Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Jakarta,corebusiness.co.id-Uni Eropa (UE) sedang berpikir keras dalam menghadapi banjirnya produk kendaraan listrik (electric vehicle/EV) buatan Tiongkok. Mulai dari menerapkan tarif tambahan terhadap produk EV, membatasi kuota impor model hybrid, hingga menciptakan EV model klasik.
Saat produsen EV Tiongkok menantang industri otomotif Eropa dengan mobil yang lebih murah dan teknologi yang semakin canggih, produsen mobil mapan melawan balik dengan satu aset yang tidak dimiliki pesaing mereka: sejarah.
Produsen mobil Eropa semakin banyak menghidupkan kembali model-model klasik dari dekade-dekade sebelumnya, mulai dari Renault 5 hingga Citroen 2CV, dengan bertaruh bahwa nostalgia dapat membantu mereka menonjol dari gelombang pesaing Tiongkok yang semakin meningkat dan memenangkan hati pembeli kendaraan listrik.
Taruhannya sangat tinggi. Permintaan EV telah melonjak di Eropa seiring dengan kenaikan harga bahan bakar, tetapi produsen Tiongkok termasuk BYD dan Geely sudah memiliki hampir 11 persen pangsa pasar Eropa pada kuartal kedua, menurut Schmidt Automotive Research, dengan model yang seringkali lebih murah dan menawarkan teknologi yang lebih canggih daripada merek mobil EV Eropa.
Sementara produsen mobil Eropa berlomba untuk memangkas biaya dan mempersempit kesenjangan teknologi, warisan muncul sebagai salah satu dari sedikit keunggulan yang tidak dapat dengan mudah ditiru oleh pendatang baru di Tiongkok.
Strategi tersebut telah membuahkan hasil bagi Renault Prancis. Versi baru dari Renault 5, yang pertama kali diluncurkan pada tahun 1972, adalah EV ukuran menengah terlaris di Eropa sejauh tahun ini. Penjualan Renault 5 membantu meningkatkan pendapatan paruh pertama grup sebesar 9 persen.
Stellantis meluncurkan versi listrik dari Citroen 2CV ikonik, yang diproduksi dari tahun 1948 hingga 1990, di Pameran Otomotif Paris minggu ini. Sementara Polo listrik Volkswagen banyak mengambil inspirasi dari era keemasan Golf tahun 1980-an
“Kami ingin membedakan diri dan juga membangkitkan respons emosional tertentu,” kata Kepala Desain Renault Group, Laurens van den Acker mengutip Reuters, Rabu (14/10/2026).
Stellantis berharap meraih kesuksesan serupa dengan 2CV listrik baru, yang menargetkan penggemar berat mobil kompak sekaligus menarik bagi khalayak yang lebih luas yang mencari EV terjangkau.
Menambah Sedikit Nilai Kendaraan
Bagi sebagian pembeli, strategi ini tampaknya berhasil. Chris Litchfield, 51 tahun, warga Inggris, membeli mobil listrik untuk pertama kalinya pada Mei setelah tumbuh besar dengan Renault 5 dan memilih versi listrik berwarna kuning dari mobil tersebut.
“Keinginan untuk memiliki Renault 5 baru jauh lebih besar daripada keraguan saya tentang memiliki mobil listrik. Alasan utama saya menyukainya adalah karena ini adalah Renault 5. Ini adalah penafsiran ulang yang benar-benar segar dan modern,” ucap Chris kepada Reuters.
Volkswagen ID. Polo, bagian dari serangkaian kendaraan listrik terjangkau yang dirancang untuk menangkis saingan dari Tiongkok, telah memicu respons serupa. Kendaraan dirancang dengan dasbor retro opsional yang meniru speedometer klasik dari Golf generasi awal dan memutar musik pada kaset virtual.
“Kami hanya bermaksud itu sebagai lelucon, tetapi orang-orang menyukainya,” ujar Kepala Desainer Volkswagen, Andreas Mindt, tentang fitur opsional tersebut.
“Patut dicatat bahwa kita melihat hal semacam ini yang bernuansa retro pada EV kecil yang terjangkau di Eropa. Karena di situlah tekanan harga dari merek-merek Tiongkok akan paling kuat,” kata Ahli Strategi Desain Senior di Car Design Rarch, Robert Dooley.
Menurutnya, dengan margin rendah untuk mobil kecil, strategi ini untuk menambah sedikit nilai akan diterima dengan baik.
Mengandalkan Sejarah, Memiliki Batas
Namun, menurut Kepala Desain Renault Group Laurens van den Acker, strategi ini memiliki batas. Meskipun kembali ke gaya retro berpotensi di Eropa, di mana keluarga sering kali tetap setia pada model dan desain tertentu selama beberapa generasi, hal itu mungkin tidak akan berhasil di tempat lain, atau selamanya.
“Ikon tidak abadi, mereka memiliki momen kejayaannya,” katanya, menambahkan bahwa produsen mobil perlu mengidentifikasi peluang yang tepat karena ikon suatu generasi dapat digantikan oleh ikon generasi lainnya.
Beberapa upaya sebelumnya memiliki keberhasilan yang terbatas. Minat awal yang kuat pada mikrobus listrik ID. Buzz milik Volkswagen di awal dekade ini memudar karena konsumen AS keberatan dengan harga dan jarak tempuhnya.
