160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Sekjen MAI Maxdeyul Sola: PSN Bisa Mendongkrak Multiplier Effect Sorgum

Sekretaris Jenderal Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI) Maxdeyul Sola. Foto: Ist
750 x 100 PASANG IKLAN

PEMERINTAH Indonesia telah menetapkan target untuk memproduksi bioetanol menggunakan sumber daya domestik yang tersedia seperti biomassa dari kelapa sawit, jagung, dan sorgum untuk mengurangi ketergantungannya pada bahan bakar impor. Pemerintah berencana untuk memberlakukan kandungan bioetanol wajib 10% dalam bensin pada tahun 2028.

Sebelum mandatory ini diberlakukan, pemerintah melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM sedang melakukan negosiasi intensif dengan Toyota Motor Corporation (Asia Region) Jepang terkait rencana investasi bersama untuk memproduksi bioetanol.

Kolaborasi ini direncanakan sebagai perusahaan patungan (joint venture) bersama PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, Pertamina NRE (New & Renewable Energy).

Sebelumnya, Pertamina NRE dan Toyota bersepakat untuk melakukan penjajakan kerja sama untuk pembangunan pabrik bioetanol di Provinsi Lampung. Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan bioetanol berbasis teknologi second generation (2G) dengan multy-feedstock, memanfaatkan sumber daya domestik seperti biomassa dari kelapa sawit, jagung, dan sorgum.

750 x 100 PASANG IKLAN

Jika terjadi kesepakatan, pembangunan pabrik dengan kapasitas 60.000 kiloliter bioetanol per tahun dapat dimulai pada paruh kedua tahun 2026, dengan produksi ditargetkan pada tahun 2028. Lahan seluas 6.000 hektar pun sudah disiapkan untuk perkebunan sorgum.

Rencana kerja sama Pertamina NRE dan Toyota turut menjadi perhatian Sekretaris Jenderal Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (Sekjen MAI), Maxdeyul Sola. Terlebih, dalam pengadaan energi terbarukan (ET) ini menggunakan biomassa dari sorgum.

“Saya melihat situasi sekarang harusnya kita kembali kepada pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang kita miliki. Misalnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah berhasil melakukan penelitian terhadap cruid palm oil (CPO) dari sawit untuk bahan baku Biodisel 50% (B50),” kata Maxdeyul Sola.

Untuk komoditas jagung, Maxdyul Sola memperkirakan akan berkompetisi dengan kebutuhan pabrik pakan ayam. Karena, pemerintah sedang mengembangkan integrasi antara hulu dan hilir peternakan ayam. Pemerintah membutuhkan banyak telur dan daging ayam untuk puluhan juta penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

750 x 100 PASANG IKLAN

“Peluang paling signifikan untuk penyediaan bahan baku bioetanol adalah dari sorgum. Tanaman ini sudah lebih dari 20 tahun dibudidayakan oleh petani. MAI juga sudah melakukan penjajakan dengan Pertamina terkait pemanfaatan sorgum untuk bahan baku bioetanol. Ketika itu MAI melakukan pembicaraan dengan Senior Vice President (SVP) Research & Technology Innovation PT Pertamina, Oki Muraza. Sekarang Beliau menjabat Wakil Direktur Utama PT Pertamina,” tuturnya.

Menggali lebih jauh potensi sorgum, corebusiness.co.id mewawancarai sosok yang mempunyai segudang pengalaman dan sudah malang melintang di beberapa kementerian sebagai staf ahli menteri, hingga saat ini menduduki jabatan strategis sebagai Wakil Sekjen ICMI dan organisasi lain yang concern mengurusi bidang pertanian.

Mengapa pilihannya sorgum untuk bahan baku bioetanol?

Pertama, varietas sorgum sangat banyak. Jadi, kita tidak lagi mengandalkan biji jagung. Sekarang sudah ada varian varietas sorgum manis. Jadi, cukup diambil dari batangnya untuk menghasilkan nira. Sehingga, bisa meminimalisir pengambilan nira untuk bahan baku etanol dari batang tebu. Selain tebu masa panennya cukup lama, sekitar 9 bulanan, sementara tanaman sorgum sudah bisa dipanen antara 3,5 hingga 4 bulan.

