Ada tiga varietas yang sudah dilepaskan di Indonesia. Varietas pertama untuk meningkatkan produktivitas biji, untuk pemenuhan kebutuhan pakan ayam dan tepung untuk bahan pangan subsitusi yang semula menggunakan gandum. Bahkan, pemberian pakan dari olahan biji sorgum varietas ini bisa meningkatkan protein daging ayam.
Varietas benih sorgum kedua untuk menunjang program swasembada sapi untuk penyediaan daging dan susu. Jadi, cukup diambil batang sorgum untuk diproses menjadi olahan pakan sapi. Dari masa tanam hingga panen waktunya sekitar 2,5 bulan, dan varietas ini hasilnya bisa mencapai di atas 60 ton per hektar. Kita juga sudah pernah uji coba di setiap UPT Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan.
Varietas ketiga untuk penyediaan bahan baku etanol. Varietas ketiga ini memiliki kandungan nira cukup tinggi yang dibutuhkan untuk proses etanol. Persoalannya sekarang, pengembangan tanaman sorgum belum didukung secara besar-besaran oleh pemerintah.
Harapan Anda agar pemerintah maksimal mendukung budidaya sorgum?
Saya berharap pemerintah menaruh perhatian besar terhadap sorgum. Saya sudah keliling ke berbagai daerah. Saya lebih dari 20 tahun menaruh kepedulian terhadap sorgum, persisnya sejak saya menjabat Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan, Kementan.

Masalah yang dihadapi dunia sorgum di Tanah Air bermacam-macam. Misalnya, ketika dibutuhkan suplai benih, namun belum bisa dipenuhi. Kemudian MAI mencoba mencarikan solusi, dengan menjalin konektivitas dengan perusahaan penyedia benih skala besar, yaitu PT Advanta. Perusahaan ini sebagai leading sector penyediaan benih, baik benih sorgum hibrida, selain benih jagung dan benih hortikultura di Indonesia.
Seiring perjalanan, sekarang kita sudah membangun hubungan dengan salah satu investor yang bersedia membudidayakan sorgum dalam skala lebih luas. Investor ini sudah mendirikan perusahaan, namanya PT Hasil Sorgum Kita (HSK).
Pihak HSK sudah keliling ke berbagai daerah untuk ditanami sorgum. Mereka juga sudah menjumpai pihak Kementerian Kehutanan, Perhutani, hingga perusahaan-perusahaan swasta yang mempunyai lahan. HSK membutuhkan lahan seluas 10 ribu hektar untuk pilot project sorgum.
Kementerian Kehutanan menyatakan kesediaan HSK menyiapkan lahan, hanya saja kompensasi penggunaan lahan di Kawasan Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) tersebut dinilai masih tinggi. Nilai yang ditawarkan sekitar 13 juta per hektar. Nilai ini belum termasuk biaya tahunan yang harus dibayarkan pihak pengguna lahan.
Bagi investor, seperti HSK, biaya kompensasi tersebut sangat besar. Sementara perusahaan ini baru akan melakukan pilot project tanaman sorgum. Mereka berharap pemerintah, dalam hal ini Kemenhut bisa lebih fleksibel. Misalnya, nilai yang dipatok tersebut bisa dikurangi, atau bisa dicicil setelah ada hasil yang bisa dipetik dari budidaya sorgum tersebut.
Jika kondisinya seperti ini, saya berpikiran, tidak akan ada investor yang mau mengembangkan sorgum di Indonesia. Karena itu, saya mengusulkan kepada pemerintah, sekiranya budidaya sorgum masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN). Hal ini sejalan dengan program Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo untuk mewujudkan swasembada energi nasional. Khususnya, dari sektor energi terbarukan.
Konsep yang akan dibangun HSK untuk pengembangan budidaya sorgum?
Investor melalui perusahaan HSK sudah menyiapkan semua fasilitas dan sarana untuk pengembangan budidaya sorgum di Indonesia. Bahkan dalam skala besar dengan teknik mekanisasi modern.

Selain itu, mereka juga sudah menyiapkan blue print industri hilir terintegrasi dengan hulu. Jadi, selain sudah dirancang industri pengolahan etanol dari biomassa sorgum, juga disiapkan konsep peternakan unggas dan sapi. Persoalannya hanya di lahan saja.
Multiplier effect, perusahaan akan memberdayakan dan memperkerjakan masyarakat di kawasan projet tersebut. Dengan demikian, kehadiran project ini selain mendukung program swasembada energi dan swasembada sapi dan ayam, juga mendongkrak pertumbuhan ekonomi di daerah. (Syarif)