Fakta Tragis
Dalam kesempatan wawancara, CGR juga mengungkapkan fakta tragis yang ditemukannya pada masa akhir penulisan skenario film Ismail Marzuki. Rachmi Aziah mengatakan bahwa pada masa Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, pihak Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM) meminta barang-barang peninggalan Ayahnya yang ada di rumah Rachmi untuk dibawa ke Cikini. Dijanjikan untuk keperluan pendirian Museum Ismail Marzuki. Namun hingga tahun 2017 saat skenario itu selesai dikerjakan dalam draf keenam, museum tersebut tidak pernah ada. Barang-barangnya, menurut Rachmi, hanya diletakkan sembarangan tanpa perawatan.
Tahun itu juga, selain memberikan surat resmi atas hak penulisan skenario Ismail Marzuki kepada CGR, Rachmi secara lisan meminta CGR untuk mengurus berdirinya Museum Ismail Marzuki di TIM.
“Sebelum saya meninggal, saya ingin melihat museum Bapak berdiri. Tolong bicarakan dengan Pak Anies, Bang,” CGR menyampaikan amanah Rachmi.
Namun jangankan membicarakan pendiriannya, untuk melihat barang-barang itu saja CGR tidak diperkenankan oleh pengelola PKJ TIM.
Kendala lain yang dialami oleh CGR terkait keberadaan Ismail Marzuki setelah kematiannya berlanjut ketika ia mengajukan pembuatan film dokumenter Ismail Marzuki pada 2018 kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. Semua langkah yang diikuti dari A hingga Z, ternyata patah pada akhir proses. Dikatakan oleh Rusmantoro selaku penanggung jawab bahwa berkas yang diajukan kurang syarat formalnya. Ini hal sangat mengherankan, karena seharusnya hal tersebut disampaikan saat awal pengajuan.
Tahun berikutnya, CGR bersama tim film Ismail Marzuki bahkan hingga menghadap Kadisparbud Jawa Barat, Ida Hernida, setelah melakukan komunikasi melalui e-mail dan SMS. Kedatangannya untuk mendapat dukungan, mengingat Ismail Marzuki pernah 10 tahun tinggal di Bandung, istrinya orang Bandung, dan menulis enam lagu berlatar Kota Bandung dan Tanah Pasundan. Namun bertempat di Museum Sri Baduga, Ida Hernida mengatakan bahwa ia tidak suka menonton film dan malah membicarakan keberhasilannya selama tiga hari menutup jalan di Kota Bandung untuk acara sepeda gembira.
Rachmi menyatakan bahwa dirinya sangat gembira dan berterima kasih atas langkah tim film yang terdiri dari Enison Sinaro, CGR, dan Laora Arkeman, untuk mengangkat kisah perjalanan hidup Ayahandanya.
“Ini merupakan penghargaan tak terhingga kepada Pak Ismail Marzuki yang telah berkarya untuk negeri ini melalui lagu. Ketekunan Bang CGR melakukan riset-riset, membuat skenario ini punya kekuatan. Semoga film dan buku Ismail Marzuki: Nada,Cinta, Bangsa mendapat sambutan yang baik dari masyarakat,” tutur Rachmi pada Rabu, 5 Juli 2017, di rumahnya di Depok, Jawa Barat. Rachmi meninggal dunia pada Minggu, 11 Mei 2025.
Di tengah maraknya persoalan nasionalisme, patriotisme, keutuhan NKRI, dan demi menghormati jejak karya Ismail Marzuki, tentunya kisah hidup Sang Pahlawan Nasional sangat diperlukan. Namun apa dinyana, Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN)–kini PFN– yang sudah menyatakan kesediaan untuk memproduksi, hingga 2026 ini belum juga bergerak dengan alasan ketiadaan dana.
Enison Sinaro sutradara dan pengajar senior di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), mengaku pada 1995 ada rencana serupa yang melibatkan Mira Lesmana (produser), Fariz RM (penata musik), Sekjar Ayu Asmara (pemnulis skenario), dan dirinya sebagai sutradara. Namun hal itu tidak terlaksana karena Sekar tidak menemukan bahan yang memadai untuk penulisan naskah.
Iwan Piliang dari PPFN mengakui bahwa naskah yang ditulis oleh CGR sudah merupakan naskah matang dan tinggal diproduksi. Dalam skenario tersebut, CGR menampilkan kehidupan sang komponis pejuang melingkupi kelahiran, perjalanan kehidupan asmara, penciptaan lagu dan karir bermusik, nasionalisme sebagai seorang seniman, hingga kematiannya yang indah, dengan dihiasi lagu-lagu karyanya–seakan Ismail Marzuki tahu bahwa kisah hidupnya akan difilmkan dengan bertabur lagu-lagu tersebut. (Rif)