Bagi kalangan eksportir, kata dia, di tengah pelemahan rupiah saat ini tidak ada yang sedih. Mereka justru senang. Yang tidak senang adalah mereka yang tidak memiliki valas.
Piter Abdulah menyampaikan ketidaksetujuan dengan adanya pendapat bahwa rupiah bisa anjlok hingga di angka Rp 20.000. Ia menguraikan, berdasarkan data empiris, pelemahan rupiah secara historis terjadi pada April, Mei, dan Juni. Pada bulan-bulan ini rupiah cenderung melemah. Karena pada periode ini perusahaan asing sedang membagi dividen dari keuntungan yang diperoleh perusahaan.
“Dalam neraca pembayaran disebut namanya neraca pembayaran primer. Ketika perusahaan-perusahaan asing membagi dividen, keuntungan itu mereka tarik dan dibawa pulang ke negaranya. Ketika dia menarik keuntungan, dia pasti butuh dolar, sehingga permintaan dolar pun melonjak tinggi,” paparnya.
Pada periode itu, masih menurut Piter Abdullah, demand dolar naik, maka otomatif kurs dolar naik, sementara rupiah melemah.
“Tapi, kondisi ini tidak terjadi terus menerus, biasanya pada Juli, Agustus, September, dan seterusnya permintaan dolar mulai kembali normal, umumnya rupiah kembali menguat. Siklusnya seperti itu,” imbuh anggota Badan Supervisi Bank Indonesia.
Meski demikian, dia tidak menafikan rupiah anjlok hingga menembus angka Rp20.000, jika pemerintah membuat kebijakan blunder. Namun, menurutnya, pemerintah cukup paham dengan situasi seperti ini, dan tidak ingin pelemahan rupiah terus berlanjut.
Ia menekankan, terpenting di tengah kondisi melemahnya rupiah saat ini, pemerintah secara konsisten menjaga kepercayaan pasar (market confidence) dan stabilitas nilai tukar rupiah. (Rif)