Jakarta,corebusiness.co.id-Pakar Ekonomi Piter Abdullah berpandangan, pelemahan nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar AS (USD) tidak melulu memunculkan sentimen negatif, namun ada dampak positif, karena penerimaan negara ikut terkerek naik.
Nilai tukar rupiah terus merosot terhadap dolar AS pada Selasa, 11 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.704 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 36 poin atau setara 0,20 persen dari Rp17.667 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.661 per USD. Rupiah masih bergerak melemah dari Rp17.491 per USD pada pembukaan perdagangan kemarin. Sementara berdasarkan JISDOR Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp17.666.
“Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini di atas asumsi APBN 2026, yang ditetapkan berada di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.500 per dolar AS. Namun, proyeksi rata-rata nilai tukar rupiah itu untuk kurun waktu sepanjang tahun 2026. Jadi, kita melihatnya jangan dibandingkan dengan level saat ini,” kata Piter Abdullah ketika dihubungi corebusiness.co.id, Selasa, 19 Mei 2026.
Piter Abdullah menjelaskan, tujuan dibuatnya asumsi rata-rata nilai tukar rupiah supaya dalam penyusunan APBN bisa ditetapkan penerimaan dan pengeluaran negara. Menurutnya, jika nilai tukar rupiah saat ini berada di atas asumsi APBN, maka pemerintah tidak melanggar undang-undang.
Ia mengutarakan, satu sisi konsekuensi rupiah di atas asumsi APBN adalah belaja pemerintah menjadi lebih besar, dibandingkan yang telah disusun dalam APBN 2026. Di sisi lain, penerimaan negara juga menjadi lebih besar, karena harga-harga komoditi seperti dari sektor pertambangan dan perkebunan naik. Misalnya saat ini harga batu bara, nikel, minyak dan gas bumi, serta CPO naik.
“Jadi, pelemahan rupiah tidak sekadar berdampak negatif, tapi ada juga dampak positif. Karena, penerimaan negara dalam bentuk rupiah menjadi lebih besar. Kenaikan itu baik disebabkan naiknya harga komoditas maupun dari sisi valasnya,” ucap Ekonom Senior Prasasti Center for Policy Studies.
Bagi kalangan eksportir, kata dia, di tengah pelemahan rupiah saat ini tidak ada yang sedih. Mereka justru senang. Yang tidak senang adalah mereka yang tidak memiliki valas.
Piter Abdulah menyampaikan ketidaksetujuan dengan adanya pendapat bahwa rupiah bisa anjlok hingga di angka Rp 20.000. Ia menguraikan, berdasarkan data empiris, pelemahan rupiah secara historis terjadi pada April, Mei, dan Juni. Pada bulan-bulan ini rupiah cenderung melemah. Karena pada periode ini perusahaan asing sedang membagi dividen dari keuntungan yang diperoleh perusahaan.
“Dalam neraca pembayaran disebut namanya neraca pembayaran primer. Ketika perusahaan-perusahaan asing membagi dividen, keuntungan itu mereka tarik dan dibawa pulang ke negaranya. Ketika dia menarik keuntungan, dia pasti butuh dolar, sehingga permintaan dolar pun melonjak tinggi,” paparnya.
Pada periode itu, masih menurut Piter Abdullah, demand dolar naik, maka otomatif kurs dolar naik, sementara rupiah melemah.
“Tapi, kondisi ini tidak terjadi terus menerus, biasanya pada Juli, Agustus, September, dan seterusnya permintaan dolar mulai kembali normal, umumnya rupiah kembali menguat. Siklusnya seperti itu,” imbuh anggota Badan Supervisi Bank Indonesia.
Meski demikian, dia tidak menafikan rupiah anjlok hingga menembus angka Rp20.000, jika pemerintah membuat kebijakan blunder. Namun, menurutnya, pemerintah cukup paham dengan situasi seperti ini, dan tidak ingin pelemahan rupiah terus berlanjut.
Ia menekankan, terpenting di tengah kondisi melemahnya rupiah saat ini, pemerintah secara konsisten menjaga kepercayaan pasar (market confidence) dan stabilitas nilai tukar rupiah. (Rif)