Menteri Pertanian pada Februari 2025 telah melepas bibit sorgum varietas hibrida. Potensi produktivitasnya lebih tinggi seperti jagung hibrida. Kehadiran bibit hibrida ini bisa mendukung penyediaan bahan baku untuk etanol untuk mendukung program energi terbarukan.

750 x 100 PASANG IKLAN

Kedua, dari segi lahan. Sorgum bisa dibudidayakan di lahan marjinal, sehingga tidak berkompetisi dengan tanaman lain. Jadi lahan kering yang tidak bisa ditanam oleh tanaman lain, bisa ditanami sorgum. Lahan kering di Nusa Tenggara Timur (NTT), misalnya, tanaman sorgum di sana tumbuh dengan baik.

Sekjen MAI Maxdeyul Sola saat rapat dengan Senior Vice President (SVP) Research & Technology Innovation PT Pertamina, Oki Muraza, yang saat ini menjabat Wakil Direktur Utama PT Pertamina. Rapat membahas peluang sorgum untuk bioetanol. Foto: dok.pribadi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia berpotensi memiliki  puluhan juta hektar lahan marjinal, yang tidak bisa ditanami komoditas lain.

Supaya tanaman sorgum tidak kompetisi dengan tanaman lain, misalnya dengan jagung, yang ditanam hanya satu kali pada musim hujan di lahan kering. Setelah tidak ada hujan, mau tanam apa? Nah, lahan itu bisa dimanfaatkan untuk menanam sorgum. Teknik menanam pun sederhana, bisa langsung ditunggal, tanpa mengolah tanah. Untuk lahan satu hektar dibutuhkan sekitar 10 kilogram (kg) benih sorgum.

Kendala yang masih dihadapi dalam budidaya sorgum?

Persoalannya adalah produsen benih sorgum saat ini masih dalam skala penangkaran kecil. Ketika dibutuhkan benih dalam jumlah besar, maka masih mengalami kendala. Presiden Jokowi pada tahun 2022 sudah memerintahkan pengembangan tanaman sorgum di lahan seluas 180 ribu hektar, tidak terealisasi. Karena, ketersediaan benihnya tidak mencukupi.

Mengetahui kondisi tersebut, MAI bergerak menjalin kerja sama dengan perusahaan benih dari India yang ada di Indonesia, yaitu PT Advanta Indonesia. Perusahaan ini sudah menjalin kerja sama pengembangan budidaya tanaman sorgum lebih dari 80 negara. Di antaranya dikembangkan di negara-negara Amerika Latin.

Pada tahun 2023 MAI mendorong Advanta untuk melepas varietas baru sorgum di Indonesia. Setelah persiapan selama 3 tahun, baru pada Februari 2025 varietas tersebut dilepas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Ada tiga varietas yang sudah dilepaskan di Indonesia. Varietas pertama untuk meningkatkan produktivitas biji, untuk pemenuhan kebutuhan pakan ayam dan tepung untuk bahan pangan subsitusi yang semula menggunakan gandum. Bahkan, pemberian pakan dari olahan biji sorgum varietas ini bisa meningkatkan protein daging ayam.

Varietas benih sorgum kedua untuk menunjang program swasembada sapi untuk penyediaan daging dan susu. Jadi, cukup diambil batang sorgum untuk diproses menjadi olahan pakan sapi. Dari masa tanam hingga panen waktunya sekitar 2,5 bulan, dan varietas ini hasilnya bisa mencapai di atas 60 ton per hektar. Kita juga sudah pernah uji coba di setiap UPT Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan.

Varietas ketiga untuk penyediaan bahan baku etanol. Varietas ketiga ini memiliki kandungan nira cukup tinggi yang dibutuhkan untuk proses etanol. Persoalannya sekarang, pengembangan tanaman sorgum belum didukung secara besar-besaran oleh pemerintah.

