Jakarta,corebusiness.co.id-Para pimpinan Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA), Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), Bank Dunia (World Bank), dan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO), memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah membebani pasokan energi global dan paling keras menghantam ekonomi negara-negara yang rentan.
Pernyataan bersama tersebut disampaikan pada Jumat, 29 Mei 2026, setelah sehari sebelumnya para kepala kelompok tersebut melakukan pertemuan untuk membahas bagaimana mereka harus menanggapi dampak ekonomi dari perang di Timur Tengah.
Mereka menyatakan bahwa perang AS-Israel di Iran telah mengganggu perdagangan, mengguncang pasar keuangan, dan menimbulkan kekhawatiran atas pasokan energi global, khususnya melalui Selat Hormuz, jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas.
Lembaga-lembaga global mengklaim bahwa ekonomi dunia tetap tangguh, tetapi konflik tersebut secara tidak proporsional memengaruhi negara-negara miskin melalui kenaikan harga bahan bakar dan pupuk, meningkatnya ketidakpastian, dan risiko terhadap lapangan kerja.
Para kepala kelompok tersebut bertemu pada hari Kamis untuk membahas bagaimana mereka harus menanggapi dampak ekonomi dari perang tersebut, kata mereka dalam sebuah pernyataan bersama.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan dia akan memutuskan pada Jumat mengenai potensi kesepakatan dengan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata. Potensi kesepakatan di antaranya mencakup pembukaan jalur air di Selat Hormuz dan pembatasan Teheran untuk membuat senjata nuklir.
“Jika arus pengiriman tidak kembali normal, penipisan persediaan minyak global yang terus berlanjut dan cepat menjelang puncak permintaan minyak musim panas di Belahan Bumi Utara akan menimbulkan peningkatan risiko bagi keamanan bahan bakar, kondisi pasar, dan ketahanan ekonomi yang lebih luas,” kata lembaga-lembaga tersebut.
Pertumbuhan Ekonomi AS, Israel, dan Iran
Alih-alih konflik di Timur Tengah diklaim para kepala kelompok global tersebut mengancam perekonomian negara-negara miskin, data menunjukkan pertumbuhan ekonomi negara yang terlibat perang, yakni AS, Israel, dan Iran, mengalami penurunan. Bahkan pertumbuhan ekonomi Israel dan Iran minus.
Dimulai dari pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal pertama 2026, tercatat lebih lemah dibandingkan perkiraan awal. Perlambatan ekonomi diperkirakan berlanjut pada kuartal berikutnya di tengah meningkatnya tekanan inflasi akibat konflik dengan Iran yang membebani keuangan rumah tangga.
Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS pada Kamis, 28 Mei 2026, melaporkan bahwa produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh dengan laju tahunan sebesar 1,6 persen pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,0 persen.