AKTIVITAS eksploitasi dan pengangkutan bijih nikel (hauling) PT Vale Indonesia Tbk kembali berjalan normal, seiring Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 Perseroan resmi disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) pada Kamis, 15 Januari 2026.
Perseroan menegaskan kembali kepastian operasional perusahaan dan kelanjutan investasi jangka panjang PT Vale sebagai bagian dari ekosistem nikel nasional Indonesia dan rantai pasok global.
Saat ini perusahaan pertambangan terintegrasi dan anggota holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID), fokus untuk mengembalikan seluruh kegiatan operasional dan konstruksi di Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi, sehingga dapat berjalan secara optimal guna mengejar ketertinggalan akibat penghentian sementara yang sebelumnya dilakukan.
PT Vale beroperasi di bawah Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang berlaku hingga 28 Desember 2035, mencakup area konsesi seluas 118.017 hektare meliputi Sulawesi Selatan 70.566 hektare, Sulawesi Tengah 22.699 hektare, dan Sulawesi Tenggara 24.752 hektare.
Tak sekadar memacu produksi mineral, PT Vale juga menerapkan praktik pertambangan hijau (green mining) untuk memastikan keseimbangan antara aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial.
“Praktik green mining mencakup pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, efisiensi energi, pengurangan emisi, reklamasi pascatambang, perlindungan keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan masyarakat sekitar tambang,” jelas Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO) PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto.
Lebih dari itu, kata Bernardus, limbah hasil pengolahan (slag) smelter diolah kembali menjadi material pendukung infrastruktur dan konstruksi. Menurutnya, inovasi ini menjadi bagian dari komitmen Perseroan dalam mengurangi limbah dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya.
“Tujuannya adalah memastikan sumber daya mineral dapat memberikan manfaat jangka panjang secara berkelanjutan,” ucap pria yang menyelesaikan program global executive MBA dari University of California Los Angeles (UCLA)–Anderson School of Management National University of Singapore (NUS) di tahun 2016.
Ingin mengetahui lebih jauh kegiatan operasional PT Vale setelah RKAB tahun 2026 disetujui KESDM, corebusiness.co.id mewawancarai Bernardus, yang efektif menjabat Presiden Direktur dan CEO mulai 28 Juli 2025 berdasarkan ketetapan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Ketiga PT Vale Indonesia Tbk.
Berikut petikan wawancaranya:
Berapa rata-rata produksi bijih nikel tahunan PT Vale Indonesia antara tahun 2024, 2025, dan target 2026?
Pada 2024 dan 2025, PT Vale Indonesia tetap mempertahankan fokus operasional pada produksi nickel matte dari fasilitas pengolahan di Sorowako. Produksi nickel matte Perseroan tercatat sebesar sekitar 71 ribu ton pada 2024 dan meningkat menjadi sekitar 72 ribu ton pada 2025.
Selain itu, pada 2025 PT Vale Indonesia juga mulai memperluas portofolio bisnis melalui penjualan bijih nikel saprolit dari proyek pengembangan di Bahodopi dan Pomalaa.
Untuk target produksi tahun 2026, di angka 67 ribu ton, Perseroan masih mengacu pada RKAB dan rencana operasional yang sedang difinalisasi bersama regulator terkait.
Produksi bijih nikel kadar tinggi (saprolit) dan kadar rendah (limonit) dalam kurun 2024, 2025, dan target tahun 2026?
Pada 2025, PT Vale mulai melakukan penjualan bijih nikel saprolit dengan volume sekitar 2,3 juta wet metric ton (wmt). Produksi limonit saat ini sebagian besar masih dipersiapkan untuk mendukung pengembangan proyek hilirisasi berbasis teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) HPAL di masa mendatang.
Ke depan, baik saprolit maupun limonit akan menjadi bagian penting dalam strategi hilirisasi PT Vale, khususnya untuk mendukung rantai pasok kendaraan listrik dan industri baterai global. Sementara untuk target detail 2026, Perseroan masih menyesuaikan dengan RKAB dan tahapan commissioning proyek-proyek pengembangan.
Sebagai perusahaan pertambangan nikel terintegrasi hulu-hilir, bisa diuraikan proyek smelter yang telah beroperasi saat ini?
Saat ini, fasilitas pengolahan yang telah beroperasi adalah smelter pirometalurgi di Sorowako, Sulawesi Selatan, yang memproduksi nickel matte. Fasilitas ini telah beroperasi selama puluhan tahun dan menjadi salah satu operasi pengolahan nikel terintegrasi terbesar di Indonesia.
Operasi tersebut juga didukung oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) milik Perseroan, sehingga menghasilkan intensitas emisi karbon yang relatif lebih rendah dibanding operasi berbasis batu bara.
Rata-rata kebutuhan saprolit untuk diolah di smelter?
Bijih nikel saprolit merupakan bahan baku utama untuk produksi nickel matte di fasilitas Sorowako. Kebutuhan bijih sangat bergantung pada kadar nikel, recovery proses, serta rencana produksi tahunan.