Harapan Anda agar pemerintah maksimal mendukung budidaya sorgum?

Saya berharap pemerintah menaruh perhatian besar terhadap sorgum. Saya sudah keliling ke berbagai daerah. Saya lebih dari 20 tahun menaruh kepedulian terhadap sorgum, persisnya sejak saya menjabat Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan, Kementan.

Sekjen MAI Maxdeyul Sola melakukan pertemuan dengan Sekjen Kementan Ali Jamil dan Advanta membicarakan prospek pengembangan sorgum hibrida untuk pangan, pakan, dan energi. Foto: dok. pribadi.

Masalah yang dihadapi dunia sorgum di Tanah Air bermacam-macam. Misalnya, ketika dibutuhkan suplai benih, namun belum bisa dipenuhi. Kemudian MAI mencoba mencarikan solusi, dengan menjalin konektivitas dengan perusahaan penyedia benih skala besar, yaitu PT Advanta. Perusahaan ini sebagai leading sector penyediaan benih, baik benih sorgum hibrida, selain benih jagung dan benih hortikultura di Indonesia.

Seiring perjalanan, sekarang kita sudah membangun hubungan dengan salah satu investor yang bersedia membudidayakan sorgum dalam skala lebih luas. Investor ini sudah mendirikan perusahaan, namanya PT Hasil Sorgum Kita (HSK).

Pihak HSK sudah keliling ke berbagai daerah untuk ditanami sorgum. Mereka juga sudah menjumpai pihak Kementerian Kehutanan, Perhutani, hingga perusahaan-perusahaan swasta yang mempunyai lahan. HSK membutuhkan lahan seluas 10 ribu hektar untuk pilot project sorgum.

Kementerian Kehutanan menyatakan kesediaan HSK menyiapkan lahan, hanya saja kompensasi penggunaan lahan di Kawasan Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) tersebut dinilai masih tinggi. Nilai yang ditawarkan sekitar 13 juta per hektar. Nilai ini belum termasuk biaya tahunan yang harus dibayarkan pihak pengguna lahan.

Bagi investor, seperti HSK, biaya kompensasi tersebut sangat besar. Sementara perusahaan ini baru akan melakukan pilot project tanaman sorgum. Mereka berharap pemerintah, dalam hal ini Kemenhut bisa lebih fleksibel. Misalnya, nilai yang dipatok tersebut bisa dikurangi, atau bisa dicicil setelah ada hasil yang bisa dipetik dari budidaya sorgum tersebut.

Jika kondisinya seperti ini, saya berpikiran, tidak akan ada investor yang mau mengembangkan sorgum di Indonesia. Karena itu, saya mengusulkan kepada pemerintah, sekiranya budidaya sorgum masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN). Hal ini sejalan dengan program Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo untuk mewujudkan swasembada energi nasional. Khususnya, dari sektor energi terbarukan.

Konsep yang akan dibangun HSK untuk pengembangan budidaya sorgum?

Investor melalui perusahaan HSK sudah menyiapkan semua fasilitas dan sarana untuk pengembangan budidaya sorgum di Indonesia. Bahkan dalam skala besar dengan teknik mekanisasi modern.

Sekjen MAI Maxdeyul Sola saat panen sorgum di Ponorogo. Foto: dok.pribadi.

Selain itu, mereka juga sudah menyiapkan blue print industri hilir terintegrasi dengan hulu. Jadi, selain sudah dirancang industri pengolahan etanol dari biomassa sorgum, juga disiapkan konsep peternakan unggas dan sapi. Persoalannya hanya di lahan saja.

Multiplier effect, perusahaan akan memberdayakan dan memperkerjakan masyarakat di kawasan projet tersebut. Dengan demikian, kehadiran project ini selain mendukung program swasembada energi dan swasembada sapi dan ayam, juga mendongkrak pertumbuhan ekonomi di daerah. (Syarif)

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !