160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Aman, ICP Masih di Bawah Patokan APBN 2026

Ilustrasi foto: ekplorasi offshore migas. Foto: dok ESDM
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Pemerintah menyatakan tidak menaikkan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian  Crude Price/ICP) melewati patokan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat konferensi pers APBN Kita, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Purbaya mengestimasi, harga minyak mentah Indonesia masih berada di kisaran US$68,4 per secara year-to-date (ytd). Adapun, asumsi ICP yang ditetapkan dalam postur APBN 2026 berada di level US$70 per barel. Dengan demikian, pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup kuat untuk mengantisipasi gejolak harga energi tahun ini.

Year-to-date hingga 11 Maret 2026 sekitar US$68 per barel, ini sudah memasukkan kenaikan US$120 (harga minyak dunia) per barel,” kata Purbaya.

750 x 100 PASANG IKLAN

Purbaya menegaskan bahwa Kemenkeu  tidak berencana untuk mengerek asumsi ICP yang telah tertuang dalam APBN 2026.

Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan ICP untuk Februari 2026  sebesar US$ 68,79 per barel. Angka ini naik US$ 4,38 dibandingkan Januari 2026 yang tercatat US$ 64,41 per barel. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 115.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Bulan Februari 2026.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaiman menjelaskan bahwa kenaikan ICP dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang berkembang di pasar minyak global, salah satunya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Kenaikan ICP pada Februari 2026 dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terjadi di pasar minyak global, antara lain meningkatnya risiko geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia. Ketegangan geopolitik tersebut memicu berbagai respons kebijakan, aktivitas militer di kawasan strategis, termasuk latihan militer di wilayah perairan Timur Tengah yang berpotensi mempengaruhi jalur distribusi energi global,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaiman, di Jakarta, Selasa (10/3).

750 x 100 PASANG IKLAN

Selain faktor geopolitik, ungkap Laode, pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh kondisi pasokan minyak dunia.

“Laporan International Energy Agency (IEA) menunjukkan adanya penurunan produksi minyak global pada awal tahun 2026, termasuk penurunan produksi dari negara-negara OPEC+. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap semakin ketatnya keseimbangan pasokan minyak di pasar global,” imbuhnya.

Faktor lain yang turut memengaruhi kenaikan harga minyak mentah adalah penurunan stok produk minyak di Amerika Serikat. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya konsumsi energi serta tingginya aktivitas ekonomi.

Di kawasan Asia Pasifik, pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas pengolahan minyak di Singapura. Crude throughput Singapura tercatat naik 1% secara bulanan (mom) pada akhir Februari 2026 menjadi 89% dari total kapasitas 1,12 juta barel per hari (bph).

750 x 100 PASANG IKLAN

Selain itu, Cina juga meningkatkan cadangan minyak strategis hingga 1 juta barel, sehingga turut memperketat fundamental pasar minyak mentah dari sisi pasokan dan permintaan.

Pages: 1 2
750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !