17/9/2026), dikutip Reuters.
Catatan tersebut menyoroti bahwa pada awal konflik, JP Morgan berasumsi ada beberapa ambang batas ekonomi yang tidak akan dilanggar oleh pemerintahan AS. Tetapi enam bulan setelah konflik, banyak dari batasan tersebut telah dilanggar tanpa strategi solusi yang jelas.
Bank tersebut mencatat bahwa harga minyak telah naik di atas $100 per barel dengan harga bensin $4,37 per galon. Bank tersebut juga mencatat bahwa harga solar AS telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar $6,31 per galon menjelang musim dingin, periode puncak permintaan musiman. Sementara persediaan solar berada pada titik terendah sepanjang masa.
JP Morgan memperkirakan nilai wajar Brent sekitar $90 per barel untuk September, dibandingkan dengan harga saat ini mendekati $106. Asumsi harga $90 per barel dengan memperhitungkan risiko pasar kehilangan pasokan lebih lanjut, di luar perkiraan 10 juta barel per hari yang telah terganggu.
Catatan tersebut menunjuk pada meningkatnya risiko di seluruh Timur Tengah, termasuk ancaman terhadap pengiriman melalui Selat Bab el-Mandeb dan serangan baru-baru ini yang memengaruhi rute ekspor minyak Saudi. Termasuk serangan berkelanjutan terhadap infrastruktur penyulingan Rusia dan kota-kota Ukraina, yang menggarisbawahi risiko geopolitik yang terus-menerus terhadap pasokan energi global.
“Namun, terlepas dari skala gangguan pasokan, harga minyak tidak naik setajam yang diperkirakan karena pemerintah dan konsumen kurang bergantung pada pengurangan persediaan,” demikian catatan JP Morgan.
Persediaan global minyak mentah dan produk olahan telah turun sekitar 555 juta barel sejak konflik dimulai, hanya sekitar sepertiga dari penurunan yang diproyeksikan bank tersebut awal tahun ini.
Pada saat yang sama, permintaan minyak global telah turun sekitar 4,4 juta barel per hari di bawah level tahun lalu, membantu mengimbangi kerugian pasokan.
JP Morgan berasumsi, dengan lebih mengandalkan penurunan permintaan dan pengurangan stok, pasar mampu menyerap gangguan pasokan yang luar biasa tanpa kenaikan harga minyak mentah yang berkelanjutan.