Mengapa pilihannya sorgum untuk bahan baku bioetanol?
Pertama, varietas sorgum sangat banyak. Jadi, kita tidak lagi mengandalkan biji jagung. Sekarang sudah ada varian varietas sorgum manis. Jadi, cukup diambil dari batangnya untuk menghasilkan nira. Sehingga, bisa meminimalisir pengambilan nira untuk bahan baku etanol dari batang tebu. Selain tebu masa panennya cukup lama, sekitar 9 bulanan, sementara tanaman sorgum sudah bisa dipanen antara 3,5 hingga 4 bulan.
Menteri Pertanian pada Februari 2025 telah melepas bibit sorgum varietas hibrida. Potensi produktivitasnya lebih tinggi seperti jagung hibrida. Kehadiran bibit hibrida ini bisa mendukung penyediaan bahan baku untuk etanol untuk mendukung program energi terbarukan.
Kedua, dari segi lahan. Sorgum bisa dibudidayakan di lahan marjinal, sehingga tidak berkompetisi dengan tanaman lain. Jadi lahan kering yang tidak bisa ditanam oleh tanaman lain, bisa ditanami sorgum. Lahan kering di Nusa Tenggara Timur (NTT), misalnya, tanaman sorgum di sana tumbuh dengan baik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia berpotensi memiliki puluhan juta hektar lahan marjinal, yang tidak bisa ditanami komoditas lain.
Supaya tanaman sorgum tidak kompetisi dengan tanaman lain, misalnya dengan jagung, yang ditanam hanya satu kali pada musim hujan di lahan kering. Setelah tidak ada hujan, mau tanam apa? Nah, lahan itu bisa dimanfaatkan untuk menanam sorgum. Teknik menanam pun sederhana, bisa langsung ditunggal, tanpa mengolah tanah. Untuk lahan satu hektar dibutuhkan sekitar 10 kilogram (kg) benih sorgum.
Kendala yang masih dihadapi dalam budidaya sorgum?
Persoalannya adalah produsen benih sorgum saat ini masih dalam skala penangkaran kecil. Ketika dibutuhkan benih dalam jumlah besar, maka masih mengalami kendala. Presiden Jokowi pada tahun 2022 sudah memerintahkan pengembangan tanaman sorgum di lahan seluas 180 ribu hektar, tidak terealisasi. Karena, ketersediaan benihnya tidak mencukupi.
Mengetahui kondisi tersebut, MAI bergerak menjalin kerja sama dengan perusahaan benih dari India yang ada di Indonesia, yaitu PT Advanta Indonesia. Perusahaan ini sudah menjalin kerja sama pengembangan budidaya tanaman sorgum lebih dari 80 negara. Di antaranya dikembangkan di negara-negara Amerika Latin.
Pada tahun 2023 MAI mendorong Advanta untuk melepas varietas baru sorgum di Indonesia. Setelah persiapan selama 3 tahun, baru pada Februari 2025 varietas tersebut dilepas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.