160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html

Tips Menjaga Kesehatan di Tengah Paparan Abu Vulkanik

Praktisi Kesehatan Masyarakat, Dr.dr. Ngabila Salama, M.K.M.
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Praktisi Kesehatan Masyarakat, Dr. dr. Ngabila Salama, M.K.M., mengimbau masyarakat melindungi diri dengan menjaga kesehatan di tengah paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Ia juga menyampaikan beberapa upaya untuk menjaga kesehatan.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda telah berakhir setelah berlangsung selama 25 jam.

Dilansir dari Antara, Senin (7/9/2026), Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan, episode erupsi menerus dimulai Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9/2026) pukul 00.40 WIB.

“Pascaberakhirnya episode tersebut, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau bertransisi kembali ke karakteristik erupsi strombolian yang ditandai dengan perekaman tiga kali gempa letusan/erupsi strombolian,” kata Lana.

Kendati demikian tingkat probabilitas terjadinya letusan susulan pada periode berikutnya dinilai masih tinggi.

Berdasarkan pengamatan instrumental periode 6-7 September 2026, Badan Geologi mencatat tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa low frequency, 98 kali gempa hybrid/fase banyak, empat kali gempa tremor menerus, dan satu kali gempa vulkanik dangkal.

Grafik perataan amplitudo Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) yang sempat melonjak pada 5 September 2026 kini menunjukkan tren penurunan sejak 6 September 2026.

Sementara itu, data deformasi tiltmeter Stasiun Tanjung mencatat indikasi inflasi tipis sejak awal Agustus 2026 dan Stasiun Lava93 menunjukkan pola konstan.

Atas evaluasi menyeluruh tersebut, Badan Geologi masih menetapkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga).

Menurut Lana, pihaknya merekomendasikan masyarakat, wisatawan, maupun pendaki, untuk tidak mendekati atau beraktivitas dalam radius bahaya tiga kilometer dari kawah aktif guna menghindari ancaman lontaran batu pijar, awan panas, aliran lava, dan hujan abu lebat.

Selain itu, warga pesisir Provinsi Banten dan Lampung diimbau tetap tenang, tidak mempercayai isu hoaks terkait potensi tsunami akibat erupsi, serta dianjurkan mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengantisipasi gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik.

Menjaga Kesehatan dari Paparan Abu Vulkanik

Praktisi Kesehatan Masyarakat, Dr. dr. Ngabila Salama, M.K.M., masyarakat yang terdampak paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau harus menjaga kesehatan.

Ngabila mengatakan, dampak akut bagi orang yang terkena paparan abu vulkanik bisa dalam hitungan jam hingga 7 hari. Sementara dampak kronik berlangsung selama 7 hari hingga 14 hari.

“Gejala-gejala penyakit bagi orang yang terdampak akut paparan abu vulkanik seperti mengalami iritasi mata atau kulit, sakit kepala, diare, batuk pilek dan bersin, sakit tenggorokan, sesak nafas yang menyebabkan penyakit asma dan PPOK-nya kambuh,” kata Ngabila kepada corebusiness.co.id, Senin, 7 September 2026.

Sementara gejala kronik, kata Ngabila, akan mengganggu gangguan sirkulasi atau peredaran darah dalam tubuh. Efeknya bisa menyebabkan hipertensi (HT), penyakit jantung, gangguan hormon, dan mental.

Karena itu, Ngabila mengimbau masyarakat yang terdampak paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau untuk melindungi diri untuk mencegah dari penyakit.

Ia menyampaikan beberapa tips mencegah penyakit dari paparan abu vulkanik sebagai berikut:

Pertama, hindari keluar rumah jika memang tidak ada kegiatan yang penting. Kalaupun harus keluar rumah, menggunakan alat pelindung kesehatan seperti masker.

“Untuk anak-anak berusia di atas 3 tahun pakai masker KN 95, KF 94 , atau  N95. Ganti tiap 4 hingga 8 jam sekali sekali saat basah,” jelasnya.

Kedua, pakai kacamata hitam dan pakaian full tertutup yang nyaman. Sampai rumah langsung ganti dan cuci pakaian tersebut, dan mandi menggunakan air bersih agar debu tidak menempel di tubuh.

Ketiga, minum air putih 3 hingga 4 liter per hari, tetes mata steril jika iritasi, pakai pelembab kulit, dan makan bergizi tinggi protein.

Keempat, siram debu dengan air, jangan disapu karena debu akan terbang.

Kelima, tutup pintu rumah, pakai AC, air purifier/hepa filter lebih baik dan rajin dibersihkan.

Ngabila menambahkan, bagi mereka yang sudah mengalami gejala sakit sepert sakit kepala, diare hebat, iritasi mata atau kulit, sesak nafas, segera konsultasi ke dokter.

Ngabila menganjurkan untuk mengutamakan layanan telemedicine atau online dan pengantaran obat online, terutama untuk kelompok risiko tinggi seperti bayi, balita, lansia, ibu hamil (bumil), dan komorbid. (Rif)

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
750 x 100 PASANG IKLAN