Beetle, desain klasik abad ke-20 yang melampaui asal-usulnya di era Nazi melalui budaya tandingan tahun 1960-an, tidak pernah masuk ke era kendaraan listrik. Volkswagen menghentikannya pada tahun 2019 karena selera konsumen bergeser ke arah SUV.
“Kita tidak boleh berpuas diri dengan sejarah kita.Kita harus unggul dalam teknologi yang kita butuhkan untuk masa depan,” kata Mindt dari Volkswagen, seraya menekankan pentingnya fitur-fitur seperti pengisian daya cepat dan pengemudian otonom.
Tarif Tambahan EV Tiongkok
Masing-masing produsen EV di Eropa sedang berpikir keras supaya produk-produknya diterima konsumen. Selain bersaing dengan produk EV lokal, mereka juga menghadapi persaingan dengan produk-produk EV Tiongkok yang membanjiri pasar Eropa.
Pada tahun 2024, Uni Eropa (UE) telah memberlakukan tarif tambahan pada EV buatan Tiongkok setelah penyelidikan menunjukkan bahwa subsidi dari Pemerintah Tiongkok memberi keuntungan yang tidak adil bagi produsen negara tersebut dan merugikan industri otomotif Eropa.
Tarif baru ini menjadi kontroversial dan menuai keberatan dari beberapa negara, terutama Jerman dan Hungaria, yang khawatir kebijakan ini dapat memicu perang dagang dengan Tiongkok.
Mengutip AFP, Komisaris Perdagangan UE Valdis Dombrovskis menyatakan bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk memastikan adanya persaingan yang adil di pasar otomotif.
“Kami menyambut kompetisi, termasuk di sektor kendaraan listrik, tetapi harus didasari oleh prinsip keadilan dan persaingan yang seimbang,” ujar Dombrovskis.
Penyelidikan UE menemukan bahwa subsidi besar-besaran yang diberikan oleh Pemerintah Tiongkok kepada perusahaan mobil listriknya membuat harga mereka jauh lebih murah dibandingkan dengan produksi di Eropa.
Tarif tambahan yang diberlakukan mulai Rabu,30 Oktober 2024, akan berlaku selama lima tahun ke depan dan mengharuskan semua mobil listrik buatan Tiongkok, termasuk yang diproduksi oleh perusahaan asing seperti Tesla, membayar tarif tambahan yang bervariasi.
Geely, perusahaan otomotif besar Tiongkok, terkena tarif tambahan sebesar 18,8 persen, sementara SAIC menghadapi tarif tertinggi sebesar 35,3 persen.
Namun, keputusan ini tidak sepenuhnya didukung oleh mayoritas negara anggota UE. Walau ada oposisi dari negara-negara seperti Jerman, suara tersebut tidak cukup untuk menggagalkan kebijakan ini.
Presiden Asosiasi Industri Otomotif Jerman (VDA) Hildegard Mueller, memperingatkan bahwa langkah ini dapat berdampak negatif pada perdagangan bebas global dan pertumbuhan di Eropa.
Volkswagen, yang sedang menghadapi kompetisi ketat dari produsen Tiongkok, ketika itu menilai tarif tambahan ini tidak akan meningkatkan daya saing industri otomotif Eropa dan malah bisa mengganggu kestabilan ekonomi.
Produsen EV Tiongkok tak kehabisan akal. Pascapenerapan tarif tambahan tersebut, mereka ekspansi memproduksi model hybrid— yang dikecualikan dari bea tambahan tersebut.
Hasilnya, ekspor mobil hybrid Beijing ke 27 negara anggota UE meningkat tiga kali lipat menjadi US$ 7,5 miliar pada paruh pertama tahun 2026 dibandingkan tahun 2025 sebesar US$ 2,5 miliar, menurut data Bea Cukai Tiongkok. Angka tersebut hampir sembilan kali lipat dari US$ 845 juta yang diekspor sepanjang tahun 2021.
Mobil hybrid masih menggunakan bahan bakar bensin sebagai sistem penggerak, namun jenis mobil ini dilengkapi sistem baterai yang otomatis terisi saat mobil berjalan.
Menyadari pasar Eropa dibanjiri mobil hybrid, UE kembali membuat strategi. UE kemudian membuat kebijakan pembatasan kuota impor hybrid dari Tiongkok.
Tiongkok merespons kebijakan baru UE. Pemerintah Tiongkok menyatakan penolakan terhadap penerapan ketentuan tersebut.
UE dan Tiongkok kemudian membuat kesepakatan. Ketika berlangsung kesepakatan awal, CarnewsChina, pada Minggu, melaporkan kesepakatan tersebut diharapkan meredakan ketegangan perdagangan otomotif sekaligus mengurangi risiko pengenaan tarif tambahan terhadap kendaraan asal Tiongkok yang masuk ke pasar Eropa.
kesepahaman tersebut diumumkan setelah pertemuan kedua mekanisme konsultasi perdagangan dan investasi Tiongkok-UE.
Meski demikian, kedua pihak belum mengungkapkan secara terperinci mekanisme pelaksanaan maupun ketentuan pembatasan ekspor yang akan diterapkan. (Rif).