Rata-rata produksi nickel matte PT Vale dalam beberapa tahun terakhir berada pada kisaran 70–72 ribu ton per tahun, dengan realisasi sekitar 71 ribu ton pada 2024, dan sekitar 72 ribu ton pada 2025.
Pemasaran nickel matte PT Vale?
Produk nickel matte PT Vale Indonesia dipasarkan melalui kontrak jangka panjang kepada mitra strategis global Perseroan, termasuk Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd.
Melalui skema tersebut, produk PT Vale menjadi bagian dari rantai pasok global untuk industri stainless steel maupun kendaraan listrik. Untuk pasar internasional, rantai distribusi utama terkait dengan pasar Jepang dan Kanada.
Lalu, bagaimana perkembangan tiga proyek smelter hidrometalurgi dengan teknologi HPAL?
PT Vale saat ini mengembangkan tiga proyek HPAL di Indonesia, yaitu di Pomalaa, Morowali/Bahodopi, dan Sorowako. Ketiga proyek tersebut ditujukan untuk mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yaitu produk antara yang menjadi bahan baku penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Beberapa proyek telah memasuki tahap konstruksi dan pengembangan infrastruktur utama, sejalan dengan strategi hilirisasi nasional dan penguatan posisi Indonesia dalam ekosistem electric vehicle (EV) global.
Untuk proyek Pomalaa, diproyeksikan memiliki kapasitas produksi sekitar 120 ribu ton MHP per tahun, sementara proyek Morowali dan Sorowako masing-masing sekitar 60 ribu ton MHP per tahun. Kapasitas tersebut akan berkembang secara bertahap sesuai fase pembangunan dan commissioning masing-masing proyek.
Indonesia menargetkan Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Bagaimana PT Vale mendukung target pemerintah ini?
PT Vale mendukung target NZE Indonesia melalui penerapan good mining practices (GMP) dan prinsip environmental, social, and governance (ESG) secara menyeluruh di seluruh rantai operasional.
Perseroan memanfaatkan energi terbarukan berbasis PLTA untuk mendukung operasi di Sorowako, melakukan reklamasi progresif, pengelolaan biodiversitas, efisiensi energi dan air, serta pengembangan proyek hilirisasi rendah karbon.
Komitmen tersebut merupakan bagian dari upaya PT Vale untuk menghadirkan “responsibly produced nickel” yang dapat mendukung transisi energi global secara berkelanjutan.
Menurut Anda terkait makna pertambangan hijau bagi PT Vale?
Bagi PT Vale, pertambangan hijau atau green mining adalah praktik pertambangan yang tidak hanya berfokus pada produksi mineral, tetapi juga memastikan keseimbangan antara aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. Hal ini mencakup pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, efisiensi energi, pengurangan emisi, reklamasi pascatambang, perlindungan keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan masyarakat sekitar tambang.
Tujuannya adalah memastikan sumber daya mineral dapat memberikan manfaat jangka panjang secara berkelanjutan.
Limbah dari sisa hasil pengolahan smelter sangat riskan menimbulkan pencemaran lingkungan. Bagaimana PT Vale memanfaatkan slag ini?
PT Vale terus mendorong inovasi pemanfaatan slag hasil pengolahan smelter agar memiliki nilai tambah dan mendukung prinsip ekonomi sirkular. Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai material pendukung infrastruktur dan konstruksi, setelah melalui proses pengujian dan evaluasi teknis sesuai standar yang berlaku.
Pendekatan ini menjadi bagian dari komitmen Perseroan dalam mengurangi limbah dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya.
Dari proses daur ulang slag, dijadikan produk apa saja?
Slag hasil pengolahan smelter diproses lebih lanjut melalui tahapan pengolahan dan pengujian teknis agar dapat dimanfaatkan secara aman dan bernilai guna. Produk turunannya dapat digunakan sebagai material konstruksi dan infrastruktur tertentu, sesuai dengan karakteristik teknis dan ketentuan regulasi yang berlaku.
PT Vale juga terus mengeksplorasi inovasi pemanfaatan slag sebagai bagian dari pengembangan praktik pertambangan berkelanjutan.
Pertanyaan penutup, bisa Anda jabarkan big dream PT Vale Indonesia?
Big dream PT Vale Indonesia adalah menjadi perusahaan nikel terintegrasi kelas dunia yang berkontribusi dalam transformasi energi global melalui produksi nikel rendah karbon yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Sejalan dengan tujuan perusahaan, yaitu “We exist to improve life and transform the future Together,” PT Vale Indonesia ingin memastikan bahwa kehadiran industri pertambangan tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat, menjaga lingkungan, serta menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi Indonesia dan dunia.
Melalui praktik pertambangan yang bertanggung jawab, hilirisasi, pengembangan ekosistem kendaraan listrik, dan penerapan ESG secara konsisten, PT Vale Indonesia berupaya menjadi bagian penting dari transformasi menuju masa depan yang lebih hijau dan inklusif. (Syarif)